
Abrizam adalah anak dari salah satu teman satu sekolahnya Aliya Azizah Khumaira dulu. Yaitu ibu Sintia teman putih abu-abunya Aliya hingga detik ini mereka masih menjalin hubungan pertemanan dan berencana untuk menjodohkan anak-anak mereka.
Jingga Aurora Zain dengan Abrizam Abraham Samad. Walau mereka masih kuliah di semester empat, tapi keduanya sudah setuju dan sepakat dengan perjodohan anak-anak mereka.
"Makasih banyak saya tunggu ojol saja, lagian saya juga sudah pesan ojek onlinenya," tolaknya Jingga dengan penawaran yang dilakukan oleh Abriz.
"Apakah kamu yakin akan naik motor ojol dari sini ke rumah papamu? Jaraknya lumayan jauh loh, aku anterin kamu yah lagian ini permintaan bunda Shintia jadi tolong jangan menolak niat baik kami," bujuknya Abriz lagi.
"Tumben loh ngomongnya enggak ngegas dan judes! Biasanya selalu ngomongnya pakai urat syaraf tinggi!" Sarkasnya Jingga.
Jingga memang tidak pernah akur dengan ketua tingkatnya ini jika di kampus atau di manapun. Teman-teman mereka menyematkan gelar sebagai kucing dan tikus segala. Apalagi mereka memang sering adu mulut dan debat pendapat.
Tapi, entah kenapa dosen yang mengajar di kelasnya setiap kali ada tugas berkelompok pasti keduanya satu dalam kelompok tersebut. Sehingga semakin runyam dan penuh dengan intrik kehidupan keduanya di kampus.
Hari ini mereka baru mengetahui jika keduanya sama-sama dijodohkan oleh kedua orang tuanya masing-masing. Abrisam memang sejak awal mereka bertemu sudah ada rasa cinta, tetapi terkadang Abriz jengkel, marah dan cemburu jika ada cowok yang mendekati Jingga.
"Ya Allah hari ini aku lagi dalam mode baik untuk nolongin kamu, apa sih salah yah jika menawarkan bantuan kepada teman sendiri," balasnya Abrisam yang menatap intens ke arah perempuan yang sungguh dicintainya setulus hatinya itu.
"Kalau aku naik ojol bisa-bisa aku kesasar dan terlambat ketemu papa, sepertinya tidak ada pilihan dan opsi lain hanya yang tersisa ikut bareng sama cowok rese satu ini."
Abrizam segera menyodorkan helm ke dalam tangannya Jingga yang terdiam mematung itu. Abriz tersenyum simpul melihat kediaman Jingga.
"Aku yakin kamu tidak akan mampu menolak pertolonganku, untungnya ojol yang dipesannya enggak datang, ini kesempatan bagus untuk dekat dengan gadis yang selalu tercantik di mataku,"
"Baiklah aku ikut,tapi kalau bisa diantarin juga pulang yah, aku takut kesasar soalnya," lirih Jingga sambil memasang helm di kepalanya itu.
Abriz tersenyum lebar melihat gadisnya menurut perkataannya itu, "Tunggu dulu kamu pakai jaket punyaku ini, takutnya nanti kamu masuk angin," pintanya Abriz yang segera melepas jaketnya dari tubuhnya yang cukup macho dan sispack diusianya yang masih muda itu.
Jingga agak malu dan sungkan menerima kebaikan dari cowok, tapi ia tidak punya pilihan lain lagi yang bisa dipilihnya selain mengikuti semua perkataannya Abris.
__ADS_1
Abriz memperbaiki letak helmnya Jingga seraya berucap," kamu pakai apapun akan selalu terlihat cantik di mataku," pujinya Abriz.
Perkataan memuji dari Abriz membuat Jingga tercengang serta terkejut mendengar perkataan dari pria yang terlihat kalem, dingin,cuek dan sedikit jutek biasanya tapi saat ini semua persepsi dan pandangan sikapnya Abriz berbeda jauh dari kebiasaannya di kampus.
Jingga sudah duduk di belakangnya Abriz, dia duduk sedikit berjauhan dengan tubuhmu Abriz karena tidak ingin mereka bersentuhan secara langsung apabila mereka berdekatan terlalu dekat.
"Kamu berpegangan yah,kalau ada apa-apa bicara saja," sarannya Abriz sebelum memulai memajukan kendaran roda duanya itu di atas aspal.
Jingga berpegangan pada besi yang terpasang pada ujung motor. Dia tidak mungkin memegangi tubuhnya pria yang bukan mahramnya.
"Andaikan nggak terpaksa aku pasti tidak akan mau satu motor dengannya," gerutu Jingga sembari memonyongkan bibirnya.
