Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 114. Keberangkatan Leo dan Aliya ke Tanah Arab


__ADS_3

Berselang beberapa menit kemudian, Senja, Jingga, Kabir, Guntur dan kedua orang tuanya sudah sampai di bandara internasional Soekarno Hatta suasana di dalam area bandara tersebut seperti biasanya selalu saja ramai dipadati oleh calon penumpang ataupun orang-orang yang hanya sekedar mengantar kepergian anggota sanak saudaranya ke tempat tujuan keberangkatannya.


"Alhamdulillah sampai juga," ucapnya Jingga.


"Alhamdulillah aku bersyukur karena bisa duduk berdampingan denganmu, kamu sama sekali tidak bersisik padahal biasanya celoteh sana sini tentang ini itu," candanya Guntur.


Jingga menatap tajam pria yang telah menjadi tunangannya itu," ya harus kalem dan jaga images lah kalau ada pak Guntur," tampiknya Jingga yang segera turun dari dalam mobil ketika yang lainnya sudah turun.


"Kenapa meski jaga image segala, padahal saya suka kamu yang cerewet dan ceria," tukasnya Guntur yang ikut turun mengekor di belakangnya Jingga.


"Ada saatnya harus ceria ada kalanya lebih baik diam," ucapnya Jingga yang segera membantu papanya untuk menurunkan beberapa barang bawaannya Leo dan Aliya.


Leo satu persatu menatap kedua anak kembarnya itu dengan tatapan sendu," Alhamdulillah anak-anakku sudah bertemu dengan jodoh terbaiknya, semoga saja mereka bahagia dan aku masih bisa melihat kebahagiaan itu dari wajah mereka, makasih banyak ya Allah Engkau masih memberikan aku kesempatan untuk berkumpul bersama dengan istri dan anak-anakku kembali seperti dulu lagi,"


Leo dan Aliah sudah berkumpul bersama dengan jamaah umroh lainnnya. Mereka akan bersiap untuk berangkat dan mendapatkan beberapa arahan dari panitia pelaksana umroh tersebut, travel yang menyelenggarakan umroh yang diikuti oleh kedua pasangan suami istri itu.


Jingga memeluk tubuh mamanya itu dengan erat," semoga umrohnya mama dan papa lancar dan pulang ke Indonesia secepatnya dengan selamat," ucapnya Senja.


"Mama minta maaf yah sayang kalau mama ada salah, Mama meminta padamu jangan sekali-kali menunda untuk memiliki momongan nak, kasihan suamimu itu sudah menginginkan anak darimu," bisiknya Aliah tepat di telinganya anak keduanya itu.


Senja membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari mamanya itu," ya Allah apa jangan-jangan Mama sudah mengetahui jika setiap malam aku minum pil KB, padahal aku sudah sembunyikan dengan aman. Tapi ngomong-ngomong pil kbku yang sisa satu papan itu dimana padahal kan belum habis, apa mama yang membuangnya atau menyembunyikannya?" Tebaknya Senja.

__ADS_1


Aliya mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh putrinya itu yang tiba-tiba terdiam, mereka berbicara seperti itu karena berjauhan dengan yang lainnya.


"Mama mengerti kekhawatiran dan kecemasan kamu, tapi mama berharap hentikan semuanya Nak sebelum terlambat, takutnya suamimu Kabir mengetahui semuanya dan bisa berpotensi untuk pertengkaran dan cekcok Nak," nasehatnya Aliah


Senja hanya terdiam membisu mendengarkan perkataannya dari mamanya itu perempuan yang sungguh sangat besar jasa-jasanya dalam hidupnya itu.


Senja ingin menanggapi perkataan dari mamanya tapi, Kabir dan Guntur berjalan ke arah mereka sehingga ia mengurungkan niatnya itu.


"Mama kenapa mesti meminta maaf kepada saya, Mama itu tidak punya salah sedikitpun bahkan yang bersalah itu kami ma anakmu yang belum membalas kebaikan dan jasa-jasa Mama selama hidup kami," pungkas Senja yang menyeka air matanya itu.


Senja melerai pelukannya Aliah dari tubuhnya itu dan bergantian dengan Jingga. Aliah segera memeluk tubuh mamanya itu.


