
Leo tak henti-hentinya mengucap syukur alhamdulilah kepada Allah SWT atas berkah kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT dengan lebih dekat bersama sang istri pujaan hatinya.
"Aku berjanji tidak akan pernah membuat hatimu kembali terluka seperti dahulu kala, mas akan melakukan segala sesuatu hal agar kamu bahagia," Leo menatap sesekali ke arah istrinya itu.
Keduanya berencana akan pulang ke rumahnya Leo dimana ibunya Leo berada bersama dengan anak angkatnya sekaligus anak sambungnya Adicandra Bima Satria dan Bu Marsita.
Kabir Kasyafani Sanders hari ini berencana untuk mengajak Senja bertemu sambil meluruskan beberapa kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka selama ini.
Kabir segera menghubungi nomor ponselnya Senja sebelum mereka bertemu. Kabir berharap semoga saja Senja tidak menolak ajakannya.
Kabir duduk dibalik kemudi mobilnya sambil mendekatkan wajahnya ke hpnya itu. Ia bersabar menunggu Senja mengangkat telponnya itu.
Hingga kesekian kalinya nada dering telepon seluler Senja yang tergeletak di atas meja nakas kamarnya itu bergetar sekaligus berbunyi. Senja yang sedang melaksanakan shalat dzuhur segera menghentikan kegiatannya itu karena mendengar suara hpnya yang tidak berhenti berbunyi.
"Pak Kabir," beonya Senja.
Senja tanpa membuka mukenanya terlebih dahulu kemudian menekan tombol power hijau di layar benda pipih yang sudah dipegangnya.
"Pasti Pak Kabir akan marah-marah jika saya sudah terlambat mengangkat telponnya," gumam Senja sebelum mengangkat telponnya.
Sedangkan Kabir harap-harap cemas apakah dia akan berhasil mengajak calon istrinya itu yang tersisa tiga hari lagi mereka akan menikah.
"Assalamualaikum," sapanya Senja dibalik telponnya itu.
"Waalaikum salam, kamu lagi pain?" Tanyanya Kabir yang sekedar berbasa-basi saja.
"Maaf Pak tadi saya shalat makanya agak lambat angkat telponnya," jelasnya Senja yang takut kena marah dari tunangannya itu.
"Tidak apa-apa kok, saya hanya mengajak kamu keluar, apa kamu setuju dengan ajakan saya?" Tanyanya Kabir dengan penuh harap.
Senja berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari calon suaminya itu.
__ADS_1
"Hem, sepertinya untuk kali ini saya nggak bisa Pak Kabir karena katanya Mama kalau dalam masa pingitan calon pengantin tidak boleh bertemu sampai hari hnya sebelum menikah resmi menjadi suami istri," tukasnya Senja.
Raut wajah kecewa dari Kabir begitu terlihat jelas padahal dia sangat merindukan mahasiswi didikannya itu, "Kalau begitu, kamu bisa gak kau aktifkan video call hpmu saya ingin melihat kamu," pintanya Kabir yang sudah mengalihkan panggilan teleponnya dari biasa menjadi vc.
Senja mengerutkan keningnya karena entah kenapa permintaan dari Kabir sungguh membuatnya keheranan. Tapi, karena Senja tipikal perempuan penurut, jika berhadapan dengan Kabir sehingga Kabir merasa tidak pernah kerepotan atau pun berdebat dengan Senja terlebih dahulu.
Senja membuang nafasnya dengan cukup keras karena entah kenapa Senja merasa seperti anak abg saja yang telponan dengan video call langsung. Senja pun menekan layar ponselnya itu sesuai dengan permintaannya Kabir.
Kabir melihat wajahnya Senja yang memakai mukenah putih bermotif bunga sakura. Sungguh cantik alami dan ayu dimatanya Kabir.
"Masya Allah sungguh cantiknya," cicitnya Kabir yang perkataan pujiannya lolos begitu saja dari bibirnya.
Senja yang mendengar langsung pujian dari Kabir tersipu malu hingga kedua sisi pipinya merona malu. Ia baru kali ini mendengar perkataan pujian dari Kabir biasanya akan menghina ataupun mencibirnya walau sebenarnya dalam hatinya tidak seperti yang sering diucapkannya.
"Maaf Pak Kabir tadi sepertinya mengatakan sesuatu, kalau boleh tahu ngomong apa yah Pak?" Tanyanya Senja yang hanya ingin memastikan bahwa apa yang dikatakannya itu benar adanya.
Kabir yang mendengar perkataan dari Senja langsung menyanggah pernyataan dari Senja langsung.
