Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 227


__ADS_3

"Benar sekali bro, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan yang harus kita jalani dengan kuat, sabar dan pantang menyerah dan paling penting tetap tawakal kepada Allah SWT dan terus berikhtiar untuk memperbaiki apa yang sudah rusak," sahutnya Mike Andres.


"Allah SWT adalah penentu segalanya, jadi tidak mungkin ada akibat tanpa sebab dan apa yang sudah terlanjur terjadi karena kehendak Sang Maha Kuasa," terangnya Fajri Bachan yang ikut nimbrung sambil sesekali menyesap kopinya yang masih mengepul asapnya itu.


Semua orang terlihat sibuk mengurus persiapan akad nikahnya Alif Naufal dengan Asminah Meidina dan ulang tahunnya Gibran Mahesa, Jinan Ranya dan adiknya Jihan Yuanni Ulli.


Sore hari Jinan duduk di salah satu bangku taman dia mengamati bunga-bunga yang bermekaran di hinggapi kupu-kupu dan lebah yang mencari madu.


"Ya Allah… pernikahan mereka sudah ditentukan bulan depan tanggal 21, tapi kenapa aku malah masih berharap jika aku masih punya kesempatan untuk bersatu dengan bang Kaisan."


Jinan sesekali menyeka air matanya itu yang terus menerus menetes membasahi pipinya. Dia tidak ingin ada orang lain yang melihat apa yang sedang dilakukannya itu.


Padahal tukang kebun omanya itu memperhatikan apa yang dilakukannya,tapi karena Jinan memakai bahasa Indonesia sehingga keamanan rahasianya bisa terjamin.


Sedangkan di dalam rumah, Jihan mencari keberadaan kakak keduanya itu dengan memasuki hampir semua ruangan yang sering dimasuki oleh kakaknya. Senja yang melihat tingkah lakunya Jihan yang aneh segera menghampirinya putrinya itu.


"Raisa, apa kamu lihat kak Jinan?" tanyanya Jihan sambil menyambar segelas jus jeruk yang baru saja dibuat oleh Raisa Andriana yang belum sama sekali dicicipinya.


Raisa membulatkan matanya saking terkejutnya melihat apa yang dilakukan oleh Jihan.


"Jihan!! Itu minuman punyaku!" Teriaknya Raisa Andriana yang jengkel melihat kebiasaan kakak sepupunya itu.


Jihan duduk di salah satu kursi kemudian segera menenggak habis minumannya itu dalam sekali tegukan, saking hausnya hingga minuman tersebut ludes dalam sekejap mata saja.


Jihan mengelus lehernya dibalik hijabnya itu, "Alhamdulillah segarnya, sudah capek kesana kemari dan aku lihat langsung ada yang gratisan jadi aku sikat saja jusnya, mumpung ada yang seger di depan mata," ucapnya Jihan beralasan.


"Iya memang kebiasaan kamu seperti ini, aku jadi malas buat sendiri jus kalau seperti ini mulu," gerutunya Raysa.


Jihan hanya tersenyum penuh kemenangan melihat ketidakberdayaan Raisa sahabat yang sudah dianggapnya saudara itu.

__ADS_1


"Apa kamu melihat kak Jinan?" Tanyanya Jihan.


Raisa hendak menjawab pertanyaan dari Jihan, tapi Senja malah lebih duluan bersuara.


"Kakakmu sepertinya ada di taman belakang rumah, kenapa emangnya kamu mencari kakakmu Nak?" Tanyanya Senja dengan menautkan kedua alisnya itu.


"Aku ada urusan dikit, tapi urusan ini enggak bisa aku tunda lagi Moms," balasnya Jihan sembari mengangkat jarinya seperti kode secuil.


"Kalau gitu kamu buruan kesana, takutnya kakakmu pergi," ucap Senja.


Jihan mengecup pipi kirinya Senja sebelum meninggalkan dapur.


"Bye Mommy cantik," Jihan mempercepat langkahnya menuju ke arah luar bagian belakang rumah opanya itu.


Senja hanya tersenyum simpul melihat kepergian putrinya itu," aku tidak menyangka jika putriku tinggal sebulan lagi dia akan menjadi milik orang lain," cicitnya Senja yang raut wajahnya langsung berubah.


Raisa memeluk tubuh auntynya itu,dia juga paham dan mengerti dengan apa yang terjadi pada perempuan yang menjadi sahabat mamanya sejak awal kuliah dulu.


Raisa lebih dekat dan akrab dengan Senja daripada mamanya sendiri yaitu Naysila. Karena usia dan jarak dengan kelahiran adiknya dulu terlalu dekat sehingga mau tidak mau Raisa sering dititip di rumahnya Senja ketika Naysila dan Ardian Putra sibuk bekerja dalam keadaan hamil.


