Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 36. Percakapan Santai


__ADS_3

Jingga tidak menduga jika musuhnya hadir di tempat tersebut. Padahal tidak pernah terbayangkan jika Abrizam Abraham Samad ketua tingkat di kelasnya yang sering cari gara-gara dengannya ternyata ikut dalam arisan juga.


"Gini nih gara-gara Mama yang maksa akhirnya harus bertemu dengan pria menjengkelkan banget, apa aku harus setiap hari harus bertemu dengannya, ya Allah apa dunia ini benar-benar sesempit daun kelor kah sampai-sampai hanya wajahnya yang mampu aku lihat, untungnya ganteng jadi yah sudahlah nikmati saja arisannya,"


"Hari ini kamu tampil sangat cantik berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku sungguh kagum melihat kecantikanmu,kamu perlu tahu jika selama ini aku mencari gara-gara denganmu karena aku sayang padamu agar aku terus berdekatan dan mendengar suaramu hanya cara ini yang bisa aku tempuh dan pilih."


"Mama kamu baik-baik saja kan nak?" Tanyanya Bu Nony ibu yang memegang arisannya para emak-emak sosialita.


"Alhamdulillah beliau baik-baik saja Tante,hanya saja Mama sangat sibuk dan tidak bisa digantikan jadi aku yang kesini ikuti arisannya Mama," jawab Jingga Aurora Zain.


"Kamu sama cantik mamamu, tapi lebih cantikan kamu apalagi papa kamu itu cukup ganteng, Tante beberapa minggu lalu bertemu dengan papamu Leo Carlando Zain di salah satu pesta pernikahan rekan kerjanya papanya Dania," imbuhnya ibu Fadia yang berusaha mengingat kejadian tersebut.


Apa yang dikatakan oleh Bu Fadia membuat Jingga bahagia dan kegirangan karena akhirnya sudah ada titik terang untuk bertemu dengan papanya.

__ADS_1


"Tante tau papaku yah, apa Papa baik-baik saja Tante, bagaimana kabarnya?" Tanyanya Jingga yang tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia dan gembira mendengar berita tentang papanya.


"Kalau kamu ingin bertemu dengan papamu datang saja ke alamat XX, perumahan X nomor 34 nomor rumahnya, Tante seringkali kesana bertemu dengan nenekmu juga yang sudah tidak pernah pergi lagi ke Malaysia Kuala Lumpur," ungkap Bu Fadia mamanya teman kelasnya Senja.


"Alhamdulillah makasih banyak Tante atas informasinya," balas Jingga tersenyum penuh kebahagiaan.


Mereka duduk di atas sofa buludru berwarna hitam itu sambil berbincang-bincang santai dan pembahasan utama mereka kali ini adalah tentang Leo Carlando Zain Pratama papa kandungnya Jingga yang sudah terpisah dengan dirinya selama sepuluh tahun lebih itu.


"Kamu patut bertemu dengan papamu kalau bisa satukan kembali kedua orang tuamu, kasihan papamu itu loh nak, Tante juga tidak habis pikir saja dulu kenapa papamu berani menduakan mamamu yang begitu setia, baik, sholehah dan cantik," keluhnya Bu Fadia.


"Biasalah banyak pria yang seolah ingin dicap Pria sejati kalau punya istri lebih dari satu, intinya kembali lagi ke takdir dan garis tangan masing-masing seorang perempuan," imbuh Bu Linda.


"Kalau kelak kamu punya kekasih atau ada cowok yang dekati kamu harus lebih selektif memilih agar tidak mudahnya tertipu mulut berbisa dari beberapa laki-laki yang tidak pernah bisa setia hanya dengan satu wanita dalam hidupnya," nasehatnya Bu Endang Rahayu yang memang seorang janda karena suaminya juga mendua.

__ADS_1


"Hahaha kalau anakku mah jeng aku yakin dia setia, aku yakin akan menjaga Jingga seperti menjaga saya mamanya," cercanya Bu Sintia yang akhirnya membuka rahasianya di depan umum terutama Jingga dan Abri.


Jingga spontan langsung menatap tajam ke arah pria berusia 19 tahun lebih itu otewe 20 tahun. Tetapi, Jingga segera memutuskan kontak mata mereka agar tidak ketahuan jika mereka saling berpandangan satu sama lainnya.


Aku harus segera mencari keberadaan Papa, mumpung punya banyak waktu, tapi ngomong-ngomong daerah itu dari sini cukup jauh.


"Apa jangan-jangan kamu berencana menjodohkan putramu Abrisam dengan Jingga? Padahal aku juga berniat untuk menjodohkan anak keduaku yang polisi itu," ucapnya sendu Bu Endang yang tertawa di akhir ceritanya padahal perkataannya itu serius hanya saja menjaga perasaannya Ibu Sintia sahabatnya sendiri.


Berselang beberapa menit kemudian, para ibu-ibu sudah bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Jingga hari ini diantar Mamang Udin yang belum datang segera ditelpon oleh Jingga agar tidak perlu datang menjemputnya karena ada urusan yang cukup penting dan mendesak akan dikerjakannya.


Jingga berdiri di depan pagar rumahnya Bu Endang sambil menunggu ojek online yang sudah di pesannya melalui aplikasi ojol yang ada di ponselnya itu.


Jingga melihat ke arah jarum jam yang ada di pergelangan tangannya," astaghfirullahaladzim kenapa sampai sekarang ojolnya belum datang juga, apa yang dilakukannya sehingga lama banget sampainya," gerutu Jingga sembari mondar-mandir di depan matanya seorang pria yang sedari tadi memperhatikan gerak geriknya Jingga.

__ADS_1


"Apa aku boleh antarin kamu ke tempat papamu kebetulan aku mengetahui alamat itu dengan baik," pintanya Abrizam.


__ADS_2