
Dion semakin memeluk erat tubuhnya Tania Du hadapan Guntur untuk memanas-manasi Guntur, "Tania sayangku! berikan kembali semua miliknya Guntur yang pernah diberikan padamu, ingat semuanya, Abang yang akan memberikan padamu gantinya," ucapnya Dion yang menyeringai ke arah Guntur.
Guntur malah tersenyum melihat tingkah laku kedua pasangan tersebut," Alhamdulillah kalau kamu meminta kepada kekasihmu untuk mengembalikan segalanya yang pernah aku belikan untuknya! Ingat karena Dion sendiri yang mengatakan hal itu padahal cincin berlian serta kalung yang nilainya ratusan juta kalau gitu serahkan padaku secepatnya dan angkat kaki dari dalam apartemenku, karena aku lebih sudi memberikan hartaku bekas darimu ke panti asuhan dari pada untuk wanita tidak tahu diri seperti kau!" Sarkasnya Guntur.
Tania ingin maju selangkah untuk membalas semua perkataannya dan hinaan dari Guntur, tapi lagi-lagi dicegah oleh Dion.
"Sayang tidak perlu ladenin ucapannya, ayo kita ambilkan barang miliknya kemudian segera cabut dari sini," imbuhnya Dion.
Tania memberikan beberapa lembar kartu ATM dan kartu kredit tanpa batas yang pernah diberikan oleh Guntur untuk Tania. Untungnya kartu ATM dan kredit itu baru beberapa bulan terakhir diberikan diusia pacarannya tiga tahun itu. Jadi Guntur tidak terlalu rugi. Serta kunci mobil sport hadiahnya.
Tania tak bergeming di tempatnya berdiri," gimana ini, berlian yang pernah diberikan padaku aku jual dulu waktu Robi butuh uang, gimana ini kalau Dion sampai mengetahui jika aku punya selingkuhan lain lagi," Tania mulai nampak panik dan ketakutan, keringat dingin mulai bercucuran membasahi pipinya itu.
"Hahaha, kamu pria bego sungguh mudah dikibuli oleh perempuan yang sudah menghabiskan waktunya bersamamu dan selalu menghangatkan ranjangmu ternyata perempuan yang tidak pantas kamu cintai setulus hatimu,kamu perlu mengetahui jika bukan hanya saya,kamu kekasihnya tapi masih ada seorang pria lainnya di luar sana," cibirnya Guntur.
Dion segera menarik kuat tangannya Tania," katakan padaku siapa ayah dari anak yang kamu kandung, jangan-jangan itu milik Robi atau jangan-jangan kamu enggak mengetahui ayah biologisnya!?" Cibirnya Dion.
"Silahkan urus urusan kalian berdua, besok pagi saya tidak ingin melihat kamu muncul di hadapanku lagi, silahkan kalian mencari tahu siapa ayahnya calon bayinya Tania tentunya dan pastinya bukan milikku karena berciuman saja saya tidak pernah," tegasnya Guntur yang tersenyum mencemooh melihat perempuan yang pernah disayanginya itu.
Guntur hanya tertawa terbahak-bahak menertawai kebodohannya. Untungnya dua bulan lalu Dia tidak terjebak dan masuk perangkapnya Tania yang awalnya ingin tidur bersama Guntur. Tetapi,entah kenapa banyak banget halangan yang menghadang rencana keduanya.
"Makasih banyak ya Allah Engkau memberikan petunjuk padaku jika Tania bukan perempuan yang baik bisa aku jadikan partner pasangan hidupku,"
Dua hari kemudian…
Hubungan suami istri antara Senja dan Kabir masih seperti baru awal mereka menikah. Hari ini semua sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan antara Senja dan Kabir.
__ADS_1
Aliya menaiki undakan tangga setelah shalat subuh, karena rencananya putri sulungnya akan berangkat ke Bandung subuh ini dan insha Allah balik sebelum bada ashar.
Aliah tersenyum ketika melewati kamar anak keduanya itu. Dia tidak menyangka jika hubungan rumah tangga keduanya akan terbilang lebih cepat akrab dan dekatnya dibandingkan dengan prediksinya.
Karena selama awal rencana pernikahan Senja pernah mengatakan jika sebenarnya ia sangat tidak ingin menikah, tapi karena ingin melihat kedua orang tuanya kembali bersatu makanya dengan berat hati ia mengiyakan permintaan tersebut.
"Syukur alhamdulilah, awalnya aku sedikit ragu dan khawatir, tapi setelah melihat kedekatan keduanya, aku baru tahu jika anakku bahagia bersama dengan pasangan hidupnya itu,"
Alia segera berjalan ke arah kamar anak sulungnya itu," Jingga apa kamu sudah bangun Nak, katanya mau ke Bandung," teriak Bu Aliya sembari mengetuk pintu kamar putrinya itu.
"Tunggu Ma, aku sudah siap kok," balasnya Jingga dari dalam kamarnya yang tergesa-gesa ke arah luar.
