
Senja tertawa terpingkal-pingkal menanggapi sikapnya Kabir yang tingkahnya sangat lucu.
"Kenapa, apa yang terjadi padamu apa menurutmu apa yang dilakukan oleh suamimu ini sangat lucu?" Sungutnya Kabir.
Senja segera menghentikan tawanya, karena ia tidak ingin menyinggung perasaan suaminya gara-gara menertawai Kabir ketika tangannya terlepas dari tumpuannya itu.
Senja mencubit pipinya Kabir dengan gemesnya, "Menurut aku sangat lucu sih, karena ini pertama kalinya aku melihat suamiku bertingkah seperti ini," imbuhnya Senja.
"Auhh!! Sakit!" Keluhnya Kabir seraya mengelus pipinya yang memerah akibat dari cubitannya Senja di kedua pipinya itu.
"Kamu semakin nakal yah, aku akan membalas apa yang telah kamu lakukan padaku," gertaknya Kabir yang berpura-pura marah dengan apa yang dilakukan oleh Senja.
Senja bukannya berhenti tertawa malah semakin mengeraskan suara tawanya itu. Keduanya sudah terduduk bersila di atas ranjangnya mereka yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar merah yang sungguh sangat indah dan mempesona.
"Hahaha! Abang jujur saja abang itu enggak cocok memperlihatkan tampang marahnya kepadaku, coba lihatlah di cermin sana kamu sangat manis seperti ini suamiku," ucapnya Senja yang semakin menggoda suaminya dengan beberapa kali cubitan mesra diberikan kepada Kabir.
__ADS_1
Kabir reflek mengarahkan pandangannya ke arah cermin besar yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Iya yah benar juga kenapa aku enggak bisa marah seriusan padamu! Padahal aku sudah pernah berusaha untuk memarahimu tapi, nggak tahu juga aku tidak sanggup melihat wajahmu yang sedih," terangnya Kabir.
Kabir masih melihat Senja melalui pantulan cahaya dirinya melalui cermin besar tersebut. Senja kemudian memeluk tubuhnya Kabir dari arah belakang.
"Suamiku duniaku tidak berarti tanpamu, aku akan kesulitan untuk bernafas jika kamu pergi jauh dariku tanpa berpamitan terlebih dahulu, entah aku merasa dunia akan kiamat jika kamu terus meninggalkan aku seorang diri disini," ucapnya sendu Senja.
Kabir memegangi tangannya Senja yang memeluknya dari belakang," abang berjanji tidak akan pernah lagi meninggalkan kamu seorang diri, abang selamanya akan berada disisimu, kecuali jika abang pergi jauh karena urusan pekerjaan ataupun bisnis, jadi kamu tidak perlu merisaukan masalah itu karena bagiku selamanya kamu adalah wanita yang paling penting dalam hidupku, tidak akan ada yang lain dan tidak akan terganti untuk selamanya."
Kabir memindahkan helaian anak rambutnya ke telinganya Senja," Abang boleh minta haknya Abang gak malam ini?" Tanya Kabir yang bernada permintaan itu.
Senja hanya tersenyum malu-malu sambil menganggukkan kepalanya itu," abang tidak perlu meminta persetujuan padaku, Abang bisa langsung saja karena semua yang ada pada diriku adalah miliknya abang," ujarnya Senja yang menundukkan kepalanya karena terlalu malu.
Kabir mulai semakin mendekatkan wajahnya dan mulai mee luuu maaat bibir mungilnya Senja yang merah merona merekah bak kelopak bunga mawar yang sangat cantik yang bertaburan di atas ranjangnya.
__ADS_1
Senja pun mengeratkan pelukannya itu ketubuhnya Kabir, dia mulai memainkan peranannya bahkan sudah mampu mengimbangi permainannya Kabir.
Hemmph…
Kabir memiringkan kepalanya sedikit untuk lebih memudahkan pekerjaan mereka berdua. Senja tidak ingin mengalah dengan suaminya itu,tapi malahan tidak mau ketinggalan dan segera menunjukkan kemampuannya.
Augh!!
Lenguhan kecil muncul dari bibir mungilnya Senja ketika Kabir mulai menelusupkan jari-jarinya di dalam gamisnya Senja.
Senja memejamkan matanya sambil menikmati sensasi yang diberikan oleh suaminya sendiri di atas dua buah puncak mount Everest itu yang bentuknya semakin menantang saja, karena mengingat Senja yang hamil.
Keduanya sudah berbaring di atas ranjang king size-nya dengan taburan kelopak bunga yang begitu mempesona dan wanginya sungguh memanjakan hidungnya kedua pasutri itu.
"Augh abang, a-ku tidak tahan lagi, ahh!!" Racaunya Senja ketika Kabir memainkan bagian inti paling terbawahnya Senja.
__ADS_1
Kepalanya Kabir timbul tenggelam di dalam perairan yang dangkal yang tidak memiliki ujung. Tapi menyimpan sejuta rasa dan keindahan yang tidak bisa dan tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.