Perjalanan mereka tempuh terbilang cukup ampuh jauh, tapi keduanya menikmatinya dengan santai. Jingga tidak lagi marah-marah atau memperlihatkan wajah ditekuknya.
"Kalau kamu tersenyum sungguh membuat hatiku semakin berdebar kencang dan berbunga-bunga bagaikan di taman bunga saja,"
Abrizam sesekali memperhatikan Jingga melalui kaca spion motornya itu. Ia sering kali mencuri pandang ke arah Jingga dan paling parahnya ia selalu ngerem mendadak sehingga tubuhnya Jingga terdorong ke depan menyentuh punggung lebarnya Abrisam.
Ya Allah cowok ini baik juga rupanya, tidak seperti kebiasaannya yang dilakukannya di kampus. Bahkan seperti dua orang yang berbeda karakter saja.
Berselang beberapa menit kemudian, motor gede mogenya Abrisam sudah sampai di depan rumah bertingkat dua yang terbilang cukup besar dan mewah itu di jalan XX, nomor 123 dan blok X.
"Apa kita sudah sampai?" Tanyanya Jingga setelah mesin motornya Abriz berhenti.
Abriz menganggukkan kepalanya itu sebelum membuka pengikat helmnya dari atas kepalanya. Lagi-lagi Abrizam membantu Jingga untuk membuka helem yang dipakainya itu.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri kok bukanya," cegah Jingga.
Tapi, dasar Abrisam yang keras kepala tidak mau mendengar penolakan dari Jingga. Dia tetap melakukan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
Jingga Aurora Zain jadi tidak enak hati karena diperlakukan terlalu istimewa dari pemuda yang selalu membuatnya kesal setengah mati. Bahkan teman-teman kelasnya yang sering melihat pertengkaran mereka malahan memberikan julukan untuk mereka yaitu the Queen dan Princes Tom dan Jerry.
Jingga langsung berjalan ke arah pagar dan melihat ada seorang bapak-bapak yang sedang duduk santai sambil menyaksikan acara televisi di layar TV nya itu.
Jingga celingak-celinguk memperhatikan keadaan rumah itu sebelum bertanya kepada security tersebut. Tapi ternyata upayanya terlambat start oleh Abrisam yang sudah berdiri di depan pos jaga.
"Assalamualaikum pak Beno," sapanya Abrizam.
Jingga terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Abrisam yang mengenali penjaga keamanan rumah papanya itu.
Pria yang disapa Beno itu segera menolehkan kepalanya ke sumber suara yang tepat di samping sisi kanannya ruangan kecil khusus untuk pos penjaga.
Pak Beno tersenyum sumringah melihat Abrisam," Ehh Den Abriz,tumben datang sendiri abang Abdilnya mana den?" Tanyanya Pak Beno Junianto yang sudah berjalan ke arah Abrizam.
"Abang kerja lah Pak bareng Paman Lutfi, kalau aku enggak sendiri ke sini sih Pak, ada urusan penting yang sangat mendesak soalnya," balasnya Abrisam.
"Oh gitu, ngomong-ngomong mau ketemu siapa Den Abryz?" Tanyanya lagi Pak Beno.
"Saya mau…," ucapan Abriz terpotong oleh suara klakson mobil tepat dari belakang keduanya.
Abryzan dan Jingga reflek berpindah tempat dari depan pagar rumah yang menjulang tinggi itu yang dibuka oleh Mang Beno. Beliau tidak ingin dimarahi jika terlambat membukakan pintu tersebut.
Mobil sedan putih itu melaju masuk ke dalam garasi rumah yang cukup besar itu. Jingga hanya menatap intens ke arah mobil tersebut hingga pintu mobilnya terbuka lebar.
Dari dalam mobil itu keluarlah beberapa orang, satu perempuan paruh baya dan dua pria yang jelas berbeda usianya. Anak kecil yang kira-kira berusia sepuluh tahun itu segera keluar dari dalam mobilnya. Kemudian seorang ibu-ibu yang masih kelihatan muda diusianya.
Yang paling terkahir adalah pria dewasa dengan pakaian kerjanya membalut tubuhnya yang masih kekar dan sehat bugar. Jingga menajamkan penglihatannya ke arah pria itu yang masih sangat jelas dalam ingatan penglihatan dan kepalanya siapa pria itu.
"Papa Leo!" Teriaknya Jingga yang hanya berdiri mematung di tempatnya setelah berteriak cukup lantang dan melengking tinggi.
__ADS_1
Semua orang mengalihkan pandangannya dan perhatiannya ke sumber suara. Leo Carlando Zain Pratama segera menoleh ke arah belakang. Ia tercengang melihat siapa gadis bergaun selutut dengan ikat rambutnya yang hanya satu itu.
"Jingga putrinya Papa," ucapnya Leo Carlando Zain Pratama yang segera berlari ke arah dimana putrinya berada.