Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 208


__ADS_3

Senja menggendong adiknya yang masih bayi itu. Mereka bertiga segera pulang ke rumahnya karena tidak ingin terlalu berlama-lama di luar mengingat kondisi baby Oce baru saja keluar dari inkubator selama sekitar seminggu di rawat.


Kedatangan Senja, Jingga dan adiknya di sambut oleh beberapa anggota keluarganya dan sanak saudara serta kerabat dan teman-temannya.


"Welcome Baby Oce," ucap semuanya serentak yang berdiri di depan ambang pintu.


Senja dan Jingga tidak habis pikir melihat begitu banyak orang yang menyambut kepulangannya, padahal setahunya tidak ada yang meminta ataupun mengabarkan kepada mereka akan pulang ke rumahnya hari ini juga.


Senja dan Jingga tersenyum bahagia melihat acara penyambutan adiknya itu yang sungguh sangat meriah.


"Makasih banyak atas acara penyambutannya, kami sungguh bahagia dan tersanjung atas apa yang kalian lakukan untuk kami semua, terutama untuk Dede Oce," imbuhnya Senja yang masih menggendong adiknya.


Ketiga bayinya masing-masing digendong oleh Oma Clara, Bu Hanin Mazaya dan Pak Septa Danu Triadji. Bayi berusia delapan bulan itu cukup aktif dan bereaksi melihat kedatangan mommy dan uncle kecilnya.


"Tanpa kalian hidup kami tidak akan lebih berarti dan tidak akan sanggup menjalani sisa kehidupan kami," ucapnya Jingga seraya menyeka air mata bahagia sekaligus sedih karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.


"Kalian pantas mendapatkan kebaikan dari kami, kalian adalah anak-anak yang baik dan kalian adalah keluarga kami, jadi jangan sekali-kali mengatakan hal semacam ini lagi," tukasnya Bu Henny Marsha.


Semua orang saling silaturahmi dan bersenda gurau bersama sambil menyantap makanan yang telah tersaji di atas meja prasmanan.


Semua orang larut dalam kebersamaan, kebahagiaan dan suka cita. Kabir bangga pada istrinya, karena mampu merawat sekaligus empat orang bayi kecil. Walaupun ketiga anak kembarnya sudah lebih besar dari adiknya, tapi mereka seperti sangat pengertian dengan kondisi dari Senja dan Ocean Skala.


Tak terasa kehamilan Jingga sudah masuk sembilan bulan. Hasil USG menyatakan, jika Jingga akan melahirkan anak kembar dan semuanya adalah calon anaknya yang berjenis kelamin perempuan.


Jingga dan Guntur hari ini berencana untuk melakukan joging pagi di sekitar kompleks perumahannya. Setiap hari, mereka selalu menyempatkan diri untuk melakukannya.


Guntur yang melihat istrinya berkeringat segera merogoh sakunya dan mengambil sapu tangan berwarna biru laut itu. Kemudian dia menyeka bulir-bulir keringat yang bercucuran membasahi sekujur pipi hingga tubuhnya Jingga pagi itu.


Jingga menatap ke arah suaminya sembari tersenyum diperlakukan semanis itu. Dia sama sekali tidak mencegah ataupun melarang tangan suaminya untuk terus mengelap keringatnya tersebut.


"Makasih banyak bang, kita beristirahat di taman itu yuk kebetulan ada sebuah kursi untuk kita duduki bersama," ucapnya Jingga seraya menunjuk ke arah bagian terdalam taman bunga yang cukup ramai dipadati pengunjung pagi itu dihari minggu.


"Tapi, kamu baik-baik saja kan? Apa ada yang tidak nyaman kamu rasakan atau mungkin ada yang ingin kamu makan Istriku?" Tanyanya Guntur Aswin.

__ADS_1


"Aku sepertinya pengen makan bush yang cukup segar terutama buah yang cukup masem seperti buah mangga mungkin," ujarnya Jingga yang berjalan seraya mengalungkan tangannya ke lengannya Guntur.


"Kalau gitu kita ke suatu tempat saja yang nyediain makanan yang ingin kamu makan, bagaimana apa kamu setuju sayangku," tanyanya Guntur.


"Masya Allah, aku sungguh sangat suka dengan perkataannya suamiku yang menawarkan tawaran makan rujak buah dan asinan, bahkan aku sudah ngiler padahal baru ngebayangin saja," tuturnya Jingga yang kedua matanya berbinar-binar terang saking bahagianya mendengar perkataan dari suaminya itu.


Keduanya berjalan beriringan ke arah taman yang kebetulan di sekitar taman, banyak penjual angkringan penjual makanan.


Tapi, baru saja Jingga menduduki salah satu kursi tersebut, tiba-tiba ia merasakan mules yang sangat tak tertahankan dibagian perut terbawahnya.


"Aauhh sakit!" Keluhnya Jingga seraya memegangi perutnya.


Guntur yang baru juga ingin mendudukkan tubuhnya ke atas kursi pun tidak jadi. Dia segera berlari cepat ke arah istrinya yang sudah kesakitan.


"Bang Guntur, perutku sakit banget," keluhnya Jingga.


