
Senja tanpa sengaja melihat Kabir suaminya hanya mematung, terdiam sambil memegangi salah satu pakaian yang tergantung di dalam lemari pakaian khusus untuk suaminya.
"Maaf pak mungkin model dan harga serta kualitas dari pakaian yang aku pilih langsung sendiri enggak cocok dengan seleranya bapak, maaf lain kali aku akan bertanya kepada bapak mengenai pakaian yang bapak sukai dan pantas," ungkapnya Senja dengan sedikit kecewa karena pilihannya ternyata tidak sesuai dengan keinginannya Kabir suaminya itu.
Senja jelas-jelas kecewa dan sedih karena apa yang sudah dilakukannya itu tidak disukai oleh Kabir menurut persepsinya sendiri. Padahal Kabir terperangah kaget dan sekaligus bahagia karena mendapatkan perhatian khusus dan spesial dari istrinya.
"Saya tidak…" ucapannya Kabir terpotong.
Tetapi, Senja salah sangka jika menganggap Kabir kecewa dan tidak menyukai dengan apa yang dilakukannya khusus untuk suaminya itu. Senja segera menutup rapat-rapat pintu lemarinya Kabir dengan tergesa-gesa dan sedikit perasaan kesalnya.
"Kalau bapak tidak suka tidak apa-apa, bapak bisa hubungi Asisten pribadi bapak untuk membawa pakaian ke sini,maaf saya hanya bisa menyediakan pakaian murahan dengan kualitas jelek dan modelnya yang kurang bagus!" Ketusnya Senja.
Kabir hanya terkejut melihat reaksi dan sikapnya Senja yang sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara mengutarakan keinginannya itu. Kabir ingin membuka mulutnya untuk berbicara kembali tapi, lagi-lagi dicegah oleh Senja.
"Senja saya sama sekali tidak…," perkataannya Kabir lagi-lagi disela oleh Senja sehingga sama sekali tidak memiliki kesempatan dan waktu untuk berbicara.
Kabir pun pasrah dengan apa yang diyakini oleh Senja, karena menentang dan menyela pembicaraan dari Senja tidak ada gunanya juga. Ia pun pasrah saja menerima apa yang akan dilakukan oleh Senja.
"Stop Pak Kabir! Tidak perlu berbicara apapun itu, saya paham dan mengerti dengan apa yang akan bapak katakan, sabar saya akan menelpon bunda Hanin untuk segera mengantarkan beberapa lembar pakaian untuk bapak selama tinggal disini," Senja setelah berbicara seperti itu langsung mengunci pintu lemari tersebut.
Senja berjalan ke arah jendela kamarnya dan melempar kunci lemari tersebut saking jengkelnya dan marahnya terhadap sikap suaminya. Kabir tersentak melihat jika Senja melempar jauh kunci lemari pakaiannya.
"Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi padanya?" Kabir hanya terdiam saja melihat kunci itu sudah terlempar kebawah menuju tanah di sekitar taman.
Senja segera meninggalkan kamarnya dan suaminya seorang diri. Ia segera menuruni tangga karena baru hendak makan siang padahal sudah mau masuk waktu shalat ashar.
"Kenapa begitu marah padaku? Padahal aku tidak pernah sekalipun mengatakan untuk menghina pakaian yang disediakan olehnya untukku. Malah saya bersyukur karena diperhatikan olehnya sehingga saking bahagianya aku tidak mampu berucap sepatah kata pun juga," cicitnya Kabir.
__ADS_1
Kabir segera ke luar dari dalam kamarnya itu, ia segera menuruni satu persatu undakan anak tangga rumah kedua mertuanya. Untungnya tidak ada yang melihat apa yang sedang diperbuatnya.
Kabir berjalan ke arah luar kamarnya itu dan mencari kunci lemarinya yang dilemparkan oleh Senja dari atas balkon kamarnya.
"Sepertinya jatuh ke dalam taman ini kuncinya, ya Allah apa aku harus mencari kunci itu, dan tidak mungkin aku mengabari bunda untuk meminta pakaian ganti takutnya mereka akan berfikiran yang tidak-tidak tentang permintaanku ini,"
Kabir mulai melakukan pencarian kunci lemarinya itu. Hingga dengan bersusah payah akhirnya kuncinya ketemu juga.
Kabir mengangkat kunci itu hingga ke depan tepat wajahnya," Alhamdulillah akhirnya kau ketemu juga kunci, aku tidak akan mengatakan kepada Senja jika aku menemukan kuncinya, aku harus segera masuk sebelum ada orang yang melihatku di taman,"
Kabir berjalan perlahan-lahan dan memperhatikan kondisi sekitarnya. Ia tidak ingin kegiatannya itu diketahui oleh keluarga istrinya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dan orang mengetahui kondisi pernikahannya yang sebenarnya.
Kabir segera meraih beberapa lembar pakaian yang ada di dalam lemari itu lengkap dengan pakaian paling terdalamnya. Semua ukuran sesuai dengan yang dipakainya. Sehingga Kabir kembali takjub dengan pilihan istrinya itu.
