
Senja tidak bisa tenang karena dia khawatir jika ketiga sahabatnya mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Ya Allah semoga saja tidak ada yang mengenaliku, jika tidak rahasia kami akan terbongkar.
Berselang beberapa menit kemudian, manajer bagian HRD sudah datang. Ketiganya bisa bernafas lega setelah menunggu beberapa lama.
"Masya Allah gantengnya, pagi-pagi gini disuguhi dengan wajah tampan mirip oppa Korea Selatan benar-benar sungguh nikmat mana TuhanMu yang kamu dustakan," cicitnya Naysila yang memang kalau wajah ganteng pasti akan klepek-klepek dan mengagumi setinggi setiap wajah pria yang dilihatnya.
"Kalau rata-rata wajah yang bekerja di perusahaan seperti ini ya Allah sungguh aku akan betah magang dari subuh sampai malam bahkan sampai tengah malam pun aku kan jabanin," cicit Icha.
"Selamat datang di perusahaan Sanders Company semoga saja kalian betah magang di perusahaan kami ini dan ingat jangan lupakan baca dengan detail aturan di perusahaan kami, seperti Anda kedepannya jangan memakai pakaian yang kekurangan bahan karena salah satu aturannya disini adalah tidak boleh berpakaian seksi dan rok harus minimal dibawah lutut karena ini bukan club atau mall tapi perusahaan!" Tegasnya Hakim Rahman.
Icha segera menatap dan memperhatikan dengan seksama pakaiannya. Perkataan dari Hakim Rahman mampu menohok hatinya itu.
Temannya yang lain tersenyum tipis menanggapi pernyataan dari Hakim.
"Siap Pak kami akan menjalankan amanah dan tugas kami disini dengan baik sesuai dengan aturan," ujarnya Naysila.
"Iya Pak saya tidak akan berpakaian seperti ini lagi," timpalnya Icha sembari menundukkan kepalanya ke arah bawah karena dihari pertamanya mendapatkan teguran keras.
"Alhamdulillah Makasih banyak Pak atas kerjasamanya dan mohon bimbingannya," ujarnya Zania.
Manajer HRD itu hanya tersenyum simpul membalas perkataannya Zania dan menatap intens ke Senja.
"Maaf siapa yang bernama Senja Starla Airen Zain?' tanyanya sang Pak manajer muda itu.
Senja mendongakkan wajahnya ke arah manajer itu," iya Pak," jawabnya dengan gagap.
"Maaf khusus untuk tugas Anda adalah menjadi asisten pribadinya CEO kita Pak Khaisan Sanders, tapi untuk sementara beliau belum datang jadi untuk sementara waktu Anda mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh Bu Sarah," terangnya Hakim Rahman.
"Oh iya Pak saya akan melaksanakan sesuai dengan arahan bapak Hakim," balasnya Senja.
Mereka cukup gembira mendapatkan pembagian kerjanya. Tapi, mereka kembali tidak percaya apabila ternyata Senja Starla Airen Zain ditempatkan sebagai asisten CEO.
__ADS_1
Hakim segera meninggalkan ruangan tersebut, semuanya kembali terduduk di atas kursi ruang tunggu.
"Akhirnya ketegangan awal bisa terlewati,ya Allah baru hari pertama magang sudah disuguhi dengan kata-kata terindah dari manajer HRD Pak Hakim," keluhnya Icha sambil menghempaskan tubuhnya ke atas kursi.
Hahaha," kamu juga yang salah karena tidak berfikir sebelum memilih pakaian, makanya esok-esok kalau mau pilih baju jangan asal ngambil doang," cibirnya Naysila.
"Sebenarnya kamu yang kurang jeli dalam berbusana, kalau kena teguran seperti ini pasti enggak asyik kan," tebaknya Zania.
Zania, Icha dan Naysila saling bertatapan satu sama lainnya karena merasakan keanehan kepada sahabatnya itu.
Zania memberikan kode kepada kedua temannya itu, Icha dan Naysila saling bertatapan satu sama lain sambil mengangkat pundaknya.
Zania menepuk pundaknya Senja, "Hey Senja,kamu baik-baik saja kan beb?" Tanyanya Zania yang keheranan bin kebingungan dengan sikap sahabatnya sejak pagi tadi.
"Saya enggak apa-apa kok hanya saja kenapa meski harus jadi asisten CEO, bukannya itu sama saja dengan kerjaannya pasti sangat banyak dan melelahkan," elaknya Senja yang tidak tahu mencari alasan apa agar ketiga sahabatnya tidak curiga.
