Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab.12 Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Adinda terkadang merasa,ia tidak sebanding dengan Aliya yang begitu baik, sholeha, cantik dan penuh kelembutan. Ia selalu bercermin membandingkan dirinya sendiri dengan istri pertama suaminya itu.


Selama dalam perjalanan terlalu banyak yang menjadi bahan pemikiran dan pertimbangannya.


"Mungkin aku sudah salah harus hadir dalam hubungan mereka, tapi aku sangat mencintai Mas Leo, bahkan aku rela menjebaknya demi mendapatkan cintanya dan menikah dengannya, apa aku salah dan tidak pantas mencintai pria beristri?" Batinnya selalu mempertanyakan keputusannya.


Leo adalah teman kerja kakak iparnya Adinda. Sejak Leo masih belum menikah, Adinda sudah diam-diam jatuh cinta kepada Leo. Walaupun saat itu,ia masih sekolah di sekolah menengah atas kelas dua belas SMA.


"Mungkin aku memilih berdamai dengan keadaan dan memilih hidup dengan baik dan berdampingan dengan Mbak Aliya dan mas Leo adalah yang terbaik, jangan menambah beban masalah solusi yang paling tepat," Gumamnya Adinda.


Berselang beberapa menit kemudian, keduanya sudah sampai di rumah sakit rekomendasi Aliya.


Adinda merangkul lengannya Aliya seperti anak kecil saja, "Mbak temani aku masuk yah, saya tidak tahu kenal lokasi di mana tempat pemeriksaannya di rumah sakit ini," rengeknya Adinda.


Aliya tersenyum simpul," saya tidak akan meminta kamu disini periksa jika saya akan menggunakan kamu begitu saja,saya akan temani kamu sampai selesai, gimana apa kamu sudah puas dan senang?" Aliya tersenyum lembut dan memperlakukan Adinda seperti adiknya sendiri yang memang selama hidupnya tidak memiliki seorang saudara sekalipun yang namanya adik.


Mereka berjalan bergandengan tangan layaknya sudah sangat akrab dan hubungan mereka bukan hanya sekedar tetangga saja.


Adinda diam-diam melirik sekilas ke arah Aliya," walaupun Mas Leo enggak ada, saya cukup gembira bisa ditemani oleh mbak Aliya itu sudah lebih dari cukup,"


Aliya menghubungi bagian pendaftaran untuk mendaftar dan meregestrasi identitasnya Adinda. Aliya keheranan dan menautkan kedua alisnya karena melihat kknya Adinda tanpa sengaja nama suaminya sangat mirip dengan Leo, walaupun hanya sekedar inisial Leo saja.


"Namanya mirip dengan Mas Leo,kami juga tetanggaan benar-benar banyak kebetulan yang samaan," cicitnya Aliya yang membaca dengan seksama kartu keluarganya Adinda. Sedang Adinda saking senangnya ditemani oleh Aliya, sampai-sampai melupakan keberadaan beberapa kartu identitas yang diserahkan kepada Aliya yang jelas-jelas tertulis di atasnya nama suaminya itu.

__ADS_1


Adinda yang melihat Aliya memegangi kartu kknya itu dibuat kalang kabut dengan kejadian tersebut. Adinda menepuk jidatnya saking kelimpungan dengan situasi yang terjadi.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa aku bego sekali sampai-sampai melupakan keberadaan kartu kk itu, padahal jelas-jelas namanya Mas Leo ada fu dalam sana,ya Allah… semoga saja mbak Aliya tidak curiga dengan namanya mas Leo," Adinda mulai panik dan mencemaskan jika rahasianya bocor dan terungkap sudah.


Rahasia yang sudah setahun lebih dia sembunyikan, tapi sejak hamil usia kehamilannya masuk usia tiga bulan,ia memutuskan untuk pindah ke lokasi kompleks perumahannya Aliya yang sederhana itu.


Adinda berdiri dari duduknya, walaupun kesulitan untuk berdiri ia berusaha berpegangan di pegagan kursi tunggu pasien dan keluarga penunggu pasien. Nampak guratan ketakutan, kepanikan, kerisauan dan kecemasan yang berlebihan dalam benak dan pikirannya.


"Mbak Aliya ada apa?" Tanyanya Adinda yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Ini eh a-nu saya hanya tanpa sengaja membaca tulisan nama suamimu yang mirip dengan papanya Jingga dan Senja, tapi pria yang bernama Leo kan banyak lagian tidak mungkin suamimu adalah suamiku juga kan," ucapnya Aliya sambil terkekeh merasa lucu dengan apa yang dikatakannya itu.


