Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 54. Keputusan Final


__ADS_3

"Alia untuk melupakan kenangan terpahit ataupun manis dalam hidup setiap insan manusia termasuk saya,kamu dan siapapun itu, karena hal yang tersulit dilakukan adalah melupakan, tapi yang bisa kita lakukan adalah belajar berdamai dengan kenyataan yang ada dan mengambil hikmah apa sebaiknya kita perbuat untuk masa depan kita kedepannya," nasehat Amalia adiknya Aisyah.


"Kami semua datang di sini bukannya untuk menggurui kamu, tapi karena kami ingin melihat kamu bahagia dengan kehidupanmu, aku yakin jika Mbak mengisi setiap hari dan setiap waktu adalah dengan giat bekerja seperti tidak ada rasa lelahnya, tapi aku yakin jika Mbak melakukan semua itu karena ingin lari dari kenyataan agar tidak terus menerus mengingat kesalahannya mas Leo," ujarnya Aisyah lagi.


"Tetapi kalau boleh Mbak kan sudah tua bahkan sudah hampir memiliki calon menantu alangkah baiknya untuk bisa memperbaiki semuanya demi anak-anak Mbak, jangan hanya memikirkan diri Mbak sendiri tapi ingat ada dua putri kembarnya Mbak, pikirkan juga kebahagiaan dan kepentingan anaknya Mbak." Timpalnya Diana lagi.


Perbincangan mereka semua terhenti kala adzan magrib sudah berkumandang. Mereka bubar dan segera mempersiapkan diri masing-masing untuk menyambut Kabir Kasyafani Sanders beserta dengan kedua orang tuanya itu.


Adzan Magrib pun berkumandang dari toa-toa masjid sekitar komplek perumahan elit yang ditempati oleh Aliah. Beberapa anggota keluarganya yang sedari tadi beristirahat sambil berbincang-bincang telah bubar karena bersiap untuk shalat dan juga berniat menyambut kedatangan rombongan iringan anggota keluarganya Sanders.


Aliyah duduk di depan meja riasnya sambil menerawang ke beberapa tahun yang lalu. Tepatnya sekitar sebelas tahun yang lalu, ketika Aliya mendapati suaminya Leo Carlando Zain Pratama bermesraan di depan matanya di dalam mall.


Air matanya Aliya terus menetes membasahi pipinya, entah kenapa pengalaman pahit berumahtangga kala itu hingga detik ini masih membekas dalam ingatan dan benaknya.


"Bukannya aku terlalu egois, tapi aku tidak mampu untuk memulihkan ingatanku dengan melupakan kenangan terpahit dalam kehidupan rumah tanggaku dulu, ya Allah aku selalu bahkan setiap saat meminta padaMu untuk membantuku melepaskan kepahitan dan kekalutan yang sudah membelenggu kebebasan dan hatiku," Aliya menyeka air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya.


Alia meremas hijabnya karena semakin berusaha untuk dia lupakan semakin teriris pula sembilu hatinya itu.

__ADS_1


"Tapi sesulit bagaimanapun saya akan berusaha untuk berdamai dengan keadaan, kasihan dengan Senja dan Jingga mereka sudah lama telah terpisah dengan papanya dan juga saya yakin putriku itu haus akan kasih sayang dari papanya," Aliya sudah bertekad untuk memaafkan suaminya itu tapi untuk bersatu kembali atau rujuk tidak pernah terlintas dalam pikirannya.


Pergolakan batin, perdebatan dan adu mulut juga terjadi di dalam keluarga Sanders. Papanya sudah mengantongi bukti jika anak bungsunya yang selama ini dikatakan adalah putrinya akhirnya terbongkar juga.


"Mas Abbas, tolong pikirkan baik-baik apa yang mas putuskan? Karina itu anak kandungnya mas bukan anak Pria lain!" Teriaknya Bu Kania yang masih berusaha untuk membujuk suaminya agar tidak menggugat cerainya.