"Tidak apa-apa kok,kamu sepertinya salah dengar saja, aku sama sekali tidak berbicara," kilahnya Kabir yang sangat malu jika mengakui apa yang barusan dikatakannya.
"Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, Tapi aku pikir kamu sangat sibuk sehingga aku urungkan saja niat itu lagian entar mama dan nenek marah kalau kita bertemu kamu kan dipingit," ungkapnya Kabir yang sedikit menjauhkan layar ponselnya dari hadapannya.
Senja tersenyum malu-malu ketika mereka berdua saling bertatapan satu sama lainnya melalui layar ponselnya masing-masing. Keduanya seperti dua pasangan sejoli yang dinikahkan karena perjodohan yang awalnya belum pernah saling bertemu atau pun berjumpa sekalipun.
Senja memegangi dadanya ketika tanpa sengaja kedua mata mereka saling bersirobot. Kabir pun menjadi salah tingkah karena ia sungguh melihat Senja begitu cantik padahal hanya memakai mukenah saja tanpa make-up apapun.
"Entah kenapa setiap saat setiap detik aku semakin mencintaimu Senja Starla Airen Zain," gumamnya Kabir.
"Ya Allah… kenapa dengan dadaku tiba-tiba berdebar sangat kencang apa yang terjadi padaku sekarang?" Senja diam-diam menyentuh dadanya itu.
Hingga suara ketukan pintu dilamarnya mengusik kekaguman keduanya itu. Senja segera memutuskan kontak mata dengan calon suaminya itu sekaligus dosennya di kampus.
__ADS_1
"Senja! Apa kamu ada di dalam Nak?" Teriaknya Bu Aisyah tantenya Senja.
Kabir mencegah Senja untuk bersuara," Senja please untuk sementara saja aku ingin melihat wajahmu seperti ini, tidak perlu kamu gubris teriakannya orang lain," cegahnya Kabir yang melihat Senja hendak ingin menjawab teriakannya dari istri pamannya tersebut.
"Tapi Pak kasihan dengan Tante Aisyah mungkin ada yang penting ingin disampaikan mungkin," sanggahan Senja.
"Kalau capek beliau juga pasti akan pergi, anggap saja kamu sedang istirahat siang jadi kamu nggak menjawab pertanyaan dari Bu Aisyah," ucapnya Kabir.
Senja kembali menurut tanpa berniat untuk menentang ataupun melawan perkataannya Kabir. Berselang beberapa detik kemudian, sudah tidak ada suara teriakan ataupun ketukan pintu dari arah luar.
"Itukan bibi pasti sudah pergi karena menganggap kamu sedang tertidur pulas," ujarnya Kabir sambil menyandarkan kepalanya ke headboard jok belakang mobilnya sebelumnya menaruh hpnya ke tempat khusus agar tidak perlu repot-repot memegangi terus gawainya sambil menelpon.
"Ngomong-ngomong bapak sudah shalat dzuhur dan santap siang?" Tanyanya Senja yang masih malu-malu karena terlalu sering diperhatikan secara langsung dan seksama oleh Kabir.
Senja kemudian berjalan ke arah luar tepatnya di balkon kamarnya itu. Senja membuka tirai gorden jendela kamarnya sambil menghirup udara segar yang masuk ke dalam kamarnya.
Senja berjalan ke arah pot bunganya yang berisi beberapa macam dan jenis bunga mawar. Mulai dari merah, kuning, pink hingga putih berjejer di tempat bunganya dengan cantik.
Kabir memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Senja melalui layar ponselnya. Hingga ucapannya Kabir yang meluncur begitu saja membuat Senja cukup terkejut.
"Bunga mawar meskipun cantik, tapi tidak memikat hatiku, karena kamu lebih indah, lebih cantik dan menggoda dari bunga rose," ucapnya Kabir yang ucapannya lolos begitu saja tanpa terkontrol ataupun terencana untuk memuji kecantikan alami yang dimiliki oleh wanitanya.
Wajahnya Senja langsung blushing dengan kedua pipinya itu memerah merona saking terkejutnya mendengar segala macam pujian yang dilayangkan oleh Kabir.
Senja reflek menundukkan kepalanya mendengar perkataannya Kabir yang barusan kali ini bersikap romantis.
Fania putuskan akhir bulan pengumuman yang akan mendapatkan give away untuk tiga novel aku yah:
Satu atap dua hati
Pamanmu adalah jodohku
__ADS_1
Belum berakhir
setiap novel ada beberapa pembaca setia akan terpilih. khusus untuk reader yang paling rajin baca, like, komentar.