
Kabir yang mendengar suara teriakannya Senja segera berbalik badan. Awalnya Kabir merasa marah dan kesal dengan sikapnya Senja.
"Aahhh tolong!!" jeritnya Senja yang terjatuh ke atas lantai.
Kabir yang hendak berjalan ke arah kamar mandi segera menolehkan kepalanya ke arah Senja yang sudah tersungkur ke atas lantai dalam keadaan tanpa memakai busana apapun itu.
"Senja!!" jeritnya Kabir.
Tapi mendengar teriakannya sang istri Kabir segera berlari cepat dengan hanya memakai handuk sebatas perutnya saja. Kabir memangku tubuhnya Senja ke atas pahanya sembari menepuk-nepuk pipinya Senja.
"Astaughfirullahaladzim Senja istriku bangunlah, jangan seperti ini aku mohon sadarlah, Abang tidak marah kok," ucapnya Kabir dengan memelas.
Kabir menyelimuti seluruh tubuhnya Senja yang tanpa sehelai benangpun membungkus tubuhnya itu. Kabir merebahkan tubuhnya Senja dengan sangat hati-hati dan pelan agar Senja tidak merasakan kesakitan.
"Sayang! Jangan seperti ini aku mohon bangunlah, Abang meminta maaf padamu, Abang yang sudah bersalah, Abang janji tidak akan pernah memaksa kamu untuk berkata jujur tentang perasaanmu lagi yang paling penting kamu berada di sisiku itu sudah cukup bagiku," ratapnya Kabir yang masih berusaha untuk menyadarkan Senja.
Kabir segera mengutak-atik laci lemarinya,tapi sama sekali tidak menemukan minyak angin atau minyak kayu putih aromaterapi. Semua benda yang terdapat di dalam sana sudah dikeluarkan hingga tercecer ke atas lantai.
Ya Allah kenapa satu pun barang yang aku cari enggak ada d dalam sini, tidak mungkin juga saya meminta tolong kepada mama Aliya takutnya mereka akan mengetahui apa yang sudah terjadi.
Kabir sudah prustasi mencari benda itu yang sangat bagus untuk diberikan kepada Senja agar segera tersadar dari pingsannya.
Kabir kesana kemari mencari keberadaan dari benda yang bisa membantu membangunkan Senja. Kabir melihat ke arah tembok dimana ada kontak berwarna putih dominan dan merah sebagai warna campurannya.
Sepertinya minyak anginnya ada di sana, Bismillahirrahmanirrahim semoga saja ada seperti yang aku harapkan.
Kabir segera memakaikan terlebih dahulu pakaian ke tubuhnya Senja dan membersihkan sedikit sisa dari ulahnya sendiri di atas tubuhnya Senja.
Kabir dengan telaten dan penuh hati-hati memasangkan satu persatu pakaiannya Senja. Tanpa ada sesuatu yang aneh terjadi padanya dengan melihat keseluruhan permukaan kulitnya Senja.
Alhamdulillah bajunya sudah terpasang dengan baik, sekarang giliran untuk mengoleskan minyak kayu putih ini ke keningnya, ubun-ubun dan tengkuk lehernya Senja. Dia secepatnya mengoleskan minyak kayu itu dengan sangat pelan dan hati-hati takutnya membuat kulitnya Senja lecet.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup banyak minyak kayu putih, ia segera membereskan barang-barang mereka yang tercecer ke atas lantai.
Ya Allah semoga saja Senja baik-baik saja dan tidak ada hal buruk terjadi pada istriku. Aku sangat takut ya Allah andaikan istriku kenapa-kenapa.
Ini semua salahku sendiri yang terlalu egois sehingga membuat Senja seperti ini. Apa aku perlu memanggil dokter untuk memeriksa kondisi kesehatannya Senja,tapi takutnya Papa Leo dan mama Aliya berangkat ke Mekah untuk umroh bisa terbebani dengan kejadian ini.
Kabit tak henti-hentinya mengecup punggung tangannya Senja yang sedikit dingin. Air matanya menetes membasahi pipinya itu hingga terjatuh tepat di atas hidungnya Senja beberapa kali tetesan air mata tanpa disadari oleh Kabir.
Kabir pasrah pada keadaan jika Senja marah padanya, ia tidak akan melawan asalkan Senja tersadar dari pingsannya itu.
Ya Allah jika terjadi sesuatu pada istriku karena ulahku sendiri, aku tidak akan bisa memaafkan diriku ini yang sudah membuat istriku sendiri sakit.
