Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 170


__ADS_3

Senja mencari keberadaan suaminya setelah selesai berpakaian pagi itu. Ia berjalan dengan riang dan sesekali mengelus perutnya yang semakin buncit dan membesar setiap harinya.


Senyuman tersungging di bibirnya ketika mengingat calon anaknya akan merespon apapun yang dilakukan oleh Kabir.


Mungkin semalam abang Kabir terlalu banyak pekerjaan sehingga dia bertingkah aneh.


Senja mengelus puncak perutnya yang buncit itu, dia semakin tidak sabar ingin melihat anak-anaknya.


Kamu berfikiran sama dengan mommy kan anak-anakku sayang, kalau daddy kalian pasti bersikap aneh hanya karena kesibukannya saja.


Senja terus melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat nge-gym yang biasa dipakai oleh Kabir. Tangannya terus mengelus perutnya tanpa henti.


Coba tendang mommy jika kamu setuju dengan apa yang moms katakan.


Senyuman manisnya tersungging di sudut bibirnya ketika calon baby kembarnya bergantian menendangnya.


Augh… ah.. kalian memang nakal yah, awas kalau kalian sudah lahir mommy akan hujani kalian ciuman penuh cinta dan kasih sayangnya mommy.


Senja semakin memperlihatkan senyuman lebarnya ketika terpampang jelas pintu ruangan gym yang baru dibangun oleh Kabir khusus untuknya setelah menjadi suaminya Senja.


Senja memegangi kedua gagang pintu itu dengan harapan jika suaminya ada di dalam sana.


"Bismillahirrahmanirrahim," cicitnya Senja.


Senja kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut. Dia mencari keberadaan suaminya, tapi tak ada satupun orang yang berada di dalam sana, bahkan tanda-tanda orang baru datang ke sana tidak ada secuil pun.


"Bang Kabir! Suamiku kamu ada dimana?" Tanyanya Senja.


Sanja tanpa berteriak-teriak pun sudah bisa mengetahui keberadaan siapapun yang ada di dalam sana. Karena ukuran ruangan tempat itu terbilang cukup kecil, karena hanya berukuran enam kali delapan meter persegi saja.

__ADS_1


Tempat itu diperuntukkan untuk semua penghuni rumah untuk mereka berolahraga. Suaranya menggema di dalam ruangan itu. Hingga setiap kali berteriak kencang, suaranya kembali menggema dan terpantul lagi hingga berulang kali.


Senja menyeka keringatnya dia cukup kelelahan berjalan mencari Kabir, karena tenggorokannya cukup kering hingga kesusahan untuk berteriak lagi.


Ruangan ini kosong dan rapi, aku perhatikan bang Kabir dan yang lainnya belum ada yang datang ke sini pagi ini.


Senja kembali mencari suaminya tapi, hasilnya tetap nihil.


Apa jangan-jangan abang pergi ke luar, karena di dalam rumah tidak ada disini juga enggak ada.


Ahh aku balik ke dalam rumah saja, aku sangat haus dan lapar juga, maafkan moms yah nak kalian harus kelaparan seperti ini.


Senja lagi-lagi mengelus perutnya yang sudah bergejolak keroncongan, kerongkongannya juga kering butuh dibahasi oleh air mineral.


Senja berjalan melewati carport mobilnya, tapi sudut netra hitamnya melihat tidak ada mobil sport yang kemarin suaminya pakai ke rumah itu.


Mobilnya juga suamiku nggak ada, apa jangan-jangan dia dapat pekerjaan yang harus dikerjakannya di hari libur seperti ini yah?


Atau jangan-jangan bang Kabir memiliki rahasia besar yang tidak boleh aku ketahui, tapi kalau ada kira-kira apa itu ya Allah. Kenapa bang Kabir merahasiakan semua ini padaku.


Ya Allah aku semakin tidak mengerti dengan sikapnya bang Kabir Kasyafani yang tidak seperti biasanya.


Setiap kali berfikir yang terlintas di dalam benaknya adalah jangan-jangan, itu terus yang berseliweran di dalam kepalanya.


Apa jangan-jangan bang Kabir memiliki perempuan lain yang dicintainya di luar sana. Kenapa yah Allah SWT, dia bertindak seperti ini padaku. Apa salahku?


Bulir-bulir air matanya yang sejak tadi ingin lolos begitu saja dan akhirnya menetes juga membasahi pipinya yang sedikit chubby.


Ya Allah gimana apabila bang Kabir memiliki perempuan idaman lain di luar sana, aku tidak mau berbagi suami dengan perempuan lain!

__ADS_1


Aku tidak sanggup melihat mereka memiliki hubungan yang spesial, bagaimana dengan nasibku. apalagi Aku sedang hamil anak nya insya Allah akan lahir kurang lebih tiga bulan lagi.


Senja menyeka air matanya yang semakin deras menetes tanpa terkendali dan berusaha untuk bersikap tenang, tapi disudut hatinya yang paling terdalam sangat resah,risau dan mencemaskan suaminya jika Kabir ternyata berselingkuh dengan wanita lain.


Aku tidak akan sudi dan ijinkan untuk berbagi suami dan aku juga tidak mau milikku direbut oleh orang lain.


Senja mengusap wajahnya dengan sisa-sisa air matanya yang masih terlihat dari wajahnya yang putih mulus itu. Senja meremas ujung hijabnya dengan sekuat tenaganya, sampai hijabnya kusut saking kesalnya.


Aku Senja Starla Airen tidak akan pernah berkompromi terhadap pelakor, aku akan memberikan pelakor jahat itu pelajaran, jika terbukti bersalah.


Senja sangat marah hingga dia tidak bisa berfikir jernih lagi, bayang-bayang suaminya berduaan dan bermesraan dengan perempuan lain semakin memperparah dan memperburuk keadaan.


Padahal apa yang dia bayangkan tidak seperti faktanya yang sebenarnya terjadi. Sedih,kecewa, sakit hati, resah, panik hingga bermacam-macam pemikiran yang belum tentu terjadi di kenyataan.


Senja segera berjalan meninggalkan garasi mobil rumahnya itu. Dia tidak ingin berlama-lama di sana sehingga pikirannya akan semakin rumit saja dan berujung dengan sakit hati dan sedih atas sikap misterius Kabir suaminya.


Astaughfirullahaladzim aku tidak boleh berfikiran negatif terhadap apa yang telah dikerjakan di luar sana oleh suamiku.


Aku sudah bersalah dan dosa besar, karena sudah memiliki pikiran kotor dan jelek. Ini tidak baik dzuudzon pada orang lain terutama suami sendiri.


Senja menggelengkan kepalanya untuk segera mengakhiri pikiran jeleknya dan tidak baiknya itu. Dia harus rileks dan tenang serta nyaman apalagi dia itu ibu hamil.


Pikiran tidak benar dan kecurigaan tidak berdasar akan secara langsung menghancurkan seluruh kehidupan hubungan suami istri.


Senja mempercepat langkahnya menuju ke arah dalam rumahnya, dia tidak ingin kondisinya yang seperti ini dilihat oleh orang lain terutama anggota keluarganya itu.


Senja berjalan menghindari dapur, dimana nenek, kakak dan mamanya berada di sana.


"Aku tidak boleh memperlihatkan wajahku yang sedih dan hancur ini, siapapun yang melihatku seperti ini pasti akan mengolok-olok dengan kejadian yang aku alami," lirihnya Senja yang celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar sebelum menaiki undakan anak tangga.

__ADS_1


Like, komentar, vote, gift iklan, poin dan koin untuk penyemangat aku untuk terus menulis novel biasa ini...


__ADS_2