Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 105. Kesedihan dan Kecewa Aliya


__ADS_3

Aliya terduduk di atas sudut ranjangnya Senja, air matanya menetes membasahi pipinya itu. Ia tidak menyangka jika putrinya akan minum pil KB.


Astaughfirullahaladzim ya Allah… a-ku a-pa yang terjadi pada anakku? kenapa bisa sampai mengkonsumsi obat seperti ini! Kenapa putriku bisa-bisanya mengambil keputusan untuk menunda untuk punya momongan.


Aliya menyeka air matanya itu yang sudah semakin membanjiri wajahnya. Ia tidak mengerti dan memahami bagaimana jalan pikiran anaknya itu.


Jingga tanpa sengaja melihat mamanya menangis tersedu-sedu di dalam kamar adiknya. Ia kebingungan dan juga khawatir dengan kondisi mamanya itu.


Apa yang terjadi dengan Mama, kenapa menangis seperti ini, terus benda apa yang dipegang oleh mama?


Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya Jingga,tapi dia juga tidak ingin mengusik apa yang sedang dilakukan oleh mamanya itu.


Jingga awalnya ingin mengetuk pintu terlebih dahulu, tapi segera menghentikan apa yang hendak dilakukannya itu.


Aku tunggu mama bicara langsung padaku, aku takutnya menganggu mama dan dikira terlalu kepo lagi walaupun kenyataannya memang aku sangat penisirin banget dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Jingga memutar tubuhnya itu hingga mamanya langsung memeluk tubuhnya dari belakang.


"Jingga, apa Mama telah salah dan keliru menikahkan adikmu dengan Kabir terlalu cepat! Apa mama sudah salah mengambil keputusan itu? Sedangkan mama hanya ingin melihat Senja bahagia dengan pria yang baik dan bertanggung itu? Apa mama terlalu menuntut pada adikmu itu?" Ratapnya Aliya yang memeluk tubuhnya Jingga dengan erat tapi air matanya semakin menetes membasahi pipinya itu.


Jingga mengelus punggungnya Aliyah mamanya," Mama jujur saja saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi mama dengan Senja,tapi satu hal yang Mama perlu ketahui jika Mama adalah mama yang luar biasa menyayangi anak-anaknya, mama sangat strong menjaga kami siang dan malam tanpa pernah mengeluh lelah sekalipun," ujarnya Jingga.

__ADS_1


Aliya masih memeluk tubuhnya Jingga anak sulungnya itu, "Tapi Nak Senja tidak berfikiran seperti itu, malah Senja berpura-pura bahagia dan menerima pernikahannya dengan Kabir Khasyafani Sanders sebagai suaminya, tapi ternyata demi keegoisannya ia memilih untuk minum obat pencegah hamil Nak, ia sama sekali tidak berniat untuk memiliki anak dari suaminya sendiri,katakan padaku kira-kira kenapa Senja seperti ini?" Keluhannya Aliyah terhadap anak bungsunya itu.


"Kita ke sana duduk ma, sepertinya lebih enak dan nyaman jika duduk sambil berbincang-bincang agar hatinya Mama lebih tenang," ucapnya Jingga yang berusaha untuk membujuk mamanya.


Aliya melerai pelukannya dari pelukan anaknya itu, mereka berjalan bersama ke arah ranjangnya Senja. Aliya pun mulai berbicara mulai dari awal hingga mendapatkan satu paket tablet obat anti hamil. Jingga menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang Mamanya temukan.


"Mama kalau menurut saya pasti ada maksud dibalik keputusannya Senja, karena aku sangat tahu siapa Senja," ucap Jingga yang berdiri di tengah-tengah tidak ingin memihak kepada siapapun.


Aliya sangat sedih dan kecewa dengan apa yang terjadi pada nasib percintaan dan rumah tangga anak keduanya itu.


