
Hakim membuang nafasnya dengan cukup gusar," baiklah aku pertama-tama akan menemui Dian Puspita dan berbicara padanya apa yang seharusnya kami perbuat, Hakim menggenggam tangannya Icha kemudian mengecup punggung tangannya itu,
kamu Icha aku mohon padamu jangan sekali-kali menerima lamarannya pria lain siapa pun itu karena aku akan menunjukkan kepada mereka jika aku bukan pria pengecut dan hanya suka mengumbar janji palsu!" Tegas Hakim.
"Ini dia baru pria sejati dan patut dicontoh keberanian untuk mengakui perasaannya sendiri, kalau aku diposisimu cinta itu butuh diperjuangkan jika memang perempuannya juga mengharapkanmu, kecuali kalau perempuan itu tidak membalas cintamu kau perlu berpaling darinya dan mencari yang lain yang lebih menghargai rasa cinta yang kamu berikan padanya," ucapnya Ardian Putra seraya melirik ke arah Naysila Hermansyah.
"Jadi kami tunggu kabar baik darimu,Icha dan Hakim besok bisa libur beberapa hari agar hati dan pikiran kalian bisa lebih tenang memikirkan jalan keluarnya," ucap Kabir Sanders.
"Hemph sebelum kalian pulang, saya ingin menyampaikan kepada kalian semua, jika bulan depan saya akan menikahi Zania Mirzani, aku minta doa restu kalian semua agar rencana kami ini berjalan lancar dan sukses," tuturnya Fajri Bachan yang terang-terangan melamar langsung Zania kekasih pujaan hatinya di depan teman dan atasannya langsung.
"Alhamdulillah, bagaimana dengan Zania Mirzani apa setuju dan menerima lamarannya Fajri jeneral menejer kita?" Tanyanya Kabir seraya mengarahkan pandangannya ke arah Zania.
Sedangkan Zania yang mendengar perkataan dari pria yang juga dicintainya itu cukup terkejut.
"Bukannya tahun depan rencananya mas untuk melamarku, kenapa terburu-buru sekali untuk menikah?" Tampiknya Zania yang tangannya sudah digenggam oleh Fajri.
Fajri tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu," aku juga tidak mau kalah dengan mereka, aku ingin menikmati indahnya surga duniawi seperti tuan muda Kabir Kasyafani dengan Senja Starla," cicitnya Fajri.
Kabir yang berdekatan langsung dengan Fajri menyemburkan minumannya yang baru saja diteguknya, hingga batuk-batuk kecil.
Uhuk… uhuk..
Suara batuknya Kabir membuat semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar dan melihat langsung respon tubuhnya Kabir.
"Sudah… sudah kalian stop untuk tertawa suamiku seperti ini kalian malah tertawa terbahak-bahak," ketusnya Senja.
"Ini gara-gara Pak Kabir sendiri Bu Senja, makanya jangan suka menelpon disaat sedang anu akibatnya kami juga pengen seperti kalian ingin menikmati indahnya pernikahan," jelasnya Ardian Putra yang tidak mungkin menutupi kenyataan yang ada.
__ADS_1
Raut wajahnya Kabir dan Senja memerah mendengar perkataan dari teman-temannya hingga kedua sisi pipinya panas dan kemungkinannya wajahnya mereka memerah seperti kepiting rebus.
Suasana nampak canggung setelah candaan itu selesai. Senja tidak habis pikir jika apa yang dilakukannya pagi tadi bersama dengan suaminya didengarkan langsung oleh anak buah kepercayaannya suaminya sendiri.
Berselang beberapa menit kemudian, para tamu undangan satu persatu bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Begitupun halnya dengan kedelapan orang itu.
Senja masuk ke dalam mobil tanpa berbicara sepatah katapun kepada suaminya. Dia terlalu kesal dengan sikap teledor suaminya itu. Kabir yang menyadari sikap istriinya itu tidak seperti biasanya.
Kabir duduk di sampingnya Senja sedangkan Senja yang menyadari suaminya sudah masuk kedalam mobilnya segera membuang muka ke arah luar jendela mobilnya yang sengaja kaca diturunkannya.
"Sayang setelah dari sini kamu mau kemana?" Tanyanya Kabir yang sekedar berbasa-basi saja untuk mencairkan suasana yang terasa sepi tanpa celotehan dari Senja.
Tapi hingga beberapa menit kemudian Senja sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari suaminya tersebut. Ia bahkan berpura-pura tidak mendengarkan perkataannya Kabir.
Senja berpura-pura tertidur di jok kursi mobil, karena dia terlalu enggan untuk meladeni pembicaraan suaminya, hingga Kabir seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
"Sepertinya ada orang yang berakting tidur, apa sebenci dan semarah itu kah dirimu padaku karena Abang tidak sengaja berbuat seperti itu?" Tanyanya balik Kabir.
