Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 131. Hasil Tes


__ADS_3

Guntur Aswin tersenyum simpul melihat kedatangan dua pasangan suami istri yang kelak akan menjadi mertuanya itu.


Guntur segera berjalan ke arah kedua calon mertuanya dan segera mengecup punggung tangan mereka satu persatu.


"Assalamualaikum Paman Leo," ucapnya Guntur.


"Waalaikum salam Nak Guntur, bagaimana kabarnya?" Tanyanya Leo sekedar berbasa-basi saja.


"Alhamdulillah seperti yang Paman lihat, saya sangat sehat dan kuat siap untuk menjadi suaminya putrinya paman Leo," ucapnya Guntur yang tersenyum lebar.


"Alhamdulillah kalau seperti itu Nak, saya sebagai papanya Jingga sangat bahagia mendengarnya," sahutnya Leo Carlando.


Semuanya tersenyum sumringah mendengar percakapan dua pria berbeda generasi itu.


"Senja, Kabir Kasyafani suamimu gimana kabarnya di Amerika? Kapan balik ke Indonesia, kira-kira apa dia balik ke Jakarta kalau kakakmu akan menikah?" Tanyanya Leo dengan memberondong banyak pertanyaan untuk putri keduanya itu.


Senja terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa karena memang dia tidak mengerti harus menjawab apa. Jingga yang mengetahui kebingungan adiknya segera menyudahi pertanyaan papanya itu.


Jingga merangkul lengan adik satu-satunya itu, "Insha Allah adik ipar balik ke Jakarta pa, apalagi adikku ini akan segera memberikan kalian segera cucu," ungkapnya Jingga yang berusaha untuk mengalihkan perhatian kedua orang tuanya itu.


"Iya Paman Senja akan memberikan cucu penerus untuk keluarga Sanders dan juga kelurga besar Nasution, tidak lama lagi mungkin lima bulan yah insha Allah," tebaknya Guntur.


Aliyah dan Leo saling bertatapan satu sama lain terutama Aliah merasa sedikit lega dan juga tidak mungkin percaya karena sebelum kepergiannya ke Arab Saudi untuk menjalankan ibadah umroh. Dia menemukan sebuah tablet obat pencegah kehamilan atau pil kontrasepsi.


Aliya berjalan ke arah putri bungsunya itu sambil memeluk tubuh Senja," syukur alhamdulilah Nak,kau akhirnya hamil juga, mama sungguh sangat bahagia mendengarnya, semoga saja kehamilanmu ini membawa berkah hingga pernikahan kalian semakin langgeng dan sakinah mawadah warahmah hingga kakek nenek," ucapnya Aliah penuh harap.


"Amin ya rabbal alamin," Jawab semuanya itu.


Nanti malam aku akan menghubungi anak itu, dan bertanya apa dia tidak ingin melihat anaknya lahir ke dunia ini.


Seharusnya semarah apapun jika mengenai seorang bayi amarah dan keegoisan harus segera diredam demi kebahagiaan bersama.

__ADS_1


Kabir Kasyafani memang pria keras kepala, wataknya seperti kakek kalau sudah ngomong A sulit untuk mengubah pendiriannya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil yang sama. Tetapi, Senja tidak bisa pulang bersama karena meminta ijin adalah urusan yang sangat penting untuk dia lakukan.


Senja meminta ijin kepada kedua orang tuanya dan kakaknya. Dia hendak ke rumah sakit dengan alasan untuk mengecek kehamilannya padahal alasan utamanya adalah untuk memeriksa kanker darah leukimia yang diidapnya selama tiga bulan terakhir ini.


Aku harus segera ke rumah sakit, sebelum terlambat. semoga saja masih punya waktu untuk bertemu dengan dokter Rahayu Purwaningsih kare, hanya dia yang mengetahui kondisi kesehatanku.


Untungnya papa dan mama segar mengerti dan mengijinkan aku pergi, jika tidak kesempatan besar untuk bertemu dengan dokter Rahayu akan terlambat lagi dan gagal seperti bulan lalu.


Besok adalah hari akad nikahnya Adnan Hamesh apakah suamiku bang Kabir akan pulang atau enggak besok pagi akan terjawab.


Kalau abang nggak pulang berarti rasa marahnya lebih besar dari rasa cintanya padaku. Tapi entah kenapa ya Allah aku takut jika selama Abang di new York dia menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari aku segala-galanya.


Mungkin kisah kami akan segera usai, jika bang Kabir berpaling dariku. Tapi aku sangat takut jika keraguan dan ketakutan aku itu menjadi kenyataan.


Senja segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit swasta terbesar di Jakarta itu. Rumah sakit yang dikepalai oleh seorang wanita muda yang bekerja sebagai dokter spesialis termuda pula yang baru saja menjadi seorang istri bernama Shaira Innira Abidzar Al-Ghifari.


