
Jihan yang terkejut sampai-sampai tubuhnya terhuyung ke belakang dan menabrak tubuh seseorang yang baru saja muncul ketika pintu terbuka.
"Argh! Tidak!" Teriak Jihan.
Untungnya kekuatan orang yang berada di belakang cukup mampu menahan bobot tubuhnya Jihan, sehingga keduanya tidak terjatuh.
"Ini tidak mungkin, aku tidak percaya jika bang Gamal telah menikah, Kenapa bisa aku tidak tau sama sekali kabar ini,"ratapnya Jihan yang melupakan pertolongan orang yang berada di belakangnya.
"Tubuhmu cukup berat! Apa kamu bisa berdiri tegak?" Ketus seorang pria yang sedari tadi menolongnya.
Jihan yang fokusnya tertuju pada perbuatan sang kekasih pujaan hatinya itu yang membuatnya shock dengan menjadi saksi langsung perselingkuhan kekasihnya.
Jihan menolehkan kepalanya ke arah belakang," Anda yang seharusnya melepaskan pegangan tangan Anda dari pinggangku! Gimana caranya aku berdiri bebas kalau tangannya Anda masih memelukku!" Sarkasnya Jihan.
Pria itu segera melepaskan pegangan tangannya dan cukup malu tapi, wajahnya cukup datar agar tidak ketahuan oleh Jihan ataupun beberapa orang yang sedari mengikutinya.
Orang itu bergerak cepat ke arah belakang dan Jihan menatap mencemooh ke arah pria itu.
"Tolong! Sebelum berbicara lihat situasi dan kondisinya terlebih dahulu. Jangan main nuduh segala," kesalnya Jihan.
Jihan menatap jengah ke arah pria yang hanya memperlihatkan wajah kaku dan datarnya.
Jihan berjalan ke arah mobilnya dengan tergesa-gesa tanpa peduli dengan tatapan mata orang-orang yang melihat kepergian dari Jihan.
"Gadis yang aneh! Sudah ditolongin juga malah nyolot!" Ketus Amber Rosemalia.
"Lagi pms kali makanya marah-marah," cercanya Zayden.
"Sayangnya cantik," cicitnya pria yang ditabrak oleh Jihan.
"Tuan Muda Faiaz Albar apa sadar dengan apa yang kamu katakan barusan?" Tanyanya Zayden sengaja menyebut nama Tuan Muda saking herannya dengan apa yang dilakukan oleh kakak sepupunya itu.
Pria yang disapa oleh Faiaz itu berjalan meninggalkan kedua sepupunya dan temannya tanpa mengatakan apapun. Tapi, sesekali melirik sekilas ke arah kepergian Jihan.
__ADS_1
Jihan segera masuk ke dalam mobilnya dan meraih ponselnya itu, dia juga menghubungi nomor ponselnya Gamal untuk memastikan apakah Gamal akan menutupi kenyataan yang sebenarnya terjadi,ataukah malah berkata jujur.
Semoga saja bang Gamal mengangkat telponku.
percobaan pertama gagal, tapi Jihan tidak menyerah dan putus asa. Ia terus menelpon nomor hpnya Gamal.
Mungkin mereka sedang… hiks… hiks.. aku tidak menyangka hidupku bakal seperti ini.
Pria yang sungguh aku cintai malah berselingkuh dengan perempuan lain langsung depan mataku.
Hanya suara nada sambung ringtone yang didengar oleh Jihan. Tapi, dia terus berusaha untuk melakukannya, karena ingin mengetahui apakah semua ini memang seperti faktanya ataukah hanya salah paham saja.
Bukan bang Gamal yang salah, tapi aku yang telah hadir di dalam hubungan rumah tangga mereka.
Gamaliel Audrey mengangkat telponnya setelah berulang kali mencobanya. Akhirnya Gamal mengangkat telponnya itu.
"Selamat pagi sayang," ucapnya Gamal ketika sambungan telepon seluler terhubung.
Gamal memegangi tangan istrinya itu agar tidak nakal memainkan belalainya yang masih tegak berdiri seperti bendera Indonesia yang akan terus berkibar ketika meraih medali emas dan ajang Asian games China Tiongkok.
Gamal memberikan kode kepada istrinya Santika untuk diam agar Jihan tidak curiga padanya.