"Kamu sabar sayang, Abang akan antar kamu secepatnya ke rumah sakit," Guntur berucap dan berusaha untuk lebih tenang.


Guntur menghubungi terlebih dahulu supir pribadinya agar segera datang ke taman tersebut. Kebetulan mereka berjalan kaki saja ke taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


"Bu tahan yah, ibu harus kuat dan sabar," ucapnya seorang ibu-ibu yang membantu Guntur untuk menangani Jingga yang sepertinya sangat ketakutan dan cemas.


Jingga teringat ketika mamanya sebelum meninggal dunia, dia yang menolong mamanya langsung ketika terjatuh dalam keadaan hamil.


Jingga memegangi tangannya ibu-ibu yang kebetulan membantunya itu,"Ya Allah… aku sangat takut Bu," cicitnya Jinggy.


Astaughfirullahaladzim, Allahu Akbar laailaha illallah, subhanallah…


Kalimat ini yang selalu didengungkan oleh Jingga untuk terus meminta tolong kepada Allah SWT untuk memudahkan segala proses persalinannya. Ibu yang tidak dikenalnya terus mengelus punggungnya Jingga, apa yang dilakukan oleh ibu-ibu itu, seakan yang melakukannya adalah Aliyah Azizah Khumaira yang melakukannya.


"Kamu tidak boleh berpikir yang tidak-tidak Nak, ingatlah Allah SWT selalu bersama kamu dan kita semua yang yakin akan kebesarannya, kamu perbanyak dzikir dan mengucap istighfar untuk meringankan rasa sakit yang kamu rasakan," nasehatnya ibu-ibu yang berbaik hati menolong Jingga.


"Aku keingat dengan mendiang almarhumah mamaku Bu yang beberapa bulan lalu meninggal dunia ketika melahirkan adik kami," ucapnya Jingga yang sesekali meringis kesakitan.

__ADS_1


"Kamu tenang Nak, lihatlah ke sana supir pribadinya suamimu sudah datang, ingatlah bahwa kamu akan melahirkan calon anak kembarmu, jadi jangan berfikir yang aneh-aneh, terus berjuang, berusaha untuk berikhtiar demi keselamatan buah hati kamu juga," ibu itu terus-menerus memotivasi dan mendorong semangat juang dari Jingga.


Guntur pun menghubungi seluruh anggota keluarganya terutama Maminya Bu Siska, papinya Pak Raka Bumi,Omanya bu Clara Claudia, Senja dan Kabir serta Tante dan pamannya tak lupa dihubunginya.


Semua orang segera bersiap menuju rumah sakit terdekat dari rumahnya Oma Clara. Guntur terburu-buru berjalan ke arah istrinya yang sekujur tubuhnya sudah dibanjiri peluh keringat dingin yang mengkilap terkena terpaan sinar matahari langsung pagi itu menjelang siang hari.


pak Ardi pun tak mau kalah dengan kecepatan larinya Guntur sang majikannya.


Senja yang mendengar kabar itu segera gegas bersiap untuk ke rumah sakit.


"Alhamdulillah kakakku akan melahirkan, abang Kabir cepetan mandinya! Kak Jingga akan melahirkan anaknya!" Teriaknya Senja yang tidak sabaran menunggu suaminya selesai mandi.


Tok… tok…


Senja menggedor pintu kamar mandinya supaya Kabir Kasyafani gegas menyelesaikan rutinitasnya pagi itu setelah melakukan ngegym.


Kabir yang sedang memakai shampo segera membuka pintu kamar mandi tanpa memakai kain benang pelindung apapun di sekujur tubuhnya sambil membuka pintunya.


"Ahhh!! Abang apa yang Abang lakukan!?" Teriaknya Senja.


Apa yang dilakukan oleh Kabir membuat  Senja spontan menutup kedua wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya itu.


Kabir yang hampir keseluruhan wajahnya yang tertutupi busah sabun tak menyadari apa yang sedang dilakukannya itu.


"Kamu kesenangan berteriak-teriak! Apa kamu ingin Abang buat kamu berteriak di atas ranjang!" Candanya Kabir seraya mengerlingkan matanya seperti seorang laki-laki yang sedang menggoda.


Plak…


Pukulan berhasil mendarat di pundaknya Kabir," Abang minggir di pintu kalau enggak mau kena timpuk lagi!" Gerutunya Senja.


"Augh! Sakit juga pukulan penuh kasih sayang kamu Istriku," sahutnya Kabir.


"Stop! Bercandanya Abang, Kak Jingga sudah di jalan menuju rumah sakit mau lahiran, Abang malah ngajak gelud!" Ketusnya Senja.

__ADS_1


"Kalau geludnya di atas ranjang atau di dalam bathtub aku jabanin deh sayangku,mau berapa kali pun aku akan ladeni," guraunya Kabir yang berdiri mematung di depan pintu masuk melihat istrinya yang sudah ngacir masuk ke dalam kamar mandi.


"Kalau nungguin Abang bisa-bisa kedua  keponakan cantikku sudah lahir," jeritnya Senja yang segera berlari cepat.


__ADS_2