"Kalau mereka cerai berarti mereka akan jadi gelandangan dan hidup menderita, kalau seperti ini aku tidak ingin punya istri dari keluarga miskin, pasti mama dan papa akan menuntut aku untuk bercerai dengan Karina, tapi kalau cerai gimana dengan anak yang di dalam kandungannya Karina yang sudah jalan tiga bulan itu," Daniel Aliuddin tidak mungkin bisa hidup dengan perempuan miskin seperti Karina yang tidak jelas asal usulnya.


Pak Abbas menatap tajam ke arah istrinya yang sudah akan diceraikannya itu tidak lama lagi, "Stop!! Percuma saja kamu berbicara panjang lebar atau pun menyanggah perkataanku ini, aku tidak akan pernah mendengarkan omong kosong kau lagi! Cukup 22 tahun aku telah dibohongin dan gara-gara kamu aku harus bercerai dengan Hanin Mazaya istriku atas hasutan dan tipuanmu!" Teriak Pak Abbas Khairil yang sudah tersulut emosinya.


"Mas apa kamu begitu mudah mempercayai omongan dari orang lain dari pada saya istrimu sendiri? Memang Kamelia bukanlah anakmu darah dagingmu, tapi Karina adalah anak kita bersama bukan anak pria lain," ujarnya Kania istri keduanya Pak Abbas.


Bu Kania langsung terduduk di atas sofa saking terkejutnya mendengar perkataan suaminya itu yang ternyata mengetahui rahasia besar yang selama ini ditutupinya itu dengan rapat-rapat.


"Tidak mungkin mas mengetahui segalanya, aku sudah menghabiskan banyak uang untuk menutup mulut pria itu, aku harus segera menemukannya, aku tidak ingin menjadi orang miskin dan hidup melarat seperti dulu lagi,"


Kamelia dan Karina bungkam seribu bahasa. Mereka menyadari kesalahan pada mereka semua. Sehingga tidak ada yang berani berkomentar apapun lagi. Mereka hanya berharap nenek dan papanya masih berbelas kasih padanya.

__ADS_1


"Sudah cukup berdebatnya, jika kamu masih punya harga diri kamu, Karina dan Kamelia tolong angkat kaki dari rumahku ini, pasti mama akan bertindak kejam kepada kalian yang sudah membohonginya, kamu boleh tinggal di perumahan jalan XX nomor 213 yang pernah aku beli,kalau kamu menolak maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi," pak Abbas segera menemui putra dan mamanya karena mereka akan berangkat ke rumahnya Senja.


"Kaliana Juliana Puspita hari ini saya Abbas Khairil Sanders aku talak tiga kamu, mulai detik ini kita tidak punya hubungan suami-istri lagi!" Tegasnya Pak Abbas secara sadar.


Air mata kebencian,kemarahan dan dendam semakin menjadi yang dirasakan oleh Kania Juliana Puspita. Dia terduduk dengan air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya.


Beberapa anak buahnya pak Abbas dan Bu Claudia yang tidak akan lama lagi menjadi mantan suami dan ibu mertuanya itu.


Daniel Aliudin segera menarik tangan istrinya dari dalam ruangan tersebut. Ia juga pusing dengan tanggapan dan reaksi dari kedua orang tuanya, jika mengetahui apa yang telah terjadi pada nasib istrinya Karina Aina Hafsari.


"Mas kita mau kemana?" Tanyanya Karina.


Daniel menatap jengah istrinya itu," apa kamu sudah siap hidup miskin, menderita dan melarat bersama kakak dan mamamu ha!?" Hardiknya Daniel.


"Aku," Karina tidak mampu berucap sepatah katapun segera menuruti keinginan suaminya itu.


"Ya Allah kenapa seperti ini jadinya kehidupan rumah tangga Mama dan papa,apa salahku sehingga harus menjalani kehidupan yang kacau seperti ini," ratapnya Kamelia.

__ADS_1


Karina menatap iba dan sendu kakak dan mamanya itu. Dia tidak menyangka hanya dalam sehari semuanya langsung berubah drastis tak terkendali.


__ADS_2