Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 212


__ADS_3

Dua puluh tahun kemudian…


November, 2023.


"Berhenti!" Teriak seorang gadis yang berhijab warna biru berdiri tepat di samping motornya.


"Jihan, sudah tidak perlu meminta pertanggungjawaban dari pria itu aku tidak apa-apa kok," bujuknya seorang gadis yang pakaiannya kotor terkena cipratan genangan air hujan.


Air matanya yang sudah menetes membasahi pipinya yang putih mulus bersih itu.


Gadis yang disapa Jihan itu menolehkan kepalanya ke arah gadis yang memintanya untuk berhenti berteriak.


"Kamu yah! Selalu saja seperti ini, setiap kali ada yang menindasmu pasti selalu mengalah dan tidak mau membalasnya!" Gerutu gadis yang disapa Jihan.


"Tidak ada gunanya juga meminta pertanggungjawaban mereka, buktinya mereka tidak ada kapoknya menganggu Delila. Mungkin sebaiknya kita berdua langsung melabrak Ansel dan kawan-kawannya dan menanyakan langsung kenapa selalu menganggu Delila," sahutnya Jinan.


"Hemph, apa jangan-jangan salah satu dari mereka menyukai Delila lagi. Kami memang bukan asli Inggris, tapi tidak sepantasnya mereka juga selalu memperlakukan Delila seperti ini!" Ketusnya Dania.


"Itu bisa jadi, karena hanya Delila lah yang sering mereka incar. Tapi, kamu juga sih terlalu lemah sedikit-sedikit menangis kalau ada yang gangguin kamu! Coba kamu lawan mereka pasti mereka tidak akan ada yang berani berbuat seperti ini lagi," tegasnya Giska.


"Kalau uncle Ocean dan Abang Gibran tahu mereka pasti dapat masalah! Tapi mami dan aunty Senja melarang untuk mengadu kepada siapa pun jika hanya mengalami masalah kecil dan sepele seperti ini," Raisa Andriana pun menambahkan.


"Kalau gitu kita telpon Mamang Ardi saja untuk bawain kamu pakaian ganti, hari ini hari pertama kita masuk kuliah dan juga ini Inggris bukan Indonesia jadi tidak ada baik mencari masalah di negara orang yang baru kita datangi." Nasehatnya Jinan.


"Sudahlah lagian sisa setahun juga kita disini, sudah dekat balik ke Jakarta. Jadi tidak baik cari masalah dengan pria yang bernama Ansel itu!" Dengusnya Dania.


Ke enam perempuan muda dan cantik itu segera meninggalkan tempat terjatuhnya Delila. Memang setiap hari, Delila jika berangkat ke kampus akan memakai motor. Bahkan banyak teman-temannya yang tidak mengetahui jika mereka adalah anak-anak orang berada, karena gaya hidup yang mereka pilih adalah sederhana saja.


"Kamu enggak apa-apa kan Del?" Tanyanya Giska.


"Enggak apa-apa kok, hanya pakaian aku saja yang sedikit kotor. Kalau gitu kalian duluan saja, aku dengan Jihan akan menunggu sampai Mang Ardi datang," pintanya Delila.


"Okey,kami akan meninggalkan kalian berdua, tapi ingat Jihan jika anak bego dan brengsek itu datang ganggu lagi cepat hubungi kami," harapnya Jinan yang memang terlahir tomboi tapi memakai hijab.


Semua cucunya Aliah Aziza Humaira memakai hijab, begitupun juga dengan anaknya Antonio, Zania Mirzani, Naysila yang memang terlahir ke dunia ini sebagai perempuan.


Semua anak-anaknya mereka memilih untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Tepatnya di London Inggris UK dengan jurusan yang berbeda.


Seorang pemuda duduk ke atas kursi yang kebetulan kosong melompong itu dengan seringai liciknya.

__ADS_1


"Aku berhasil menganggu gadis itu lagi," ucap Ansel Alfarizi.


"Kamu memang selalu saja mengusili gadis tidak berdaya itu, apa sih asyiknya mengganggunya?" Cercanya Gibran yang sama sekali tidak mengetahui jika adik sepupunya yang dikerjai oleh temannya sendiri.


"Mungkin dia jatuh cinta dengan gadis itu kali," tebaknya Iqbal Rizanta sambil menyambar gelas yang berisi minuman berwarna non alkohol itu.


"Hemm.. bisa jadi. Lagian gadis itu cantik dan pintar. Kalau aku diposisinya kamu langsung nembak saja kenapa meski dijahili," timpal Alif Naufal Azhar yang hanya menerka saja.


Plagh…


"Kamu asal nebak saja, padahal kamu belum pernah melihatnya!" Sanggah Ansel.


Ansel memang belum pernah sekalipun mengajak anggota genknya itu jika mengusili Delila, melainkan hanya mengajak antek-anteknya yang tidak ada yang mengenali ke enam gadis muda itu.


"Tapi, aku tidak mungkin nembak cewek lain lagi, soalnya sudah ada Giska seorang saja yang ada di hatiku. Tidak akan pernah tergantikan," ucapnya Alif Naufal yang mencintai anak dari sahabat papanya.


"Kalau dengerin kisah cinta sang penakut ini, sepertinya kita akan lambat masuk kelas," sarkasnya Gibran yang langsung bangkit dari posisi duduknya sambil tersenyum penuh arti ke arah temannya itu.


"Iya nih takutnya dosen galak kita mengurangi nilai lagi gara-gara terlambat," ujarnya Iqbal Maulana.


