Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 220


__ADS_3

"Jihan, Raisa dan Alief bersama kekasihnya Azmina balik ke rumahnya Oma Sazkia saja, kalian tunggu aku di sana aku saja yang bereskan ini mobil di bengkel temanku," pintanya Azriel.


"Kalau gitu kami pamit pulang dulu lagian mang Ardi juga sudah datang," balasnya Jihan yang sedikit pendiam setelah berbicara mengenai masalah lamarannya besok.


Semuanya pulang ke rumah dengan perasaan yang berbeda-beda, Jihan kebanyakan terdiam sepanjang perjalanan. Sedangkan Alif dari raut wajahnya kelihatan ketakutan dan masih panik.


Azmina Meidina bersyukur karena akhirnya besok hari bahagianya dia akan menikah dengan pria yang sudah lama menjalin hubungan dengannya.


Makasih banyak Tuhan Engkau telah mengabulkan doa-doaku selama ini aku terus tak henti-hentinya berdoa dan berharap untuk segera dipersatukan oleh Pria yang menjadi papa anakku.


Azmina mengelus perutnya yang belum kelihatan nampak membuncit, karena pakaian yang dipakainya cukup longgar.


Jihan terus memandangi sepanjang jalan yang dilaluinya, dibawah guyuran air hujan lebat mobil yang dikendarai oleh pak Ardi melaju dengan kecepatan sedang saja.


Aku punya kesempatan untuk bertemu kembali dengan Pak Varrel Mahenza, kalau Alif menikah dengan Asmina yang notabene mereka adalah kakak adik.


Semoga saja Daddy Kabir dan mommy Senja tidak keberatan dengan pernikahan kami ini. Semoga saja proses lamarannya besok berjalan lancar dan sukses.


Raisa mengurungkan niatnya untuk turun lebih duluan karena merasa ada hal penting yang ingin disampaikannya khusus untuk Azmina.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga my homes, oiya Azlina kalau bisa mulai hari ini kamu harus berpakaian seperti kami memakai penutup kepala dan bajunya tidak boleh ketat seperti yang kamu pakai sekarang ini," imbuhnya Raisa sambil mengangkat sedikit baju kaos yang dipakai oleh Azmina.


Jihan yang mendengar perkataannya dari adik sepupunya itu ikut menambahkan pembicaraan tersebut.


"Kalau kamu sama seperti kami, yaitu sesama umat muslim itu persyaratan untuk menjadi anggota keluarga kami. Karena Maaf Alif Naufal tidak akan bertanggung jawab kepada bayi yang kamu hamilkan jika kamu tidak seiman dengan kami," jelasnya Jihan dengan penuh ketegasan di dalamnya.


Azmina menarik nafasnya dalam-dalam kemudian membuangnya dengan cukup perlahan.


"Aku akan memakai jilbab seperti yang kalian pakai ini, asalkan aku bisa menikah dengan kak Alif Naufal Rahman," ucapnya Azmina.


"Azmina, memakai hijab seperti yang aku pakai ini bukannya sekedar hanya memakai doang langsung jadi, kecuali kamu berkeyakinan dan kepercayaan kamu seperti kami juga. Kamu paham kan dengan apa yang aku bilang?" Ujarnya Jihan yang kembali menutup pintu mobilnya itu.


"Insha Allah dia bisa kok Jih, karena kedua orang tuanya juga muslim. Kalian tidak perlu merisaukan apapun itu." Timpalnya Alief.


"Syukur alhamdulilah kalau seperti itu, Raisa kamu ajarin As, untuk memakai jilbab seperti kamu. Tapi ingat kami tidak ingin kamu memutuskan untuk memakai hijab karena terpaksa atas dorongan pernikahan semata. Melainkan karena memang kamu yang menginginkannya tulus dari dalam hatimu ini tanpa ada paksaan sehingga kamu bisa memakainya hingga kamu meninggal nanti." Tuturnya Jihan seraya mengangkut ujung hijabnya itu.


"Masalah tata cara dan aturan pakainya kami akan menjelaskannya secara bertahap dan perlahan,kita semua sangat mengerti dengan budaya dan tradisi orang Eropa terutama orang-orang di London Inggris," terangnya Raysa Andriana.

__ADS_1


"Den Alif itu tanggung jawab tuan Muda yang seharusnya menjelaskan dan mengajarkan kepada Non muda bagaimana penjelasannya mengenai menutup aurat dan apa-apa saja yang perlu ditutup, kasihan kalau dia tidak mendapatkan pendidikan tentang itu semua sebelumnya."sahutnya Pak Ardiansyah Bakrie yang mulai ikut menimpali pembicaraan mereka.


"Hehehe, Mamang Ardi bisa saja, aku akan ajarkan yang terbaik untuk calon istriku dan pendamping hidupku ini, tapi yang jadi masalah selanjutnya adalah. Apakah bunda Icha dan ayah Hakim merestui kami atau tidak," cercanya Alief.


Pak Ardy duduk menghadap ke belakang sambil duduk menyamping dengan berhadapan langsung dengan anak-anak majikannya itu.


