Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 121


__ADS_3

Kabir pergi ke New York Amerika Serikat dengan perasaan yang hancur dan kacau balau. Kabir memandangi langit melalui kaca jendela pesawat jet pribadi miliknya.


Sesekali ia menyeka air matanya itu, hatinya bagaikan teriris ribuan pisau yang langsung menikam jantungnya.


Senja Starla Airen, abang tidak akan pernah menceraikan kamu. Memang aku sangat sedih dan kecewa, tapi cintaku padamu tidak akan berubah.


Aku pergi bukan berarti tidak lagi peduli terhadap calon anak kita dan kamu. Tapi aku pergi untuk menenangkan hatiku, aku berharap semoga kepergianku ini membuatmu segera sadar arti aku dalam hidupmu selama ini.


Kabir membuka dompetnya dan melihat fotonya sendiri bersama dengan Senja perempuan yang terpaut jauh usianya dengannya. Senja 23 sedangkan Kabir sudah tiga puluh tahun.


Aku mohon padamu jagalah calon baby kita, aku tidak akan meninggalkan kamu selamanya, aku sudah tempatkan Rio dan Anton yang akan selalu menjagamu kemanapun kamu pergi.


Kabir mengecup gambarnya Senja, foto yang selalu menjadi penyemangat dan pelipur lara ketika Kabir bepergian jauh dari sisi istrinya itu.


I love you forever Senja Starla Airen Pratama.


Keesokan harinya, sebelum Senja pulang ke rumahnya dia sempatkan untuk memeriksakan kondisi kehamilannya. Dokter mengatakan semuanya dalam keadaan yang baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan apapun itu.


"Kondisi bayi Anda baik-baik saja, semuanya aman dan normal, Ibu harus rutin minum vitamin dan obatnya, ibu Senja bisa datang kembali untuk memeriksakan kondisi kehamilannya tanggal 7 bulan depan atau walau jadwal belum tiba karena ada keluhan yang ibu rasakan silahkan datang langsung kemari atau menelpon nomorku saja untuk mengatur jadwal pemeriksaannya," tuturnya Bu dokter Miranti SpOG.


Senja tersenyum simpul, "makasih banyak dokter, Insha Allah Bu dokter, kalau gitu saya permisi dulu assalamualaikum," pamitnya Senja yang segera meninggalkan ruangan praktek dokter Miranti.


Jingga yang melihat Senja berjalan ke arah luar segera bangkit dari posisi duduknya yang sedari tadi menemani Senja melakukan cek up rutin selama hamil.


"Kamu besok masih cuti dari magang atau sudah mau masuk kembali seperti sedia kala?" Tanyanya Jingga yang meraih resep obatnya Senja dari dalam tangan adiknya itu.

__ADS_1


Senja menatap ke arah kakaknya itu,"insha sudah mulai masuk kembali, enggak enak sama teman yang lain padahal sudah libur empat hari," tampiknya Senja.


Keduanya segera berjalan ke arah apotik bergandengan tangan, mereka terkadang menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang memadati rumah sakit siang hari itu.


Kak apa Mama dan papa sudah menelepon kakak?" tanyanya Senja.


"Alhamdulillah subuh tadi, Papa menelpon katanya mereka baik-baik saja, ibadah mereka lancar saja," jawabnya Jingga.


"Syukur alhamdulilah kalau mereka baik-baik saja, semoga saja mereka pulang dengan selamat, aku lupa kalau mereka akan ke Korea Selatan Seoul terlebih dahulu sebelum balik ke Indonesia Jakarta," tuturnya Senja.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk papa dan Mama dan semoga segera balik ke tanah air," ucapnya Jingga.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan apotek, Jingga yang segera menyetor kertas resep dari dokter untuk menebus obat dan vitamin khusus ibu hamil.


Senja duduk di dalam satu kursi besi panjang bercat putih itu. Ia tanpa sengaja melihat ada seorang perempuan hamil ditemani oleh suaminya yang begitu perhatian terhadap istrinya sendiri.