"Jingga Nak Guntur pemuda yang baik, jarang-jarang ada yang melamar tanpa ada ikatan sebelumnya, dia sungguh bertanggung jawab dan mencintaimu, jangan selalu mau hidup dalam dunia masa lalu, ingat hidup itu terus berjalan dan tidak mungkin berjalan ditempat, maka dengarkanlah suara hatimu, apa yang dikatakannya jangan selalu bercermin dengan masa lalu, terutama Senja juga ingat kesalahan itu pasti manusia akan mengalami dan melakukannya, tapi kesalahan itu jadikan pelajaran penampik untuk hidup lebih baik dari sebelumnya jangan mau didikte oleh masa lalu yang kelam," nasehat Aliah.


"Selamat jalan Nak, ingat kami semua menunggu kepulangan kamu menantuku, Leo jaga baik-baik istrimu jangan sampai karena sibuk beribadah sehingga melalaikan tanggung jawab kalian untuk saling menjaga dan berhati-hati lah karena cuaca di tanah Mekah itu cukup ekstrim, jangan lupa minum vitamin dan suplemen obat yang Mama berikan," tuturnya Bu Masitah Marsita.


Aliyah memeluk satu persatu anggota keluarganya yang mengantarnya ke bandara. Ia hanya berusaha untuk tersenyum walau dalam hatinya merasakan kesedihan karena untuk pertama kalinya meninggalkan kedua anaknya dalam jangka waktu yang cukup lama.


"Mama Adicandra pasti akan sangat merindukan kalian berdua, jangan lupa belikan oleh-oleh yah untuk saya papa mama," ucapnya Adicandra dengan polos.


Alia mengelus puncak surau putra angkatnya itu sedangkan Leo berusaha mengendong tubuhnya Adicandra putra satu-satunya, walaupun hanya anak sambungnya saja.

__ADS_1


"Kamu sekolah yang benar ya Nak, jangan nakal dengarkan apa yang dikatakan oleh ibu guru, kalau kesulitan mengerjakan tugasnya bertanya saja kepada Mbakmu mereka pasti akan membantumu untuk belajar," sarannya Aliah seraya mengecup keningnya Adicandra Bima Satria.


"Selamat jalan Mbak Aliya semoga umrohnya berjalan lancar dan menjadi umroh yang makbur, kami berencana juga tapi kendala karena ngidam jadi rencananya batal," imbuhnya Sasmita Larasati adik iparnya Aliah.


"Insha Allah kalau memang sudah waktunya kamu dan suamimu akan ke Mekah pada waktu yang paling tepat," timpalnya Aliaya.


"Guntur tolong jaga putriku, aku titip Jingga putri sulungku ini yang sedikit tomboi, Om bersyukur karena sudah ada kamu yang akan menjaga putri pertamaku, tapi ingat jangan biarkan dia sembunyi-sembunyi mengikuti balapan liar lagi," ungkapnya Leo Carlando Zain yang tersenyum sambil menepuk pundak calon mantunya itu.


"Insya Allah Om, saya akan menjaga Jingga dengan sepenuh hati, dan semampuku, jadi Om tenang saja dalam beribadahnya jangan banyak pikiran," ucapnya Guntur.


"Kabir mungkin Putriku yang satu ini terkadang manjanya muncul, jangan sekali-kali kamu bentak karena masalah apapun, tetaplah menjadi suami tempat Senja bersandar dan berkeluh kesah karena Papa dan Mama tidak selamanya ada di samping kalian untuk menemani kalian berdua," terangnya Leo.


"Pak Leo Carlando Zain Pratama dan ibu Aliya Azizah Khumairah, pesawatnya sudah mau berangkat waktunya untuk naik kedalam pesawat," ucapnya seorang pria yang berdiri tepat di depan ambang pintu masuk keberangkatan penumpang.


"Iya tunggu Pak kami akan segera menyusul," balasnya Leo yang sedikit berteriak pula agar diketahui oleh petugas.


"Assalamualaikum, kami pergi yah," tutur Aliya dengan senyuman termanisnya itu.


"Waalaikum salam," Jawabnya dengan serentak.


Kabir memeluk tubuhnya Senja yang sudah menangis tersedu-sedu melepas kepergian kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


"Kami pasti sangat merindukan kalian, pulanglah Papa Mama,"


__ADS_2