
Senja merasa aneh diperhatikan lain-lain oleh ketiga sahabatnya itu. Zania, Icha dan Naysila saling bertatapan satu sama lainnya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" Tanyanya Senja yang melihat seluruh tubuhnya.
"Tidak apa-apa kok, kami hanya melihat kamu semakin cantik saja, iya kan teman-teman?" Zania melototkan matanya ke arah kedua temannya itu.
Icha dan Naysila mengerti dengan arti Zania yang melototin kearahnya.
"Iya apa yang dikatakan Zania benar sekali, kamu seperti memancarkan aura yang sungguh berbeda dari hari biasanya," ujarnya Icha yang tidak ingin mengatakan yang sebenarnya di depan Senja dugaan yang mereka takutkan.
Zania menatap intens ke arah Senja," saya akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, perkataan dari Akbar tidak bisa dengan mudahnya dipercaya, tapi ada benarnya juga sih menurut aku gimana kalau aku ngajak anak-anak untuk diam-diam menyelidiki kebenaran itu karena aku yakin Senja bukan perempuan yang seperti Shinta yang nekat menyerahkan kehormatannya demi nilai walaupun dosennya sudah bau tanah aki-aki."
"Kamu sepertinya belum makan kan, gimana kalau saya pesankan makanan yang enak untuk kamu," kilahnya Icha yang segera mengalihkan perhatiannya dari prasangkanya agar Senja tidak curiga dengan sikap mereka yang tidak beres itu.
Senja hanya menganggukkan kepalanya dan kembali teringat jika ia melihat ada beberapa paper bag di atas meja di dalam ruangan kerja suaminya di perumahan khusus dosen.
Ya Allah apa jangan-jangan pak Kabir tadi berniat makan bareng, tapi malah berakhir dengan adegan di ranjang yang penuh peluh keringat.
Senja menutup mulutnya saking malunya dan juga lucu dengan apa yang terjadi barusan bersama dengan suaminya itu.
Kenapa pak Kabir kalau berada di dekatku seolah kehilangan kontrol, semoga saja kalau di tempat umum kami hanya berdua maunya itu enggak muncul.
Icha, Naysila saling bertatapan satu sama lainnya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Senja yang terdiam, melamun tapi sesekali tersenyum tipis.
Aku harus meminta kepada yang lainnya untuk segera menyelidiki apa yang terjadi pada Senja.
Ya Allah… astaughfirullahaladzim semoga saja apa yang saya pikirkan tidak menjadi kenyataan. Aku yakin Senja bukan perempuan murahan.
Amit-amit lah punya teman seperti itu yang menjual kesuciannya hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Gadis berhijab itu bergidik ngeri saking tidak ingin mempercayai, jika salah satu sahabatnya terbaiknya itu bertindak tidak masuk akal yang sangat bertentangan dengan hati nurani dan kepercayaan mereka semua.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, ketiga sahabatnya Senja terus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Sampai-sampai mereka jadi penguntit dari sahabatnya sendiri.
Penyelidikan mereka gagal karena, Kabir dan Senja berpisah beberapa hari. Kabir mengadakan perjalanan bisnis ke Selandia Baru, Sidney Australia. Sehingga untuk menangkap basah keduanya, itu sangat sulit.
Zania menghempaskan bokongnya ke atas kursi yang baru datang pagi itu, ia menghela nafasnya dengan cukup kasar.
"Sudah satu minggu lebih kita mencari tahu siapa orang yang telah bersama dengan Senja. Apa yang dilakukan oleh Senja sebenarnya." Keluhnya Zania.
"Tapi lagi-lagi selalu gagal, kemarin aku datang ke rumahnya Senja bersama dengan kakaknya Jingga. Katanya Senja selalu pulang ke rumahnya setelah pulang kuliah." Timpalnya Icha
"Saya yakin dengan sangat jika apa yang dikatakan Akbar tiga minggu yang lalu itu hanyalah omong kosong belaka yang ingin menghancurkan nama baik dan reputasinya Senja," ketuanya Naysila.
"Sepaham, setuju, sepakat dengan apa yang kamu katakan, Senja hanya pulang pergi dari rumahnya ke kampus dan paling ke mall saja, sisanya tidak pergi lagi," tukasnya Zania.
Untungnya anak buahnya Kabir segera bertindak cepat dan mengabarkan kepada Kabir mengenai beberapa temannya Senja selalu mengikuti Senja kemanapun perginya.