"Kalau menurut Mamang Insha Allah Nyonya Icha dan Tuan Hakim pasti akan merestui hubungan kalian asalkan tetap mengikuti dan menjalankan apapun yang mereka inginkan," cerca pak Ardi yang ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka.


"Yoi, bapak memang pengertian banget deh. Aku suka gayanya bapak," sahutnya Azmina spontan.


Semua orang mengerutkan keningnya keheranan melihat reaksi dan sikapnya Azmina yang disangkanya gadis pendiam.


"Sudah kalau begitu aku masuk dulu, hari ini ndak kuliah tapi cukup melelahkan," keluhnya Jihan seraya meninggalkan adik sepupunya yang lain.


Azmina,Alif berjalan bersama, Raisa mengekor di belakang mereka.


"Hey! Ngomong-ngomong siapa yang akan berbicara dengan Oma Saskia?" Teriaknya Raisa Andriana.


Jihan menghentikan langkahnya sesaat kemudian menolehkan kepalanya ke arah adiknya itu.


Keempatnya berjalan memasuki area rumah Bu Saskia Shopiah dengan suaminya Pak Raka Bumi Nasution. Tapi, suara ribut dari arah belakang punggung mereka mengejutkan mereka. Mereka bersama-sama menoleh secara bersamaan.


"Papa!"


"Daddy!"


"Bunda,"


Semuanya dikejutkan oleh kedatangan rombongan banyak orang yang masuk ke dalam rumah mewah itu.


Jihan Yuanna Ulli dan Raisa Andriana berlari cepat ke arah kedatangan kedua orang tua dan juga keluarganya yang baru saja tiba dari Jakarta Indonesia.


Ya Allah kenapa mereka bisa datang? Aku kira berita kedatangan mereka hanya hoax saja.


Mampus gue kalau gini jadinya. Pasti bunda Icha dan ayah Hakim pasti akan memarahi aku habis-habisan.


Keringat dingin mulai bercucuran membasahi pipi dan sekujur tubuhnya Alif di tengah hujan deras itu.

__ADS_1


Dia tidak menyangka jika kedua orang tuanya berserta Tante dan omnya menemui mereka yang sudah lebih setahun itu tidak datang.


"Mom, Dads!" Jeritnya Jihan yang seperti anak bocah kecil saja yang melihat kedatangan kedua orang tuanya dengan penuh gembira.


"Papa, Mama aku sangat merindukan kalian berdua," pekik Raisa yang suaranya cukup melengking tinggi hingga memenuhi seluruh penjuru ruangan itu.


Raisa tak segan-segan memeluk tubuh kedua orang tuanya itu dengan penuh kegembiraan. Apa yang dilakukan oleh Raisa sama halnya dengan Jihan. Air matanya meleleh melihat betapa indahnya pertemuannya dengan mamanya Senja Starla Airen yang sudah bisa melupakan traumanya itu.


"Mommy,Jih kangen banget pada kalian semua. A-ku ti-dak menyangka jika mommy juga bisa datang.. aku pikir hanya berita hoax kedatangan kalian." Imbuhnya Jihan.


Senja pun menitikkan air mata bahagianya sekaligus kesedihannya itu. Ia tidak percaya diri jika kedatangannya ke UK Inggris London itu menjadi kenyataan di hari lahirnya ini.


Kado paling spesial dan khusus dalam hari ulang tahunnya yaitu kedatangan kedua orang tuanya.


Senja mengelus punggungnya Jihan putri bungsunya itu, "Moms juga sangat senang karena akhirnya bisa ke London tanpa sakit apapun. Mommy sangat merindukan ketiga anakku," ucapnya Senja yang tidak henti-hentinya menangis.


Semua orang tersenyum sumringah melihat kedekatan dan pertemuan kedua perempuan beda generasi itu.


"Ra, sangat gembira melihat kalian sungguh datang ke sini untuk menjenguk kami," ucap Raisa.


"Mama juga senang Nak, papamu itu menangis seminggu yang lalu katanya rindu pada anak sulungnya,"ujarnya Naysila.


"Mama kamu itu bohong,dia yang sedih katanya terus memikirkan kamu ingin sekali menemui putri tunggalnya," sanggahnya Ardian Putra yang menutupi kenyataan yang ada.


Hanya Alief Naufal yang berdiri mematung saking takutnya jika ayah dan bundanya mengetahui kesalahan terbesarnya itu.


"Alif, apa kamu tidak happy melihat bunda nak?" tanyanya Ica Khaerunnisa sambil merentangkan kedua tangannya itu untuk menyambut kedatangan putra semata wayangnya.


Alif masih terdiam malah Asminah yang berjalan perlahan menuju ke arah kedua calon mertuanya itu dengan senyuman lebarnya.


Azmina segera meraih tangannya Icha dan Hakim secara bergantian kemudian dikecupnya punggung tangan itu dengan penuh kelembutan dan takjim.


Icha menatap ke arah suaminya, kemudian ke arah Jihan dan anaknya. Tapi, Jihan malah nengendikkan bahunya dan hanya tersenyum penuh arti.


"Dia ini calon istrinya Alief Tante Icha," ungkap Raisa sembari memegangi pundaknya tubuhnya Azmina.


"Apa! calon istri!" beonya Ica yang sungguh kaget.

__ADS_1


__ADS_2