Senja segera memarkirkan mobilnya dengan rapi dan berharap agar penyakitnya segera sembuh. Selama dirinya mendapatkan hasil tes laboratorium, ini yang kedua kalinya akan mengecek langsung hasil lab tersebut.


Senja mendaftar administrasi terlebih dahulu untuk bisa ke lab. Setelah adminitrasi selesai. Senja disuruh untuk menunggu beberapa saat sambil mengantri, karena antrian yang cukup panjang.


Tapi, baru saja hendak mendudukkan tubuhnya ke atas kursi tunggu, dia melihat dan mendengar suara isak tangisnya seseorang.


"Astaauhfirullah aladzim kenapa penyakitku semakin parah, kalau seperti ini aku semakin sulit untuk hidup bahagia bersama suamiku," ratapnya orang itu yang bertubuh mungil dengan mengikat rambutnya yang panjang.


Senja sedikit kepo dan penasaran dengan apa yang dilakukan oleh perempuan itu. Sehingga ia berusaha mencoba untuk mendekati perempuan tersebut.


"Selamat siang Mbak, kok bisa nangis seperti ini ada apa?" Tanyanya Senja yang berusaha untuk menenangkan perempuan itu.


Sang perempuan mendongakkan kepalanya ke arah Senja Starla, perempuan itu bukannya menjawab pertanyaan dari Senja malahan langsung memeluk tubuhnya Senja dan semakin mengeraskan suara tangisannya itu.

__ADS_1


"Hiks… hiks hidupku tidak akan lama lagi Mbak, saya divonis oleh dokter mengidap penyakit kanker sel darah putih stadium lanjut," jelasnya perempuan itu.


"Astaughfirullahaladzim berarti kita senasib Mbak, ya Allah aku kira hanya aku yang menderita penyakit mematikan ternyata ada juga yang lebih parah dari nasibku," lirihnya Senja.


Berselang beberapa menit kemudian, giliran Senja untuk masuk ke dalam lab. rasa takut mulai merasuki jiwa dan raganya itu. Pikirannya sudah berkecamuk dengan berbagai macam hal yang tidak baik.


"Nyonya Senja Starla Airen Kasyafani!" Teriak seorang perawat yang mampu membuyarkan lamunannya itu.


Senja segera bangkit dari duduknya sambil menjawab teriakannya perawat e.


"Saya sendiri suster," pekiknya Senja yang sengaja mengeraskan suaranya itu.


"Silahkan masuk Bu," ucapnya perawat itu.


"Makasih banyak," balasnya Senja.


Beberapa jam kemudian, hasil lab pun telah keluar Senja harus membawa hasil pemeriksaannya ke ruangan praktek dokter Rahayu Purwaningsih seperti anjuran dari pegawai laboratorium.


Senja sudah duduk di hadapan dokter Rahayu Purwaningsih," bagaimana dengan hasil tesnya Dok, apakah penyakitku sudah sembuh atau semakin bertambah parah saja?" Tanyanya Senja yang mengerutkan keningnya melihat sikap dan reaksinya dokter Rahayu ketika memeriksa kertas yang bertuliskan secara rinci hasil tesnya Senja.


Senja terdiam sesaat karena dokter muda itu masih terdiam dan tidak menjawab ataupun menggubris perkataannya Senja dan tetap fokus ke atas kertas itu.


Dokter Rahayu segera menelpon beberapa orang yang bekerja di lab. Dia ingin memastikan hasil labnya Senja sudah benar atau jangan-jangan salah ataukah tertukar.


"Tolong secepatnya keruangan ku," perintahnya Dokter Rahayu.


Senja yang kebingungan dengan apa yang dilihatnya itu langsung mengajukan sebuah pertanyaan kepada dokter tersebut yang sibuk memeriksa kertas putih yang bertuliskan hasil tes kesehatannya Senja.


"Maaf dokter apa yang terjadi?" Tanyanya Senja yang sudah tidak sabar menunggu dokter berbicara.


"Sesuai dengan yang tertulis di sini Anda baik-baik saja tidak ada penyakit kronis ataupun ringan yang Bu Senja derita, makanya saya meminta kepada pegawai lab uji untuk segera ke ruanganku karena Anda mengatakan jika Anda ini mengidap penyakit kanker sekitar tiga bulan lalu, tapi seperti yang tertulis di sini anda negatif tidak mengidap penyakit kanker hanya positif hamil jalan empat bulan,"jelas dokter Rahayu panjang kali lebar.

__ADS_1


Senja tersentak terkejut mendengar perkataan dari dokter," itu tidak mungkin!?"


insha Allah awal bulan 9 akan ada readers paling aktif akan dapat bonus baca kecil-kecilan. Jadi stay terus yah untuk mendukung belum berakhir.


__ADS_2