
Bu Claudia,Bu Hanin Mazaya dan pak Abbas setelah mendengar jika rombongan pengantin mempelai perempuan sudah datang. Mereka segera bersiap untuk menjemput calon mantunya itu.
"Semoga saja akad nikah mereka berjalan lancar, entah kenapa aku merasa ada yang akan terjadi Ma," bisiknya Bu Hanin ditelinga Nyonya Claudia.
"Hush jangan berbicara seperti itu, ingat buang jauh-jauh pikiran negatif kamu, insha Allah pernikahan cucuku akan berjalan lancar sesuai dengan apa yang kita harapkan, semoga mereka bisa membantu melancarkan acara besar cucu tunggalku hari ini," pungkasnya Bu Claudia.
"Insya Allah pernikahan putra semata wayangku akan lancar-lancar saja, tapi kenapa pikiranku tertuju pada mantan istrinya mas Abbas yah, tapi jika ada pihak-pihak yang ingin merusak kesakralan pernikahan putraku mereka akan menghadapi kemarahan ku,"
Ibu Hanin kemudian terdiam dan tidak ingin berbicara lagi karena hanya fokus dengan apa yang terjadi di dalam masjid. Mereka sudah berdiri tepat di depan pintu masuk. Nyonya Claudia tersenyum simpul menyambut kedatangan calon menantu dan besannya itu.
"Assalamualaikum Bu Claudia," sapanya Bu Sita neneknya Jingga.
"Waalaikum salam,selamat datang calon besan," balasnya Bu Sita sambil cipika cipiki ala ibu-ibu sosialita.
"Maafkan kami sedikit datang terlambat, maklum banyak banget kerabat dan teman-teman yang ingin melihat dan menyaksikan acara ini sehingga mau tidak mau kami menunggu mereka terlebih dahulu," jelas Bu Sita Marsita yang sedikit menyesali kejadian itu.
"Santai saja Bu Sita ini biasa terjadi, apalagi hampir setiap jalan yang kami lewati banyak iringan pengantin lain sehingga menambah macet jalanan sepanjang jalan yang kami lewati," ujarnya Bu Claudia.
"Iya katanya di tempatnya author juga lagi musim pengantin sehingga membuat pusing author yang undangannya numpuk d atas meja," timpalnya Bu Aisyah yang ikut nimbrung dengan percakapan mereka yang selalu mengerti keadaan author.
"Kalau gitu silahkan masuk karena pak penghulu katanya masih ingin menghadiri beberapa acara akad nikah, jadi sebaiknya kita segera masuk ke dalam masjid," ujarnya Pak Abbas Khaerl Sanders.
Semua orang masuk ke dalam masjid dan sudah duduk bersila dan rapi di atas lantai keramik masjid lantai bawah tanah. Masjid An-Nur yang berlantai tiga itu cukup bisa menampung sampai lima ratusan orang sehingga masjid itu dipilih oleh Aliya dan kedua anaknya.
Senja sudah duduk didalam kamar khusus dan Jingga selalu menemani adiknya itu bersama calon istri dari pamannya Sasmita Larasati ibu gurunya Adicandra Bima Satria adik sambungnya Jingga anak dari mendiang almarhumah Adinda Anjani.
__ADS_1
Sasmita dan Lutfi berjalan beriringan bergandengan tangan penuh kemesraan calon pengantin yang masih menunda jadwal pernikahan keduanya. Mereka beramah tamah dengan CEO tempat Luffy bekerja sebelum masuk ke dalam ruangan masjid.
Kebetulan Guntur Aswin Nasution juga datang bersama kedua orang tuanya untuk menghadiri acara pernikahan Senja. Sehingga mau tidak mau Lutfi berbincang-bincang sebentar terlebih dahulu sebelum masuk sebagai cara untuk menghormati pemilik perusahaan tempat ia bekerja dan mencari nafkah.
Kabir duduk bersila tepat di hadapan Leo calon papa mertuanya itu. Mereka diapit oleh seorang saksi dan pak penghulu sebagai perwakilan dari kantor urusan agama kua setempat.
"Bagaimana pak Kabir apa Anda sudah siap menikah?" Tanyanya Oak Hanif Yahya penghulu.
"Insha Allah pak penghulu saya sudah siap lahir batin untuk menghalalkan putri pak Leo," ucap Kabir dengan penuh keyakinan dan semangat.
Sedangkan di dalam ruangan khusus mempelai wanita, Jingga hanya tersenyum tipis menanggapi sikapnya Senja yang terkadang bisa tenang kadang gelisah memikirkan pernikahannya.
Bukannya masalah ijab kabul lancar apa tidak yang dipikirkan oleh Senja. Melainkan adegan malam pertamanya bersama Kabir dan bagaimana dengan perkuliahannya setelah mereka menikah nantinya.