"Iya sih nak, tapi kamu perlu ketahui jika Senja sejak dia dilamar dia terus menentang keputusan mama untuk menerima pinangannya kelurganya Kabir, Mama terima lamarannya Bu Claudia karena bagi Mama Kabir pria yang baik, penuh tanggung jawab dan pekerja keras, Mama yakin bisa bahagiain Senja, bukan karena Kabir kaya raya sehingga mama memilihnya, tapi karena mama yakin jika kelak mereka akan menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah,"


"Aku yakin pasti ada salah paham disini, jadi aku mohon pada Mama jangan seperti ini karena apa yang Mama lakukan adalah menyiksa mama sendiri, jadi Mama jangan banyak pikiran insha Allah saya yakin pasti akan ada penjelasan dari Senja Ma , jadi mama balik ke kamar untuk istirahat, apa Mama enggak mau persiapkan perjalanan ke Mekah, katanya besok mau berangkat untuk umroh,tapi kalau Mama sedih seperti ini apa beberes pakaiannya akan selesai nggak?" Tuturnya Jingga yang sangat menyesal jika terjadi kesalahpahaman antara adik dan perempuan sangat berjasa melahirkannya ke dunia ini.


Dengan mendengarkan perkataannya dari salah satu anak kembarnya itu, Aliya bisa kembali berjalan ke arah kamarnya.


"Saya yakin Mama pasti sudah ditungguin oleh papa Leo, jadi cepatlah takutnya Papa sudah mencari keberadaan Mama," imbuhnya Jingga yang mendorong tubuh mamanya dengan sangat pelan.


Aliya berusaha untuk tersenyum di depan anaknya itu," Alhamdulillah makasih banyak atas nasehatnya Nak, kamu sungguh selalu mengerti dengan apa yang terjadi pada Mama, kalian berdua adalah masa depan dan kebahagiaannya Mama,"


Aliyah segera berjalan meninggalkan lantai dua menuju lantai dasar dimana kamar mamanya itu berada.

__ADS_1


Aliah diam-diam memperhatikan ke arah Jingga," kalianlah adalah masa depanku, kalian adalah penyemangat hidupnya mama, Mama hanya berdoa agar kalian selalu dalam lindungan Allah SWT dan bahagia dunia akhirat, mendapatkan keberkahan dalam hidup kalian nak."


"Mama jangan banyak pikiran, ingat jaga kondisi kesehatannya. Insha Allah Senja dengan suaminya akan baik-baik saja, Mama jangan terlalu banyak pikiran, doakan saja yang terbaik untuk Senja dan suaminya Ma," tuturnya Jingga.


Jingga menghela nafasnya dengan cukup keras, Jingga menatap ke arah kamarnya Senja adik kembarnya itu.


Senja kakak yakin dengan sangat kamu memilih untuk meminum obat penunda kehamilan, karena kamu pasti trauma dan takut jika pernikahan kalian seperti kedua orang tua kita.


Aku yakin dengan sangat jika kamu memilih jalan ini, karena kamu takut jika pernikahan kalian juga kandas karena orang ketiga, tapi saya hanya berharap semoga pernikahan adikku baik-baik saja.


Sedangkan di perusahaan tempat magangnya Senja Starla Airen Zain dengan ketiga sahabatnya itu menantikan pembagian tugas kerja mereka masing-masing.


"Ya Allah kenapa lama sekali manajer HRD nya yah? kita nunggunya sudah lama," gerutunya Zania.


"Kamu sabarlah mereka pasti akan datang, ingat pekerjaan mereka itu banyak bukan hanya mengurusi anak magang seperti kita ini," ketusnya Icha yang paling santai di antara ketiga sahabatnya sambil memainkan gedjetnya ia menimpali percakapan Zania.


Yang paling tertekan adalah Senja, bukannya karena tidak mampu atau tidak memiliki skill yang memumpuni,tapi karena ia memikirkan jika sewaktu-waktu akan ada yang mengenali dirinya jika dia adalah istri sah sang pemilik perusahaan.


"Sen, kamu baik-baik saja kan?" tanyanya Naysila.


Senja mengalihkannya perhatiannya pada Naysila," Alhamdulillah aku baik-baik saja kok, hanya saja memikirkan Mama yang insya Allah besok akan berangkat ke tanah suci untuk umroh," kilahnya Senja.

__ADS_1


__ADS_2