Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 190


__ADS_3

Awalnya Nyonya Clara menentang keputusan dari cucu dan cucu mantunya. Malah beliau memutuskan untuk pindah dan menetap di rumahnya Kabir bersama Senja dan ketiga cicitnya serta anaknya Bu Hanin Mazaya.


Perbincangan berlanjut setelah acara masuk rumahnya Kabir dan Senja malam hari itu sambil menyantap kue ringan buatannya Jingga dan mamanya Aliyah.


"Oma sudah putuskan untuk selamanya tinggal di rumahnya Kabir, untuk rumah yang disana ada papinya Guntur Raka Bumi dan maminya Kania Dewi serta Vania dan Mike Andres, jadi Oma tidak ingin mendengar perkataan bantahan dari siapapun yang ada di sini, jika ada yang berniat untuk menentang dan menghalangi niatku ini maka mereka akan…" ucapannya Bu Clara dipotong oleh Guntur Aswin cucu pertamanya itu.


"Kami tidak akan menentang ataupun menghalangi kemauan Oma, karena bagi kami yang paling penting Oma bahagia, benar kan Mami?" Tanyanya Guntur yang menekan perkataan terakhirnya sembari menatap intens ke arah maminya itu.


"Eh iya Ma, kalau mama maunya tinggal dimanapun itu terserah Mama saja yang paling penting mama bahagia itu sudah cukup bagiku dan baginya mas Raka," imbuhnya Bu Kania yang melempar pandangan mata ke arah suaminya.


Pak Raka yang ditatap seperti itu mengerti dan paham benar apa maksudnya.


"Iya kalau menurut aku sih itu Mama saja yang mengaturnya karena di rumahnya Kabir juga Ndak masalah kalau Mama pengen tinggal bersama mereka, kami semua mendukung keputusan yang Mama pilih," sahutnya Pak Raka.


"Syukur alhamdulilah berarti pembicaraan kita kali ini sudah selesai, sekarang giliran kita membahas masalah bulan madunya Jingga dan Guntur, ngomong-ngomong kapan kalian akan pergi berbulan madu?" Tanyanya Bu Clara.


Jingga saling bertatapan satu sama lainnya dengan Guntur sedangkan Aliyah memegangi punggung tangan putri sulungnya itu agar mengiyakan keinginannya Bu Clara dan menolaknya.


"Masalah itu kami serahkan saja pada Oma bagaimana baiknya," ucap Jingga yang sebenarnya enggan untuk pergi berbulan madu mengingat kesehatan mamanya akhir-akhir ini kurang baik di usia kehamilannya yang sudah lima bulan itu.


Guntur sangat paham betul apa yang terjadi pada istrinya, tapi dia juga tidak punya kemampuan untuk menentang pilihan dan keputusan dari Omanya itu.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, berarti Oma bisa tenang karena kalian akan menuruti semua perkataannya Oma, Nak Andreas bawa kemari amplop putih itu yang tadi pagi aku perlihatkan padamu," titahnya Bu Clara yang tersenyum lebar saking bahagianya mendengar perkataan dari cucu mantunya itu.


Semua tamu undangan termasuk teman-teman dan sahabatnya Kabir dan Senja seperti Zania Mirzani dengan suaminya Fajri Bachan, Hakim Rahman dengan istrinya Icha Khairunissa, Naysila dengan pasangan hidupnya Ardian Putra dan juga tentu saja Vania Larissa dengan suami tercintanya Mike Andres.

__ADS_1


Jingga nampak tenang dan berusaha untuk menutupi kegundahan dan kegalauan hatinya itu. Ia tidak ingin apa yang terjadi padanya diketahui oleh orang lain, termasuk suaminya sendiri.


Ya Allah kalau aku pergi honeymoon bagaimana dengan Mama? Apalagi Mama akhir-akhir ini kondisinya tidak stabil selama kehamilannya ini, aku pasti sangat mengkhawatirkan kondisinya.


Tapi,disisi lain aku juga tidak mungkin mengecewakan mereka semua termasuk khusunya Oma dengan menggagalkan rencana baiknya.


Aliya tersenyum teduh agar Jingga putri pertamanya itu merasa tenang dan tidak terbebani dengan permasalahan kehamilannya ini, seraya diam-diam mengelus punggung tangan putrinya itu. Sedangkan Jingga hanya berusaha untuk tersenyum lebar, diperlakukan seperti itu oleh mamanya.


Putriku pasti mencemaskan kondisiku ini sehingga sepertinya dia sulit untuk pergi. Aku akan berbicara dengannya nanti malam. putriku harus memikirkan juga kebahagiaan mereka.