Senja menghela nafasnya dengan gusar dan sedikit kasar. Tapi ketika hendak berdiri, tanpa sengaja melihat punggung seorang perempuan muda yang sepertinya dikenalnya itu.


Senja berdiri dari posisi duduknya dan hendak mengikuti kemana langkah kakinya Icha khaerunisa, "Bukannya itu Icha?"


Senja terus berjalan mengikuti langkah kakinya Ica dan melihat Icha berdiri di depan pintu ruangan praktek dokter kandungan.


"Itukan ruangannya dokter Maryam Nurhaliza, dokter kandungan yang kemarin membantuku waktu di ugd, astaughfirullahaladzim apa yang terjadi dengan Icha,"


Senja baru saja ingin menyapa Icha, tapi segera dia hentikan upayanya karena baru teringat dengan statusnya yang sebagai ibu hamil tanpa ada seorang pun temannya yang mengetahui kondisinya itu.

__ADS_1


Icha menolehkan kepalanya ke arah Senja bertepatan dengan Senja yang segera bersembunyi dan berlindung dibalik dinding tembok. Karena ia tidak ingin ketahuan oleh Icha.


Besok saja aku akan bertanya padanya, apa yang dicarinya di rumah sakit. Apa jangan-jangan dia sedang sakit atau ada masalah dengan kesehatannya?


Segala pertanyaan muncul dibenaknya Senja mengenai kedatangan sahabatnya itu.


Astauhfirullah aladzim, tapi tidak mungkin Icha hamil kan? Kalau hamil itu anak siapa Icha kan belum menikah? Ini pasti tidak mungkin. Aku saja yang salah paham terhadap Ica. Bisa saja dia mengambil obat untuk saudaranya.


Jingga yang melihat gelagat aneh dari adiknya itu segera dihentikan dengan menepuk pundaknya Senja.


"Sen! Apa yang kamu lakukan? Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Jingga yang baru saja muncul setelah menebus obatnya Senja.


Senja reflek menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, "Ehh! A-nu a-ku i-tu," ucapnya Senja yang merespon tepukannya kakaknya yang tak terduga.


Jingga mengerutkan keningnya melihat tingkah lakunya Senja yang menurutnya aneh.


"Tapi kamu dan kandunganmu baik-baik saja kan? Kakak takut nih melihat kamu seperti ini," ujarnya Jingga.


Senja segera menetralkan perasaannya yang masih sedikit terkejut itu," insya Allah saya baik-baik saja kok kak,kalau gitu kita balik yuk ke rumah aku pengen makan soto ayam buatannya kakak, gimana kakak sanggup gak buatin saya soto?" Tanyanya Senja penuh harap sembari merangkul lengannya kakak kembarnya itu.


"Insha Allah apa yang tidak bisa aku buatkan jika itu adikku yang menginginkannya sendiri, tapi ngomong-ngomong kamu pengen makan soto apa, soto Betawi, soto Banjar atau jangan-jangan coto Makasar lagi," imbuhnya Jingga.


Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, mereka menjadi pusat perhatian mengingat wajah mereka yang kembar identik dengan kecantikan alami sehingga keduanya sulit untuk dibedakan satu sama lainnya.


"Pengennya itu semua gimana kak, boleh gak aku minta itu?" Tanyanya Senja yang kedua bola matanya sudah berbinar terang saking bahagianya baru saja menyebut nama makanan itu sudah buat dia ngiler.

__ADS_1


"Kalau gitu, kita singgah ke swalayan terlebih dahulu untuk membeli bahan-bahannya, tapi kamu enggak capek kan kalau harus singgah terlebih dahulu sebelum balik ke rumah!" Tanyanya Jingga.


"Gimana kalau kita telpon bibi Aminah saja takutnya kita terlambat buatnya sedikit khawatir karena pasti dia


__ADS_2