"Ngomong-ngomong kok dia tahu banget dengan ukuran celana,baju dan underwear yang sering aku pakai yahe? Apa dia ngintip tapi dia belum pernah masuk ke dalam kamarku, atau mungkin hanya menduga dan mengira-ngira saja sehingga mungkin ia mengetahui ukuran punyaku, aku cukup gembira karena walau kau belum mencintaiku setidaknya kamu sudah perhatian padaku,membuat aku sudah cukup gembira untuk saat ini."
Kabir duduk di atas sofa sambil memainkan gedjetnya itu dengan menunggu kedatangan istrinya. Senja teringat jika Kabir juga belum santap siang sehingga mereka berinisiatif untuk membawa beberapa macam makanan untuk Kabir suaminya.
"Semoga saja makanan ini disukai oleh pak Kabir, kalau tidak pasti bikin jengkel lagi, tapi kalau memang nggak suka tak apa-apa juga sih yang paling penting kan aku sudah penuhi tanggung jawabku sebagai seorang istri,"
Senja pun masuk kedalam kamarnya dan mendapati suaminya sedang memainkan ponselnya dan sambil sesekali tersenyum tipis.
"Hemmph!" Senja berdehem untuk mengalihkan perhatiannya Kabir.
Kabir langsung menatap Senja yang datang membawa sebuah nampan yang berisi makanan. Ia pun segera mematikan layar ponselnya tersebut dan menyambut kedatangan Senja.
Sedangkan Senja diam-diam memperhatikan pakaiannya Kabir dari ujung rambut hingga ujung kakinya itu. Ia melihat pakaian yang dipakai Kabir.
__ADS_1
"Apa bunda Hanin sudah membawa pakaian ganti untuk pak Kabir yah? Karena kalau mengambil pakaian dari dalam lemari itu sungguh sangat mustahil terjadi mengingat semua kunci lemari tersebut sudah aku buang jauh-jauh. Tidak mungkin jika Pak Kabir mencari hingga ** bawah sana,"
Senja menaruh beberapa piring dan mangkuk ke atas meja sofa dengan perlahan dan sangat pelan. Senja takut jika ia melakukan kesalahan dan membuat Kabir suaminya itu marah.
"Maaf Pak hanya makanan seperti ini saja yang ada di rumah, semoga bapak menyukainya," ujarnya Senja yang segera mempersilahkan Kabir untuk makan.
"Makasih banyak, kebetulan sekali saya sangat lapar, ini pasti enak," ucapnya Kabir sambil mencicipi rendang daging sapi yang dibuat oleh Aliya langsung baru masak beberapa menit yang lalu.
"Alhamdulillah kalau pak Kabir menyukainya, silahkan makan pak," tuturnya Senja yang hendak berdiri dari posisi duduknya tapi secepatnya dicegah oleh Kabir.
"Maaf saya terbiasa makan ditemani oleh orang lain, jadi aku mohon mulai detik ini jika saya makan tolong duduk saja di sampingku walau kamu enggak ikut makan bersamaku," pinta Kabir.
Senja pun kembali duduk untuk melayani suaminya itu dengan patuh,ia tidak berniat untuk menyanggah atau menentang permintaan dari suaminya tersebut.
Kabir mulai menyantap satu persatu makanannya yang sudah berada di atas piringnya. Tapi, baru sesuap nasi saja yang masuk ke dalam mulutnya itu,ia pun kepedisan.
Kabir segera meraih gelas yang belum terisi air sama sekali. Untungnya Senja dengan gerakan lincah, cepat dan gesit dan tanggap darurat ia menuangkan air kedalam gelas tersebut. Senja kaget melihat raut wajahnya Kabir yang memerah menahan rasa pedas dari cabai di dalam bumbu rendang daging itu.
Keringat dingin bercucuran membasahi pipinya Kabir, bibirnya memerah, hidungnya dan kedua bola matanya memerah saking tidak mampunya menahan kepedisan.
"Astaughfirullahaladzim pak Kabir,kalau enggak bisa makan yang pedes jangan dipaksakan,kalau begini jadinya kan berabe buat bapak sendiri," gerutunya Senja yang segera berdiri untuk mengambil permen dan cokelat di dalam laci meja riasnya.
Kabir sungguh malu karena ia seorang pria tapi sangat lemah dan tidak berdaya jika harus makan cabai walau sebiji.
Permen dan cokelat dapat secara efektif melarutkan kapsaisin di cabai sehingga mampu meredakan rasa pedasnya cabai.
Senja segera menyodorkan sebungkus besar permen candy dan cokelat ke hadapannya Kabir yang masih mengipas-ngipas bibirnya itu. Ia segera meraih sebungkus cokelat itu dan segera mengunyahnya tanpa berbasa-basi sedikitpun.
__ADS_1
"Perhatianmu saja kepadaku sudah buat aku sangat bahagia bisa menikahimu,"