"Oh gitu, kalau memang sudah diputuskan seperti ini, sebaiknya dan jalan yang terbaik adalah jalanin saja dengan tulus, ikhlas insha Allah mungkin ini jalan yang akan datang membuat kamu dan aku mendapatkan nilai yang bagus, sempat dari ini kita bisa keterima bekerja tanpa susah payah," harapnya Zania.
"Kalau gitu mana semangatnya besti geng cendol tidak pakai tape," ucapnya Icha dengan penuh semangat seraya menaikkan tangannya.
Hahaha
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di posisi pekerjaan masing-masing. Ketiga sahabatnya kembali tercengang melihat ruangan khusus yang ditempati oleh Senja yang cukup mewah, tidak seperti anak magang.
Ketiganya mengekor di belakang Senja tapi segera dicegah oleh Bu Sarah ketika melihat ketiga anak mahasiswi magang mengikuti istri bosnya pemilik perusahaan tersebut.
"Maaf kalian bertiga tempat tugasnya bukan disana,tapi harus belok kiri kalau belok kanan di depan ujung jalan khusus untuk asisten CEO," cegah Bu Sarah.
Zania, Icha dan Naysila langsung spontan menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan dari Bu Sarah. Senja juga berhenti berjalan dan ikut kebingungan dengan situasi yang terjadi.
"Kami mengira jika ruangan kami juga di sana Bu," sahutnya Naysila yang cukup malu.
"Tidak apa-apa, kalau begitu silahkan bekerja, buktikan pada kami jika kalian memang layak magang di perusahaan kami dan paling utama baca secara rinci aturan di perusahaan kami, kapan Anda semua melakukan pelanggaran-pelanggaran maka tidak ada kata kesempatan kedua Anda harus out dari sini," ultimatum dari Bu Sarah.
__ADS_1
"Kami pasti akan menunjukkan dan membuktikan kepada kalian bahwa kami memang pantas berada disini Bu," tegasnya Senja.
"Sepertinya kita butuh berpelukan dulu beb sebelum kita mulai beraksi,ingat baik-baik kita ke sini bukan untuk bertamasya atau melancong tapi menunjukkan kepada mereka jika kita bukan sekedar anak magang yang hanya numpang mejeng saja," Senja merentangkan tangannya dan melupakan statusnya di perusahaan tersebut.
"Iya semangat yah beb, ingat jam makan harus ngumpul di sini lagi," ucapnya Zania yang seperti orang yang akan berpisah beberapa bulan saja reaksi dan sikapnya itu.
Ini pasti ulahnya pak Kabir, tapi lumayan lah daripada dengan anak-anak lain yang harus berbagi ruangan dengan karyawan lainnya.
Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah berada di posisi masing-masing.
"Bismillahirrahmanirrahim," Senja memutar kenop pintu ruangannya.
Senja berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut tidak terlalu besar tapi cukup bagus, unik, mewah dengan fasilitas penunjangnya yang sangat memadai.
Dia menyentuh kursi yang akan nantinya didudukinya itu yang menemani Senja selama kurang lebih tiga bulan kedepannya.
Pak Kabir entah kenapa aku mendapatkan perhatian yang cukup istimewa, padahal saya tidak pernah mencintainya sedikitpun.
Aku hanya menganggap pak Kabir sahabat dan teman hidup saja enggak lebih.
Senja berkeliling mengitari ruangannya, ia membuka tirai gorden jendela kantornya. Semua yang ada di luar terpampang jelas dimatanya, sedangkan siapapun dari arah luar tidak melihat mereka.
Tapi, sejauh ini apa yang diberikan Pak Kabir sungguh terkadang membuat aku tercengang dengan semua ini.
Entah kenapa hatiku sangat sulit untuk menerima kebaikan ini sebagai rasa cintanya padaku.
Senja kembali menutup tirai tersebut yang berwarna biru langit itu. Dia segera berjalan ke arah meja kerjanya.
Mungkin perempuan di luar sana pasti akan sangat bahagia dan sudah heboh dengan bersuamikan seperti pak Kabir yang sudah ganteng, tajir melintir dan juga sholeh.
kembali lagi kenapa hatiku seperti sulit dan masih tersegel dengan rapi, walau kami sering berakting sebagai pasangan suami istri tapi, itu hanya akting dan sandiwara doang bukan seperti kenyataan yang sesungguhnya.
Sedangkan di dalam sebuah hotel mewah seseorang yang baru saja selesai, mengerjakan pekerjaan terakhirnya minggu ini di negara Australia itu merenggangkan kedua tangannya ke samping.
__ADS_1
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga, sudah dua minggu aku meninggalkan Senja istriku, Kabir berdiri dari duduknya sambil berjalan ke arah jendela besar," Hem kira-kira apa yang sedang dilakukannya? mungkin sudah mulai bekerja, apa aku telpon saja yah aku ingin sekali mendengar suaranya itu."