Apalagi aku melihat nyonya besar Clara sangatlah menginginkan Guntur segera punya keturunan, mengingat usianya Guntur yang sudah kepala tiga itu.


Bu Clara memeluk dari samping tubuhnya Jingga dengan penuh kehangatan," Nak Jingga Oma berharap agar sepulang kalian dari honey moon kalian bisa segera punya anak, Oma berharap sangat pada kalian, mungkin Oma terlalu memaksakan kehendak Oma pada kalian, tapi Oma merasa kesepian jika hanya kalian yang belum memiliki anak sedangkan adikmu Vania Larisa sudah hamil anak pertama mereka, yang insya Allah akan nekahig yang tujuh bulan lagi," ungkapnya Bu Clara.


"Alhamdulillah kalau begitu setelah acara aqiqahnya Gibran,Jinan dan Jihan selesai maka esoknya kamu akan berangkat ke Korea Selatan Seoul hanya seminggu saja, tidak usah lama-lama karena mama kamu Bu Aliyah sedang hamil, Oma tidak ingin kalian terlalu lama di luar negeri sana," ungkapkan Bu Clara yang mengerti dan bisa membaca arti dari raut wajahnya Jingga.


Leo hanya menjadi pendengar setia dan tak henti-hentinya dan bosan-bosannya mengucap syukur alhamdulilah atas anugerah terindah yang diberikan kepadanya dan khususnya kepada segenap anggota keluarganya itu.


Aku tidak meminta apapun lah lagi padamu ya Allah… betapa banyaknya anugerah, nikmat dan keberkahan hidup yang Engkau berikan kepada kami terutama nikmat iman yang selalu Istikomah berada di jalanMu.


Disaat ini aku melihat kebahagiaan itu terpancar dari wajah kedua putri kembar kami dengan pasangannya masing-masing.


Entah nikmat mana lagi yang aku dustakan, karena segalanya telah Engkau berikan untukku, paling membahagiakan adalah Istriku ternyata hamil calon anak kami yang berjenis kelamin laki-laki.


Aku berharap lancarkanlah persalinannya istriku dan sehatkan dan normalkan kelahiran anak-anak kami.

__ADS_1


Amin ya rabbal alamin..


"Oma sudah putuskan hari jumat nanti adalah acara aqiqahannya cicit kembarku dan Oma akan mengundang semua anak yatim piatu serta ibu-ibu pengajian dan penghuni panti jompo dan panti sosial yang ada dibawah naungan yayasan kita, akan ada banyak acara nantinya seperti ceramah agama, ada pembacaan ayat suci Alquran serta beberapa adat istiadat tradisi pemotongan rambut ketiga cicitnya Oma, gimana menurut kamu Nak Abbas, mungkin ada masukan mungkin kamu sebagai kakeknya Gibran pasti punya rencana lain mungkin," tuturnya Bu Clara yang menatap ke arah mantan suaminya Bu Hanin Mazaya.


Pak Abbas baru saja hendak berbicara dan mengeluarkan pendapatnya, tiba-tiba pintu berdaun dua rumahnya Kabir terbuka lebar.


Masuklah begitu banyak laki-laki bertubuh kekar dengan masing-masing dalam tangan mereka membawa beberapa bingkisan kado yang terbungkus rapi.


Bu Hanin Mazaya terkejut melihat pria yang berjalan dengan santai dengan senyuman yang selalu terukir di wajahnya yang masih ganteng itu di usianya yang sudah kepala lima. Tangannya gemetaran ketakutan jika rahasia terbesarnya dalam hidupnya terbongkar.


Semua orang tersenyum lebar menyambut kedatangan rekan sekaligus relasi bisnis mereka. Pria yang menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan lamanya Bu Clara yang sekarang dikelola oleh anak sulungnya yaitu pak Raka Bumi.


Astaughfirullahaladzim kenapa mas Sapta Danu Triadji harus muncul di sini, darimana dia mengetahui kabar gembira kelahiran cucunya.


Pak Abbas papa sambungnya Kabir juga kaget melihat pria yang dicintai oleh mantan istrinya hingga detik ini.


Apa dia sudah mengetahui jika Kabir adalah putra biologisnya?


"Tuan Septa Danu Triadji, selamat datang," sapanya pak Raka Bumi.


"Assalamualaikum Dad Sapta," sapanya Kabir.


perkataan Kabir mampu membuat semua orang melototkan matanya dan menganga spontan berdiri dari duduknya, ketika Kabir Kasyafani menyapa pria yang mirip dengan wajahnya dipanggilnya dengan sebutan papa.


"Mak-sudnya a-pa Nak? kenapa menyebut Tuan Septa Daddy?" tanyanya Bu Clara.

__ADS_1


__ADS_2