Pintu bercat putih itu terbuka lebar dan muncullah Jingga dalam penampilan terbarunya itu. Aliyah sungguh dibuat terperangah melihat wajahnya Jingga dan penampilan yang baru.
Aliah menutup mulutnya saking kagetnya melihat sosok putrinya dalam balutan pakaian yang tertutup,"Ya Allah kamu sungguh sangat cantik Nak, kamu bidadari surgaNya Mama," pujinya Aliya Azizah Khumaira.
"Masya Allah Nak Mama sangat bahagia dan beruntung banget melihat kamu seperti ini, sungguh mama tidak bisa berkata-kata lagi karena Mama terlalu bahagia melihat kamu Nak, mama hanya berharap semoga kamu bahagia dan segera mendapatkan jodoh seperti adikmu," ujarnya Aliya yang sangat berharap besar kepada putrinya itu.
Jingga memegangi kedua tangannya Aliya dengan penuh kasih sayang, "Mama masalah jodoh, maut, rezeki semuanya itu rahasia Allah SWT, saya hanya menjalani kehidupan ini dengan baik dan kalau jodoh mendekat Alhamdulillah diberikan waktu yang lama juga tidak masalah yang paling penting bagiku adalah saya bersama dengan mama, papa dan Senja disisa hidupku ini,"
"Jadi kamu akan berangkat ke Bandung Nak?" tanyanya Alia sambil mengandeng tangan anak sulungnya itu.
"ini juga sudah siap-siap mumpung masih pagi banget supaya sampainya di Bandung lebih cepat jadi pulangnya juga kesini sebelum pesta resepsinya Senja Ma," jelasnya Jingga.
"Kalau gitu kamu hati-hati ingat kalau capek, kamu harus beristirahat Nak, jangan dipaksakan untuk mengemudi dalam keadaan capek atau ngantuk," imbuhnya Bu Aliya yang mengantar anaknya hingga ke dalam garasi rumahnya.
__ADS_1
"haha Mama, aku bukan anak kecil lagi loh, aku ini sudah besar dan gede, lagian aku juga berangkatnya bareng dua adik dan kakak sepupunya Abdil Pramudya yaitu Abdul Fatah dan juga Latifah Ma, jadi kami bisa bergantian nyetirnya, Mama kenal kan dengan mereka,"
"iya mama pernah bertemu dengan mereka kok dia kan teman kuliahnya kamu jadi tidak mungkin Mama enggak kenal teman baiknya putriku," tukasnya Aliah.
Jingga segera berpamitan kepada papanya Leo dan Aliya. Sedangkan anggota keluarganya yang lain masih dalam kamar masing-masing mungkin masih brrgelung dalam selimutnya.
"Assalamualaikum," pamitnya Jingga.
"Waalaikum salam,ingat sampai disana telpon Mama atau papa yah!" teriaknya Leo Carlando sebelum mobilnya Jingga meninggalkan carport mobilnya itu.
Perjalanan cukup santai pagi itu, karena cuaca dan kondisi di jalan raya protokol yang mereka lalui masih cukup belum dipadati mobil atau pengendara motor atau roda empat lainnya.
Hanya butuh waktu beberapa jam saja, mobil berwarna merah itu memasuki daerah Bandung tepat setelah ba'da adzan dzuhur. sehingga mereka mampir terlebih dahulu untuk shalat dzuhur berjamaah di masjid terdekat.
Mereka memutuskan untuk langsung ke makam tempat Abdil Pramudya akan dimakamkan di tanah kelahirannya itu. Jingga tepat waktu setelah Abdil dishalati. Tangis haru terdengar dengan jelas dari dalam kediaman kedua orang tuanya Abdil.
Kedatangan Jingga disambut tangis haru oleh kedua orang tuanya Abdil dan kedua kakaknya Abdil. Hingga kedatangan seseorang di dalam rumah itu membuat semua tatapan dan pandangan mata terarah ke sosok pria yang berjalan beriringan dengan beberapa orang di belakangnya.
"Kami turut berdukacita atas meninggalnya Abdil Bu," ujarnya pria itu.
"Makasih banyak nak Guntur atas kedatangannya,kami sungguh sangat berterima kasih kepadamu nak, karena berkat kamu lah putraku bisa dimakamkan di tanah air," ucapnya Pak Taher ayahnya Abdil.
"itu sudah menjadi hak dan kewajibanku sebagai sesama umat muslim dan sesama orang Indonesia jadi wajarlah saya bersikap seperti ini," tampiknya Guntur.
Jingga sesekali melirik ke arah Guntur dan betapa terkejutnya ketika melihat siapa pria itu. pria yang tidak lain adalah kakak sepupunya Kabir Kasyafani Sanders adik iparnya itu.
__ADS_1
"dia tidak boleh melihatku juga ada disini, aku tidak ingin dia berfikiran macam-macam lagi jika mengetahui kedatanganku, saya harus berusaha untuk sembunyi dari dirinya, kalau dia tahu bisa-bisa saya beradu mulut lagi,"