"Oh iya lupa, ada apa sayang kenapa nelpon apa kamu kangen banget denganku?" Tebaknya Gamal yang berusaha untuk menyembunyikan dimana dia berada.
Jihan mengusap wajahnya dengan gusar dan menarik nafasnya dalam-dalam sambil menghembuskan nafasnya cukup pelan.
"Kamu dimana? Kapan datang mengunjungiku di London?" Tanyanya Jihan yang berperang melawan kemarahannya yang sudah siap meledak.
"Aku ada di kantor di Jakarta sayang dimana lagi kalau bukan di kantor, insha Allah tanggal 21 aku akan menemuimu di Inggris, kamu sabar yah," kilahnya Gamal sambil memainkan rambut panjangnya Santika.
"Bukannya hari ini adalah hari libur dalam rangka memperingati hari maulid. Kenapa Abang harus bekerja di waktu libur. Kalau gini aku akan mengadu kepada kakek Raka Bumi untuk mengurangi pekerjaannya Abang diwaktu libur nasional seperti sekarang ini," ucap Jihan yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya.
Jihan meremas ujung hijabnya yang sudah basah terkena air matanya yang terus menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
Aku baru tersadar jika kamu sangat lihai dan pintar membohongi orang lain. tapi, aku bukan Jihan Yuanni Ulli jika tidak sanggup membalas rasa sakit ini padamu.
Aku harus bisa move on dari kamu pria yang sudah buang-buang waktuku untuk mencintaimu.
"Ti-dak perlu sayang, aku tidak ingin gara-gara ini Tuan besar marah lagi. Tidak perlu repot-repot kok sayang. Mumpung dapat uang tambahan modal untuk beli tiket ke London nantinya," Gamal berkelik.
Astaughfirullahaladzim bang, sudah berapa lama kamu berbohong padaku. Padahal setahu aku kamu tidak seperti ini.
"Ka-mu tidak perlu repot-repot sayang, nggak enak kalau gara-gara hal sepele seperti ini, takutnya dikira saya mengadu lagi padamu," elak Gamal.
Aku ingin memakai, berteriak dan mengamuk tapi kalau seperti ini aku seperti gadis yang tidak punya harga diri saja.
Aku tidak percaya jika kamu ternyata seperti ini Bang Gamal. Aku terlalu polos,naif dan tolol serta konyol bisa mempercayaimu dengan berpacaran LDR-an seperti tiga tahun terakhir ini.
"Kalau gitu aku tutup dulu yah sayang, ndak enak kalau dilihat yang lain kalau aku hanya nelpon saja sedangkan pegawai lainnya bekerja," tuturnya Gamal yang buru-buru ingin mematikan sambungan teleponnya itu.
"Aku tidak menduga kamu sungguh tega melakukan hal ini padaku! Apa salahku padamu!? Kalau tidak cinta kenapa harus seperti ini!" Jeritnya Jihan yang memukul-mukul setir mobilnya itu.
Bugh… buk..
aku tidak mungkin pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini. aku ingin membuang semua sialku terlebih dahulu sebelum pulang. tapi tempat yang paling asyik dan cocok dimana?
Jihan menyandarkan kepalanya ke atas kemudi mobilnya itu dengan air matanya yang seolah tak ada hentinya terus menetes membasahi pipinya. Jihan melampiaskan kekesalannya kepada setir mobilnya yang sama sekali tidak berdosa dan bersalah.
Jihan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi dan tanpa arah dan tujuan kemana mana perginya untuk selanjutnya.
"aku akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, aku hubungi paman Antonio saja karena aku yakin dia tau apa yang terjadi di perusahaan dan siapa perempuan itu sebenarnya!"
Tanpa disadarinya ada sebuah mobil sport hitam mengikuti kemanapun perginya mobil yang dikendarai oleh Jihan. Sedangkan Jihan dengan asal mengendarai mobilnya saja hingga tanpa disadarinya, mobilnya berhenti tepat di depan wahana bermain terbesar yang ada di daerah London.
Jihan menengadahkan kepalanya ke sekeliling tempat tersebut. Ia segera melepas seatbeltnya. Penampilannya berantakan, wajahnya basah terkena air mata dan matanya sembab dan memerah saking lamanya menangis.
Jihan tidak peduli lagi penampilannya bahkan saking sedihnya hingga dia berjalan ke arah dalam seperti orang yang tanpa tujuan saja.
__ADS_1