Senja berusaha untuk tersenyum walau hatinya merasakan kegelisahan dan ketakutan. Senja menatap punggung putri bungsunya itu dengan tatapan matanya yang menyiratkan ada perasaan tidak rela melepas kepergian putrinya dengan begitu cepatnya.


Senja mengusap lengannya Raisa Andriana yang sudah seperti anaknya sendiri.


Apa mungkin seperti ini yah rasanya dulu mama Aliya melepaskan aku,ketika aku akan menikah dengan bang Kabir.


Mama aku sangat merindukanmu, cucumu dan dek Ocean Skala sudah besar mereka juga sering membicarakan Mama dan papa.


Alfatihah untuk kalian berdua Aliaya Azizah Khumairah dan Leo Carlando Zain semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kalian dan menerima segala amal ibadahnya papa dan mama. Amin ya rabbal alamin.

__ADS_1


Jihan mempercepat langkahnya menuju ke arah taman belakang, hingga sapaan dari beberapa maid yang menyapanya tidak dibalasnya dengan kata-kata melainkan hanya dengan senyuman lebarnya saja.


Semoga saja kak Jinan setuju dengan persyaratan yang akan aku sampaikan.


Jinan berharap besar agar apa yang sedang direncanakannya berhasil dengan baik dan lancar.


"Bang Kai, kenapa kamu tidak mengenaliku. Apa karena wajah kami sama sehingga kamu menyangka jika Jihan adalah aku. Apa kamu sudah melupakan semua janji-janji yang pernah kamu berikan padaku?" Jeritnya Jinan yang melepaskan uneg-unegnya melalui teriakannya.


Jinan mendongakkan kepalanya ke arah sebuah buket bunga yang sudah tersuguh ke hadapan wajahnya langsung.


"Non Jinan, ini bunga yang baru aku petik khusus untuk Non Jinan karena aku yakin Nona pasti butuh bunga ini untuk menenangkan hatinya Nona," imbuhnya pria yang tidak jauh berbeda dengan usianya itu yang bekerja sebagai tukang kebun.


Jinan segera mengusap wajahnya dengan menggunakan jari tangannya itu dan segera menetralkan perasaannya. Karena tidak ingin ketahuan oleh orang lain, terutama tukang kebun ini.


Semoga pak Gilbert tidak mengerti apa yang tadi aku katakan, jika tidak bisa gawat andaikan ada yang mengetahui apa yang aku katakan barusan.


"Makasih banyak Pak Gilbert atas bunganya. Ini sungguh sangat cantik dan wanginya sungguh enak dihirup dan langsung menenangkan hatiku," ujarnya Jinan sambil sesekali menghirup aroma wangi bunga tersebut dengan dalam-dalam.


"Tidak perlu berterima kasih Non Jinan,kamu pantas mendapatkan bunga yang sangat cantik seperti wajahnya Nona  yang cantiknya luar dalam," ucapnya lagi Gilbert yang memakai bahasa Inggris yang tidak pintar berbahasa Indonesia.


Gilbert segera meninggalkan tempat itu setelah tidak ada komentar dari Jinan. Dia hanya sedih melihat cucu majikannya itu bersedih. Pak Gilbert kembali melanjutkan menata beberapa tanaman bibit bunganya yang sudah ditanamnya beberapa hari lalu.


Jihan tersenyum sumringah melihat punggung kakaknya yang berada di atas ayunan sambil sesekali mencium bunga mawarnya.


"Kaisan Al-ayyubi Haitam, aku sangat mencintaimu tapi kenapa malah justru akan menikah dengan adik kandungku! Apa kamu tidak menyadari dan menyelidiki terlebih dahulu siapa yang akan kamu nikahi itu! Itu bukan gadis remaja berseragam putih abu-abu yang menolong kamu dulu, tapi Jinan Ranya Kasyafani lah yang menolongmu!" Pekik Jinan yang ingin membuang jauh kesedihan dan kekalutan hatinya itu.


Jihan yang mendengar perkataan dari kakaknya dibuat terkejut. Perkataan itu sungguh mengejutkan baginya.


Apa!? Jadi karena alasan inilah sehingga pak Kaisan ingin menikahiku karena salah sasaran dan salah orang.

__ADS_1


Jihan terpaku ditempatnya berdiri,ia tersenyum bahagia dan bangga, karena rencananya kalau seperti ini akan lebih mudah sukses.


"Jadi kakak Jinan suka dengan Pak Kaisan? Tapi kenapa menyembunyikan dari kami semua! Andaikan kakak jujur pada kami pasti aku bakal menolak mentah-mentah lamarannya mereka," tuturnya Jihan dari belakang punggungnya Jinan.


__ADS_2