
Guntur yang niat awalnya ingin menyampaikan rencananya untuk melamar Jingga terganggu oleh ulah adiknya yang egois.
"Sial!! Kenapa Bintang seperti ini, aku tidak menyangka adikku akan hidup brutal tidak tau norma-norma agama dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak pantas dia lakukan! Apakah seperti didikannya uncle Pram dan Aunty Laura di luar negeri,"
Guntur segera mengemudikan mobilnya menuju ke apartemennya. Tetapi selama dalam perjalanan pulang, ia kembali teringat dengan pertemuannya Jingga hingga senyuman manisnya gadis itu terbayang-bayang dan seolah menari-nari di pelupuk matanya.
"Ya Allah kenapa hatiku selalu ingin melihatnya, mataku ini tidak bosan mengingat senyumannya ketika menertawai wajahku yang belepotan penuh dengan bekas oli."
Lampu merah segera berganti dengan lampu hijau, tapi sang pengemudi mobil yang paling di depan sedang melamun memikirkan anak orang.
Pit!!!
Pitt!!!
Suara klakson mobil semakin nyaring bunyinya, tetapi Guntur malah semakin asyik dalam buaian lamunannya, sampai-sampai tidak mengetahui jika sudah saatnya mengendarai mobilnya kembali.
"Astaughfirullahaladzim apa yang dilakukan oleh pengendara mobil sedan putih itu!? Apa jangan-jangan dia ketiduran!'" kesalnya supir mobil yang kebetulan berada tepat di belakang mobilnya Guntur.
Seorang pria mengeluarkan kepalanya untuk berteriak meneriaki Guntur yang mengkhayal.
"Pak apa yang Anda lakukan? Ayo cepat jalan!" Teriak dari orang-orang.
"Sepertinya saya harus mengecek pemilik mobil tersebut jangan-jangan orangnya pingsan lagi??" ucapnya seseorang yang segera berjalan menghampiri Guntur.
Tok!!
Took!!
Suara ketukan di jendela pintu mobilnya Guntur mampu mengusik dan membuyarkan lamunannya itu.
"Jingga andaikan kamu tahu jika mantan kekasihmu Abdil mengamanahkan padaku untuk menikahimu entah apa yang akan kamu perbuat, apakah kamu sudi untuk menerima keputusan sepihak dari kekasihmu itu ataukah…"
Guntur mengerang keras karena kegiatannya tengganggu padahal dalam lamunannya itu ia melihat Jingga berlari cepat ke arahnya dengan merentangkan kedua tangannya Jingga.
"Pak! Cepat jalankan mobilnya, apa Anda tidak melihat jika sudah lampu hijau!"' teriak seorang pria yang bertopi.
__ADS_1
Guntur mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara kemudian melihat ke arah lampu rambu-rambu lalu lintas. Dan juga ke arah belakang, betapa terkejutnya melihat antrian mobil yang cukup panjang seperti ratu ular raksasa saja.
Keadaan jalan seperti itu terjadi karena, kondisi jalan yang hanya satu arah dan dilarang berbelok sehingga semakin memperkeruh dan membuat kemacetan yang cukup panjang.
"Astaughfirullahaladzim, aku sampai-sampai melupakan jika lampu hijau sudah menyala, ini semua gara-gara montir cantikku," umpatnya Guntur.
Berselang beberapa menit kemudian, Guntur sudah sampai di unit apartemennya. Ia segera memakai pakaian yang sudah sejak satu minggu yang lalu dipersiapkan khusus untuk pernikahan adik sepupunya itu.
Guntur bercermin dan memperhatikan dengan seksama bentuk tubuhnya setelah berganti pakaian.
"Cukup ganteng, perempuan mana yang bisa menolak pesonaku ketampananku,hemm aku yakin Jingga akan klepek-klepek melihat gayaku ini," Guntur bersolek diri layaknya anak muda yang sedang jatuh cinta.
Guntur berputar-putar di hadapan cermin yang cukup tinggi dan besar sehingga hampir keseluruhan tubuhnya terlihat jelas di pandang mata.
"Perfeksionis," gumamnya Guntur.
Sedangkan di tempat lain, Jingga yang baru sampai di rumahnya karena orang-orang sudah sibuk bersiap ke gedung perhelatan acara pernikahan adiknya Senja Starla Airen Zain Pratama.
Sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat sehingga untuk membuka paper bag dan sebuah kado yang cukup besar terpaksa dia simpan terlebih dahulu ke dalam lemari kamarnya.
"Nanti saja aku cek apa isinya, enggak enak kalau aku masih bersantai di sini sedangkan orang-orang sudah bersiap-siap," gumam Jingga yang menyimpan secepatnya barang peninggalan kekasihnya itu ke dalam lemari.
"Masya Allah cantiknya bidadariku, entah kenapa aku semakin mencintaimu istriku," pujinya Kabir.
"Cantiklah istrinya Pak Kabir kan perempuan masa ganteng," candanya perempuan yang sedang merias wajahnya Senja.