Sehingga Kabir diam-diam memerintahkan kepada Senja untuk beberapa waktu selama mereka berpisah, Senja tinggal bersama dengan kedua orang tua dan kakaknya tanpa sepengetahuan dari Senja sendiri.
Kabir melakukan perjalanan keliling Asia, Australia selama sebulan lebih sehingga Kabir meminta khusus kepada istrinya untuk menetap beberapa hari di rumahnya kedua mertuanya yaitu Alia Azizah Khumaira dan Leo Carlando Zain Pratama.
Kedatangan Senja bersamaan dengan dosen yang akan membimbing mereka ke perusahaan tempat magangnya hari ini. Kebetulan ketiga sahabatnya itu satu perusahaan dengan Senja sehingga mereka sangat bahagia.
Setelah mendengarkan beberapa petuah, aturan, nasehat dan bekal ilmu instan yang mereka dapatkan. Senja dan rombongannya bertolak ke perusahaan tempat mereka magang.
"Alhamdulillah akhirnya bisa mulai magang, tapi ngomong-ngomong perusahaan Sanders tbk itu ceo-nya masih muda enggak?" Tanyanya Naysila.
Puk!!
Plak!!
"Auh!" Keluhnya Naysila yang mendapatkan ketukan, pukulan, tepukan di kedua pundaknya secara bersamaan.
__ADS_1
"Sakit yah! Kalau sakit berarti kamu enggak lagi sedang mimpi, itu bagus!" Sarkasnya Zania.
"Iya nih baru saja mau berangkat magang sudah mikirin CEO ganteng atau jelek! Kamu perlu tahu kalau CEO Perusahaan Sanders itu sudah aki-aki tua bangka!" Cibirnya Icha.
Senja hanya menatap kelakuan lucu ketiga sahabatnya itu sambil membuka kunci mobilnya. Ketiganya berlawanan arah dengan Senja, karena sahabatnya mencari keberadaan mobil lamanya Senja yang berwarna biru itu.
"Hey! Ngomong-ngomong kita ini nggak kesasar kan?" Ucapnya Zania.
"Coba kalian perhatikan,di sekitar sini mana ada mobilnya Senja, pemilik mobilnya juga ngga muncul, kemana perginya Senja?" Icha mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat parkiran khusus mobil.
Hingga suara bunyi klakson mobil yang cukup bising dan ribut mengganggu dan mengusik perbincangan mereka bertiga.
"Eh copot… comot…" suara latahnya Naysilla yang terkejut ketika tepat di belakang mobilnya ada sebuah mobil sport tipe khusus perempuan yang berada tepat di belakang tubuhnya.
"Ya Allah ini mobil bagus banget, saking bagusnya pengen punya juga tapi beli mobil yang murahan saja kagak bisa saat ini, tapi siapa yah pemiliknya?" Icha bertanya-tanya mengenai siapa pemilik mobil mahal itu.
Senja segera menyembulkan kepalanya ke arah luar agar ketiga sahabatnya menyadari jika dia adalah yang mengemudi mobil tersebut.
"Kalian masih betah berlama-lama disini atau ikut denganku!?" Jeritnya Senja.
Mereka saling bertatapan sambil menautkan kedua alisnya mereka yang tidak percaya jika Senja mengemudikan mobil yang super canggih,mahal dan modern serta khusus dipakai di arena lintasan balap.
"Senja!" Jerit mereka bersamaan.
"Ayo buruan entar kita terlambat lagi," teriak Senja yang cukup lantang dan melengking tinggi itu.
"Ayo masuk sebelum kita terlambat pertanyaannya disimpan saja dulu ,okey!" Imbuhnya Zania.
Semuanya duduk di tempat kursi masing-masing, Zania duduk di sebelah kursi pengemudi sedangkan kedua temannya itu duduk di kursi penumpang.
"Wooo mobil kamu keren banget beb," pujinya Icha yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dan takjub dengan teknologi modern yang dipakai di dalam mobil itu.
__ADS_1
"Mujinya nanti yah, yang paling penting kalian pakai sabuk pengaman, saya nggak mau gara-gara kalian tidak pakai seat beltnya melanggar aturan rambu-rambu lalu lintas dan kena tilang dari Pak polisi!" Canda Senja.
Semua segera memakai sabuk pengaman masing-masing tanpa banyak protes lagi dan suara celotehan mereka pun tidak terdengar. mereka sibuk mengagumi kecanggihan teknologi dari mobil sport miliknya Senja.