"Apakah keputusan aku sudah benar dan tepat jika tidak mengundang beberapa teman dekat aku? Karena aku tidak mungkin bisa membiarkan mereka mengetahui siapa calon suamiku, bisa-bisa mereka akan beranggapan dan berspekulasi aneh-aneh jika ketahuan kalau aku menikah dengan pak Kabir,"
Senja mendongakkan kepalanya ke arah kakaknya itu, "Jingga apakah nantinya aku berdosa, jika pernikahan aku ini untuk sementara waktu aku sembunyikan dan rahasiakan dari teman kampus?"
Jingga yang sedang memeriksa beberapa sosial medianya itu segera mengalihkan perhatiannya dari gawianya ke arah adik semata wayangnya itu.
"Kalau menurut aku sih tidak dosa dan tidak salah sama sekali karena aku yakin kamu pasti memiliki alasan khusus yang sangat urgen, sehingga kau berniat dan memutuskan untuk merahasiakannya dari teman kampus," sahutnya Jingga.
Senja menghela nafasnya dengan cukup kasar," Alhamdulillah kalau seperti itu, karena tahulah anak-anak di kampus akan berspekulasi, berargumentasi yang tidak-tidak jika mengetahui kalau aku menikah dengan salah satu dosen idola mereka," tuturnya Senja yang tidak ingin pernikahannya terendus ke khalayak umum.
Hingga kedatangan Bu Aisyah mengganggu percakapan mereka," Nak Senja kau harus tetap tenang, karena Kabir sudah bersiap untuk mengucapkan janji suci pernikahan kalian berdua,"
__ADS_1
Acara pertama diisi oleh pengajian yang langsung dibacakan oleh salah satu anak santri tahfiz Al-Qur'an mesjid setempat dan dilanjutkan dengan ceramah tausiah serta pesan-pesan moral dan nasehat pernikahan dibawakan oleh salah satu ustadz pendakwah yang cukup terkenal di ibukota Jakarta.
Semua orang duduk dengan penuh hikmah mendengarkan semua acara hingga selesai. Dan tibalah saatnya giliran ijab kabul yang membuat raut wajahnya Kabir, awalnya nampak tegang tapi Nyonya Claudia menepuk pundak cucu satu-satunya itu.
"Cucuku pasti bisa,masa sih menghadapi rekan bisnis dan tender proyek yang gede kamu bisa dapatkan sedangkan akad nikah saja meski membuat kamu panik dan takut," candanya Bu Claudia agar cucunya bisa lebih bersabar dan santai.
Kabir tersenyum simpul menanggapi perkataannya neneknya itu yang masih kelihatan awet muda diusianya yang sudah hampir 60 tahun.
Di luar suasana nampak tenang menunggu Kabir melafalkan niat lafadz ijab kabul. Kabir dan Leo sudah saling berjabat tangan satu sama lainnya.
"Karena Ayahandanya pengantin wanita Alhamdulillah hadir di tengah-tengah kita jadi silahkan menjadi wali nikahnyah putri Anda, silahkan dimulai," pintanya Pak Hanif Yahya.
"Baiklah Pak penghulu," balas Leo.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau Kabir Kasyafani Sanders binti Khaer Sanders dengan putri keduaku Senja Starla Airen Zain Pratama binti Carlando Pratama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 karat seberat 20 gram 23 ons dan uang tunai 90 juta," ucapnya Leo.
Kabir menarik nafasnya dalam-dalam terlebih dahulu lalu menghembuskannya dengan pelan, "Bismillahirrahmanirrahim, saya terima nikah dan kawinnya Senja Starla Airen Zain Pratama binti Carlando dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Dengan sekali tarikan nafas Kabir mengucapkan janji suci pernikahannya bersama dengan Senja dengan mantap dan penuh keyakinan.
Pak Hanif Yahya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut," bagaimana para saksi apakah sah?" Tanya Pak penghulu.
"Sah!" Teriak semua orang yang memadati ruangan masjid An-Nur.
"Alhamdulillah," ucap semua hampir seluruh tamu undangan yang memenuhi masjid hingga akhirnya suasana yang awalnya tegang dan tenang sekarang berubah menjadi ramai dan meriah dengan suara orang-orang.
__ADS_1
Aliya menitikkan air mata bahagianya ketika semua orang mengucapkan kata sah dengan serentak.
"Makasih banyak ya Allah akhirnya putriku sudah resmi menikah dengan pria baik dan memiliki masa depan yang cerah. Saya hanya berharap semoga pernikahan mereka sakinah mawadah warahmah hingga kakek nenek dan hanya maut memisahkan cinta keduanya."