Senja hanya mendengarkan dengan seksama perkataan dari suaminya itu tanpa berniat sedikitpun untuk menimpali percakapan mereka.
Senja awalnya hanya tidak ingin mendengarkan ocehannya Kabir dan malah dia terus memejamkan matanya untuk tertidur pulas di dekatnya Kabir. Tidak butuh waktu lama untuk tertidur beneran.
Kabir menoel hidungnya Senja karena merasa jika Senja hanya bersandiwara tidur saja. Tapi, dugaannya Kabir telah keliru dan salah sangka.
"Astauhfirullah aladzim aku kira dia hanya bermain saja karena marah padaku tetapi ternyata tiduran beneran,ya Allah apa semarah itu padaku sehingga dia tidak ingin berbicara denganku!?" Lirihnya Kabir.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumahnya Aliya Azizah dan suaminya Leo Carlando Zain. Karena permintaan khusus dari kedua mertuanya sehingga ia harus menginap beberapa hari di kediaman mertuanya selama Jingga Aurora dan Guntur Aswin belum menikah.
__ADS_1
Bi Minah yang mendengar suara deru mesin mobil berhenti segera bergegas ke depan rumah majikannya.
"Alhamdulillah mereka sudah balik dari pesta pernikahan nona Hana dan tuan muda Adnan," cicitnya Bibi Minah yang mempercepat langkahnya menuju ke arah teras depan.
Bu Minah melihat Kabir sudah menggendong tubuhnya Senja dalam gendongannya.
"Bu Minah apa kamar kami sudah dirapikan dan dibersihkan?" Tanyanya Kabir.
"Sudah beres Tuan Muda Kabir, Anda dan non Senja bisa langsung beristirahat di kamar lantai dasar Tuan Muda sesuai petunjuk dari nyonya Aliah," jelasnya Bu Minah.
Kabir menatap ke arah bi Minah karena tidak paham kenapa kamarnya mereka dipindahkan ke kamar bawah. Bibi Minah mengerti arti dari tatapannya Kabir.
"Itu atas perintah Nyonya besar Aliyah tuan Muda Kabir, katanya supaya memudahkan Non Senja beraktifitas dan lebih aman dari pada tinggal di kamar lantai atas yang harus naik turun tangga dimana non Senja kan lagi hamil besar," ungkapnya Bi Siti Minah.
Kabir paham dan mengerti niat baik mama mertuanya itu, tapi sebelum melangkahkan kakinya menuju ke arah dalam, Kabir berhenti sejenak dan mengarahkan tatapannya ke arah Bu Minah yang masih berdiri di depan ambang pintu.
"Nanti bakal ada orang yang akan mengantar bunga, kalau dia datang ambil bunganya yah bi Minah terus antar ke kamarku jangan sampai ada bunga yang terlewat sedikitpun," titahnya Kabir yang kemudian berjalan ke arah dalam bagian kanan rumah baru yang ditempati oleh Aliah dan Leo selama sudah rujuk kembali.
"Baik Tuan Muda saya akan menjalankan perintah tuan muda dengan baik, kalau ada lagi yang perlu butuh bantuanku tuan muda katakan saja tidak perlu sungkan atau segan," ucapnya Bi Minah yang sedikit meninggikan volume suaranya karena Kabir sudah menjauh.
Kabir merebahkan tubuhnya Senja dengan sangat hati-hati ke atas ranjangnya. Dia terlebih dahulu mengecup keningnya Senja sekilas sebelum menyalakan mesin pendingin ruangan kamarnya.
Kabir juga tak lupa menyetel suhu ruangan AC itu dan menyesuaikan dengan yang sering dipakai oleh Senja ketika tertidur. Ia pun membuka sandal high heelsnya Senja serta hijabnya Senja dan juga seluruh pakaiannya Senja. Dia tidak ingin mengusik ketenangan tidurnya Senja, tapi dia tidak ingin pakaian yang sudah bercampur keringat dan debu serta asap polusi udara berlama-lama dipakai oleh Senja.
Jakung Kabir naik turun, dia kesusahan menelan air liurnya sendiri melihat begitu seksi, m*ntok tubuhnya Senja. Mulai dari dua buah gundukan perbukitan yang begitu menantang imannya dan perutnya yang buncit semakin menambah kecantikannya dan k*molekan tubuhnya Senja tanpa bus*napun.
Ya Allah kenapa istriku semakin hari semakin buat aku tergila-gila hingga aku kesusahan mengontrol dan mengendalikan diriku sendiri.
__ADS_1