Aku juga seperti Alif Naufal yang hanya mampu mencintainya dengan seperti ini. Aku terlalu takut ditolak sehingga aku tidak mampu dan tak berdaya mengatakan perasaanku padanya.


Ansel adalah pemuda keturunan blasteran Indonesia-Belanda yang kebetulan kuliah di Inggris. Tetapi, hubungan mereka dengan cucu-cucunya Bu Clara cukup akrab dan dekat.


Persahabatan orang tua mereka berlanjut dan diteruskan oleh anak-anaknya. Bahkan ada beberapa yang saling mencintai dalam diamnya.


Gibran berjalan beriringan dengan Ocean," Gib, katanya Mama Senja mau datang bulan ini ke London,"


"Katanya sih, tapi entah apa kali ini jadi kenyataan atau hanya omdo saja. Kamu tahu kan Mama Senja trauma naik pesawat semenjak kakek Abbas Khaer meninggal dunia gara-gara pesawatnya terjatuh." Ungkapnya Gibran.


Ocean menghentikan langkahnya ketika berada di depan pintu masuk kelasnya sambil menepuk pundaknya keponakannya rasa teman itu.


"Perbanyak berdoa agar Mama Senja bisa datang ke London menjenguk kita semua," Ocean segera masuk ke kelasnya berpisah dengan temannya yang lain.


Kehidupan anak-anak mereka cukup mulus dan lancar. Hanya sesekali mengalami ujian kecil saja selama di kampusnya.


Hari-hari terus berlalu hingga tersisa beberapa bulan saja mereka akan menambatkan pendidikannya di luar negeri.


Jakarta…

__ADS_1


"Sudah hampir lima tahun semenjak kepergian papa Abbas,tapi kamu belum siap juga untuk bepergian ke luar negeri," ucap Kabir seraya mengambil roti yang barusan diolesi selei kacang oleh Senja.


Senja menghentikan sejenak kegiatannya itu kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah suaminya.


"Aku masih takut bang, entah ketakutan ini akan bertahan sampai kapan atau akan menghilang seiring waktu," tuturnya Senja.


Sekitar kurang lebih lima tahun yang lalu Senja dan beberapa anggota keluarganya melakukan perjalanan dari kota Surabaya ke Jakarta. Tapi,naas ketika pesawat mereka akan mendarat, terjadi trouble masalah yang sangat fatal dan serius hingga beberapa dari penumpang dan awak kapal meninggal dunia termasuk papa mertuanya Abbas Khaer.


Sejak itulah, Senja tidak pernah melakukan perjalanan sekalipun menggunakan pesawat. Dia cukup traumatik dengan musibah yang pernah menimpanya.


"Jinan dengan Jihan mengerti banget dengan keadaannya kamu istriku, tapi Gibran setiap kali dia ulang tahun, kamu selalu ada tapi selama empat tahun terakhir ini, Gibran selalu melewati hari ulang tahunnya selalu tanpamu." Ungkapnya Kabir.


Senja menitikkan air matanya karena ketidakmampuan dan ketidakberdayaannya itu untuk melawan rasa takut.


Bukan hanya pak Abbas yang meninggal dunia, melainkan Bu Clara neneknya Kabir pun turut menjadi korban kecelakaan maut itu. Sedangkan Senja mengalami beberapa luka di sekujur tubuhnya kala itu.


"Aku akan berusaha untuk mencobanya Bang, aku minta pada Abang untuk persiapkan keberangkatan kita besok ke London," titahnya Senja.


"Tapi, kalau kamu enggak bisa. Abang mohon jangan sekali-kali memaksakan dirimu. Kalau kamu enggak bisa jangan dipaksa karena aku yakin Gibran putra kita bakal paham dan memakluminya," tukasnya Kabir.


"Tidak apa-apa Bang, insha Allah aku kali ini bisa jalaninya. Demi anak-anakku aku yakin pasti bisa."


Senja pun mengantar kepergian suaminya ke kantornya hingga ke depan pintunya. Mereka berjalan penuh keromantisan layaknya bak pengantin baru saja yang tidak pernah sedikitpun rasa sayangnya surut dimakan oleh usia pernikahan yang sudah lama.


Senja memberikan tas kerja suaminya itu dengan meraih punggung tangan suaminya untuk dia cium penuh takjim.


"Assalamualaikum," ucapnya Kabir.


"Waalaikum salam," balasnya Senja dengan senyuman termanisnya.


Sepasang mata sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan oleh kedua pasangan suami istri itu dengan tatapan matanya yang sulit untuk dimengerti.


Aku sudah berusaha untuk memisahkan kalian berdua, tetap selalu saja gagal. Bahkan semakin membuat kalian semakin mencintai.


Sudah 20 tahun aku menanti perceraian kalian tapi, tidak berhasil juga. Bahkan ketika Nyonya Senja dikatakan ikut dalam kecelakaan maut, tapi ternyata kamu masih hidup. Ketika itu aku sudah bersyukur dan bahagia karena aku merasa Tuhan sudah berpihak padaku.


Tapir,pada kenyataannya kamu masih diberikan umur yang panjang. Aku pun sudah menggoda Tuan Kabir,tapi hasilnya aku hampir di penjara.


Apa aku harus mengubur dalam-dalam rasa ini ingin menjadi nyonya besar di rumah ini?

__ADS_1


Bagi gift iklan, vote, gift poin dan koin nya yah... bagi like, komentar tentunya.


__ADS_2