"Intinya dari semua perempuan yang paling cantik di dunia ini istriku tidak ada duanya, bahkan artis-artis papan atas tidak kalah cantiknya," ucapnya Kabir yang tidak mau kalah.
"Ya Allah pak Kabir bisa-bisanya berbicara seperti itu di depan orang banyak kan aku jadi malu," cicitnya Senja.
Kabir tersenyum puas karena berhasil menggoda istrinya itu," aku akan selalu menggoda kamu hingga kamu langsung mengatakan padaku langsung jika kamu mencintaiku, memang kamu sudah menyerahkan sepenuhnya dirimu padaku, tapi hatimu masih belum kamu buka untukku. Tapi, aku berjanji akan segera menaklukkan hatimu hanya untukku seorang,"
Beberapa menit kemudian, kedua mempelai pengantin dan segenap anggota keluarganya yang bersiap menjadi pagar ayu dan pagar bagus sudah berada di dalam gedung pesta resepsi pernikahan Senja dan Kabir.
Di depan pintu masuk terpampang jelas dan nyata foto prewedding yang sempat dilakukan oleh kedua pengantin. Siapapun yang melihat kedekatan keduanya di dalam figura yang cukup besar itu, pasti menganggap mereka adalah pasangan yang serasi dan saling mencintai satu sama lainnya.
__ADS_1
"Cucuku sangat ganteng, kamu semakin mirip dengan putriku Haning Mayaza," puji Bu Dahlia Omanya Kabir.
"Pastilah cakep Nek, siapa dulu dong cucunya nyonya besar Dahlia Nasution," timpalnya Natasha sambil memeluk tubuh Omanya.
"Hemm! Ngomong-ngomong kalau seperti ini biasanya ini anak ada maunya deh, cepat ngomong sama Oma apa yang kamu inginkan?" Tebaknya Bu Dahlia.
Natasha terkekeh mendengar perkataan dari neneknya itu," astauhfirullah aladzim oma, apakah dalam memuji seseorang itu harus ada maunya terlebih dahulu yah! Berarti Oma lupa kalau yang ada di depannya Oma adalah Natassa bukan gadis lain yang seperti yang disono yang selalu saja berbicara manis karena ada udang dibalik bakwan," candanya Natasha sambil menatap ke arah sepupunya itu siapa lagi kalau bukan Bintang.
"Apa yang dikatakan oleh orang-orang jika istrinya Kabir sangat cantik bukan hanya isapan jempol belaka, auranya itu terlihat begitu jelas dalam balutan busana apapun, memang gadis ini sangat pantas jadi anak menantunya Mbak Haning," ujarnya Bu Yuanita maminya Guntur.
Semua orang menatap foto tersebut dengan tatapan mata yang berbeda-beda dan sulit diartikan.
"Gadis seperti dia dikatakan cantik! Mana cantiknya kalau perempuan kampungan dan udik seperti itu!" Cibirnya Bintang.
Natasha mendengar langsung hinaan yang diucapkan oleh Bintang secara langsung," ya Allah sepertinya ada orang sirik nih bestie, entah kenapa selalu saja omongannya unfaedah gitu,kalau nggak bisa ngomong baik-baik seharusnya diam saja daripada buat telinga sakit!" Sarkasnya Natasha.
"Hush sudah-sudah enggak Du dengar orang, kamu Bintang Oma minta kau lebih baik diam dan jangan sekali-kali berbicara yang tidak sopan!" Tegasnya Bu Dahlia yang menengahi perdebatan kedua cucu perempuannya itu.
Natasha tersenyum mencemooh ke arah sepupunya itu," makanya itu mulut dijahit saja daripada bicara yang tidak bermutu," bisiknya Natasha yang berjalan tepat di samping Bintang.
Bintang mengepalkan kedua kepalan tangannya sambil menghentakkan kakinya ke atas lantai keramik.
"Sial! Anak itu mulai ngelunjak saja, mentang-mentang tinggalnya serumah dengan Oma sehingga semakin tidak terkendali! Awas saja saya akan membalas penghinaan ini," umpatnya Bintang.
Ibu Haning melihat dengan seksama foto pengantin putra tunggalnya itu,ia mengelus wajahnya Kabir.
"Kamu sudah memiliki rumah tangga sendiri,tapi maafkan bunda belum bisa jujur padamu tentang masalah terbesar dalam hidupnya bunda yang tidak sanggup aku ucapkan hari ini,"
Yang suka baca novel recehanku Alhamdulillah Makasih banyak. jika ada yang tidak suka diskip saja dan ditinggalkan tidak perlu tinggalkan jejak apapun.
Ingat khusus pembaca yang nongol setiap hari baca novelku ini insha Allah ada bonusnya dikit si setiap novelku yang tiga ini:
Belum Berakhir
Satu Atap Dua Hati
__ADS_1
Pamanmu adalah jodohku
Hargailah karya orang lain n bijaklah dalam berkomentar... karena manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat untuk sesama. selow dan damai bestie.