"Hehehe iya Mbak enggak mungkin kan suami kita sama," elaknya Adinda yang tertawa cengengesan menanggapi perkataan dari Aliya yang hampir saja ketahuan oleh Aliya apa yang terjadi sebenarnya di dalam rumah tangganya itu.


"Alhamdulillah Adinda calon baby kamu sehat semuanya normal, insya Allah kau akan melahirkan beberapa hari lagi, ngomong-ngomong apa kamu sudah menyiapkan perlengkapan bayimu?" Tanyanya Aliya yang sudah berjalan berbarengan dengan Adinda.


"Eh belum sempat Mbak, saya belum ke mall belanjanya, aku masih nunggu suamiku libur dulu Mbak," elaknya Adinda.


"Kenapa belum? Padahal sudah hampir kamu melahirkan,kalau kamu enggak keberatan aku antarin kamu apa kamu setuju?" Usulnya Aliya yang menawarkan bantuannya.


"Serius Mbak Aliya mau temani saya? Kalau gitu tidak perlu nunggu lama lagi, let's go!" Adinda sangat bahagia dan antusias menyambut usulannya Aliya.


Rasa ingin mendominasi memiliki Leo seorang diri, pupus dan sirna sudah sejak hari ini ia bepergian bersama dengan Alia istri pertama dari suaminya.

__ADS_1


Adinda tidak mungkin egois dan keras kepala harus mempertahankan niatnya dari awal, yaitu ingin membuat Aliya Azizah Humairah dengan Leo bercerai dengan cara apapun.


"Ya Allah… aku sangat berdosa jika aku menjadi duri dalam daging hubungan mereka, apalagi punya niat jahat untuk memisahkan keduanya, aku lebih baik menjalin hubungan akrab dengan mbak Aliah untuk kebaikan kami semua kedepannya, karena walau aku paksakan diri untuk terus berupaya menggangu hubungan mereka hanya kekalahan dan kesedihan serta penyesalan yang tidak berkesudahan, aku harus sadar diri jika aku orang ketiga di antara mereka,"


Aliya kembali menautkan kedua alisnya melihat kebiasaannya Adinda yang sering melamun. Aliya sedikit mencubit tangannya Adinda agar segera menghentikan lamunannya itu.


"Auhh sakit!" Keluhnya Adinda sembari mengelus tangannya yang terkena cubitan mesra.


Adinda menatap Aliya dengan memelas, "Ya Allah Mbak Aliya ini suka makan kepiting yah? Sakit tahu cubitannya kakak ini seperti cepit crubs saja! Candanya Adinda yang tersenyum cengengesan.


"Kamu yah hamil gini sering banget melamun, gimana kalau kamu sendiri berjalan sambil gini! ini bahaya loh, jadi mulai sekarang stop untuk terdiam tanpa sebab," nasehatnya Aliya yang khawatir melihat kebiasaannya Adinda yang tidak baik itu.


"Ngeluhnya di stop saja dulu,kita ke apotik tebus obat dan vitaminmu," ucapnya Aliya yang berjalan ke arah apotek sambil terus menggandeng tangannya Adinda.


"Mbak Aliya ternyata bisa judes dan marah juga,saya kira Mbak itu selalu kalem, lembut tapi ternyata woo singa nya diumpetin rupanya," candanya Adinda.


Aliya hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Adinda," kalau mau lihat asli karakter aku terus saja bersikap kekanak-kanakan sehingga membahayakan nyawamu dan juga calon baby kamu," dengusnya Aliya.


Mereka terus berjalan hingga keduanya melihat ada tulisan apotek terpampang jelas di hadapan mereka.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga, Pantesan banget jalannya kita lama sampainya karena ada orang yang jalannya lelet banget melebihi siput! Padahal tadinya jalannya lancar banget ini malah menguras emosi hadapi sikapnya yang seperti orang yang belum makan seminggu saja," guraunya Aliyah.


Adinda tertawa terbahak-bahak mendengar candaan Aliah, "Mbak Aliya pinter juga ngelawak sampai-sampai perutku kram gara-gara ketawa," balasnya bercanda pula.

__ADS_1


"Sudah aah kamu duduk yang cantik di sana yah, sambil nungguin Mbak mau tebus obatmu," pintanya Aliya sambil mengantar Adinda ke tempat kursi panjang khusus untuk penunggu


__ADS_2