Aku siap menerima hukuman apapun atas kesalahanku ini, aku tidak sanggup melihat istriku tidak sadarkan diri padahal sudah hampir setengah jam.
Senja Starla Airen Zain tolong bangunlah, apa kamu terlalu marah pada Abang sehingga enggan untuk membuka kelopak matamu?
Berselang beberapa menit kemudian, Kabir yang sudah kelelahan mengoceh dan tak henti-hentinya menangis tersedu-sedu. Senja pun terbangun ketika Kabir yang kelelahan dalam perjalanan pulang dari Sidney Australia ke Indonesia Jakarta. Akhirnya tumbang juga dengan suara dengkuran halus dari bibir mungilnya itu.
Senja mengelus puncak suraunya Kabir yang seperti rambut orang bule asli itu yang sedikit panjang. Padahal hanya berpisah sekitar dua minggu lebih.
Pak Kabir maafkan saya, jujur saja saya belum mampu untuk mengatakan padamu bagaimana perasaanku.
Karena jujur aku masih sangat bingung dengan perasaanku sendiri. Saking bingungnya sampai-sampai aku tidak tahu bagaimana rasa yang ada di dalam hatiku ini.
Maafkan aku yang belum siap untuk membuka hatiku untukmu pak Kabir suamiku. Aku terlalu takut kecewa dan sakit hati jika kelak pernikahan kita seperti pernikahannya papa dan mama yang hancur dan rusak gara-gara orang ketiga.
Senja sudah terbangun dan sadar dari pingsannya ketika Kabir mengutarakan permintaan maafnya.
Ya Allah apa aku sudah berdosa jika telah membuat suamiku seperti ini? Tapi aku sangat sulit untuk mencintai.
Andaikan mudah jatuh cinta semudah membalik telapak tangan, mungkin sudah dua tiga orang sudah kekasihku ketika aku masih singel belum menikah.
__ADS_1
Aku terlalu takut yah Allah jika pernikahanku tidak lebih dengan apa yang dialami oleh Mama Aliyah.
Berselang beberapa menit kemudian Senja memutuskan untuk bangun dari posisi rebahannya itu. Ia bergerak dengan sangat pelan agar tidak mengusik ketenangan dari tidur suaminya itu.
Mungkin pak Kabir sangat kelelahan maklum baru balik dari Sydney Australia sehingga ia tertidur sangat nyenyak dan nyaman.
Senja baru saja ingin bangkit dari posisi duduknya, tapi ternyata tangannya terus digenggam oleh Kabir.
Ya Allah kalau seperti ini bagaimana caranya aku bisa masuk kamar mandi. Keluhnya Senja yang tidak habis pikir melihat gaya tidur suaminya.
"Andaikan bisa aku pipis di sini saja," lirihnya Senja sambil memegangi perut bagian bawahnya yang sudah aneh karena meress Megan dan kram karena menahan buang air kecil.
Senja kembali ingin bangkit, tapi tiba-tiba kepalanya pusing dan seperti ruangan disekitarnya yang dilihatnya seperti berputar.
"Auhh!" Keluh Senja sembari memegangi kepalanya yang sedikit puyeng.
Kabir pun segera bangun dari tidurnya ketika menerjemahkan suara keluhannya Senja.
"Sen, apa yang terjadi padamu sayang? Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Kabir yang sangat mengkhawatirkan kondisi dari Senja.
"Ehh a-nu a-ku baik-baik saja Pak Kabir, hanya saja sedikit pusing," jawabnya Senja.
Senja baru teringat terakhir kali berhubungan badan dengan suaminya hampir sebulan lalu yaitu ketika di perumahan elit khusus dosen hingga hari ini ia belum pernah minum pil kbnya lagi.
Tidak mungkin masa hanya sekali enggak minum langsung hamil? Apalagi saya tidak melakukannya lagi setelah itu karena pak Kabir pergi keluar negri hampir sebulan lamanya.
Tapi seharusnya sudah tiga hari lewat jadwal datang tamu bulananku. Tapi sampai hari ini belum muncul juga, apa sebaiknya aku cek pakai tespack saja yah.
Kabir menautkan kedua alisnya itu melihat Senja yang terdiam tapi dari raut wajahnya dan binar matanya menandakan orang yang sedang pusing karena banyak pikiran.
"Hey! Senja kamu baik-baik saja kan?" tanyanya Kabir.
__ADS_1
Pertanyaan Kabir membuat Senja tersentak terkejut hingga tubuhnya sedikit terangkat saking kagetnya.
"Ehhh a-nu anu aku a-ku baik saja kok," kilahnya Senja.