
Beberapa menit sebelum kedatangannya Jihan dan Raisa Andriana. Raisa mendatangi kamarnya kakak sepupunya itu untuk berbicara hal yang cukup penting.
"Jih, apa kamu sudah yakin dengan pilihannya kamu kali ini? Bagaimana dengan bang Gamaliel, kalian sudah berjanji untuk menikah nanti tapi kalau seperti ini berarti kamu akan terpisah dengannya untuk selamanya," ucapnya Raisa yang ikutan duduk di tepi ranjang bersama dengan Jihan.
Jihan menatap ke arah teman rasa saudaranya itu, karena sejak masih bayi mereka sudah bersama walau beda rumah tempat tinggal mereka. Tetapi selama mereka melanjutkan studinya, barulah satu rumah.
"Apa aku ada pilihan lain yang bisa aku pilih?" Tanyanya balik Jihan.
"Kamu kan bisa menolak lamarannya dengan mengatakan bahwa kamu tidak mencintainya," ucapnya Raisa.
"Kalau aku menolak bagaimana dengan nasibnya Alif? Tidak mungkin aku lebih mementingkan kehidupan pribadiku dengan keselamatan dan kebebasan dari Alif. Aku tidak mungkin egois hanya mementingkan kepentingan hubunganku dengan bang Gamal." Tampiknya Jihan.
"Ya Allah… kenapa meski aku mengijinkan Alif waktu itu menyetir mobil dalam keadaan yang tidak fokus dengan kondisi jalanan." Gerutu Raisa yang mulai menyerah untuk membujuk Jihan.
"Semuanya ini pasti sudah diatur oleh Allah SWT dengan begitu baiknya, tanpa campur tangan Alloh pasti semuanya tidak akan pernah terjadi. Terus kalau aku menolak untuk menerima lamarannya Pak Kaisan gimana dengan nasibnya anak yang ada di dalam kandungannya Asminah?" Tanyanya Jihan yang mengelus wajahnya dengan gusar.
Raisa mengelus punggung tangan sahabatnya itu," kalau gitu perbanyak berdoa saja, semoga Allah SWT memberikan jalan keluar dan solusi yang paling tepat dalam permasalahan kalian berdua, tapi ngomong-ngomong apa kamu masih ingat jika bang Gamal akan datang ke London dua minggu lagi?" Raisa menatap intens ke arah dalam bola matanya Jihan yang mirip hasel itu.
"Aku masih ingat, rencana awalnya bang Gamal akan datang besok tapi, pekerjaannya di perusahaan kakek Septa enggak bisa dia tinggalkan karena katanya lagi banyak proyek besar dan sangat penting yang dia kerjakan,"
Aku ada solusi yang paling tepat, aku yakin kakak Jinan bisa membantuku. Lagian kak Jinan mengetahui jika aku berpacaran dengan bang Gamal. Aku yakin kak Jinan akan membantuku dengan cara yang sudah aku pikirkan matang-matang.
Apalagi kak Jinan tidak punya kekasih, aku bisa pastikan kalau kak Jinan bersedia membantuku.
Senyuman lebarnya Jihan tersungging di sudut bibirnya itu saking gembiranya karena menemukan solusi dari luar permasalahannya.
__ADS_1
Setelah perbincangan dan sesi curhatannya, Jihan dan Raisa turun ke lantai dua dimana ingin bertemu dengan keluarga dari pihak pelamar yang telah datang.
"Apa aku sudah cantik?" Tanyanya Jihan seraya berputar di depan kaca rias nya.
Raisa dan Delila yang baru saja bergabung memutar tubuh kakak sepupunya itu.
"Mbak sudah sangat cantik, bahkan melebihi dari kecantikan Kate Middleton," pujinya Delila.
"Hahaha,ngaco loh. Gawat kalau aku lebih cantik dari istri pangeran Inggris," sahutnya Jihan.
"Apa Mbak Jihan sudah siap?" Tanyanya Dania yang kepalanya menyembul masuk ke dalam kamarnya sang calon mempelai pengantin perempuan.
"Alhamdulillah dia sudah siap kok, masuk saja kenapa meski berdiri di depan pintu seperti itu," ujarnya Raisa.
"Iya alhamdulilah mereka sudah pulang semuanya dan sudah berada di bawah bersama dengan calon mertuanya Mbak Jih," jawabnya Delila.
"Masya Allah Mbak Jihan sangat cantik, aku sungguh iri melihat Mbak nikahnya cepat. Aku juga pengen nikah muda seperti Mbak loh," ucap Dania adik kembarnya Delila putrinya Jingga dan Guntur.
"Andaikan kita bisa gantian,kamu saja yang menikah dengan laki-laki itu, aku masih mau kuliah yang benar," ucapnya Jihan dengan asal saja.
"Kalau gitu kita turun saja, masalah pertukarnnya nanti dibicarakan lagi dan tentunya Dania akan kena marah dari semua orang atas ucapan konyolnya ini!." Sarkasnya Delila.
"Ish… kita kan hanya canda saja tidak serius kok. Kakak malahan anggapnya serius lagi," sungutnya Dania yang terkekeh mendengar perkataan dari kakak kembarnya itu.
Keempat perempuan muda itu berjalan beriringan menuruni tangga satu persatu. Mereka berjalan bagaikan rombongan paskibra saja yang berbaris dua kebelakang.
__ADS_1
Senyuman dari setiap wajah gadis itu sungguh memikat hati bagi siapapun yang melihat kedatangan mereka. Semuanya sama-sama cantik, bodynya aduhai ,smart, baik hati dan sholehah idaman setiap pria manapun.
Senja yang melihat kedatangan putrinya itu segera berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan Jihan. Sedangkan Jinan berusaha untuk tegar, tetapi tak mungkin mengatakan yang sesungguhnya di depan semua orang.
Mungkin jodohmu adalah adikku bukan aku, walaupun setiap bulannya aku menunggu kedatanganmu untuk mencari keberadaan ku.
Tapi, salahnya aku waktu itu tidak sempat mengatakan kepada kak Kai, jika aku bukan Jihan tapi Jinan.
"Ini dia cucu bungsuku Nyonya Margaret gadis yang rencananya ingin dinikahi oleh cucu Anda yang bernama Kaisan Al-ayyubi Haitam," ucapnya Bu Hanin Mazaya.
Senja berjalan menggandeng tangan putrinya itu dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajahnya itu sehingga semakin mempercantik penampilannya Senja yang sudah tidak muda lagi.
"Putriku tersenyumlah kepada mereka, jangan berwajah datar dan kaku seperti ini juga," bisiknya Senja sambil terus berusaha untuk membuat semua orang tidak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan oleh putrinya.
Jihan pun memperlihatkan senyuman termanisnya ketika membayangkan, apabila Gamal Audrey Nazief adalah pria yang berdiri di samping papanya. Padahal tidak ada laki-laki orang yang berdiri di dekat daddynya, melainkan yang berdiri adalah Omanya bu Saskia Shopia.
"Masya Allah cantiknya calon mantu cucuku. Benar-benar kedua cucu Anda sungguh sangat cantik Bu Hanin dan Pak Septa. aku sungguh tidak sanggup memilih salah satu dari mereka jika aku dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit tentunya," pujinya Bu Jessika.
"Ibu Jessica bisa saja, alhamdulilah di keluarga kami terkenal anak kembarnya. Bahkan Jihan itu punya saudara kembar tiga loh Bu, itu dia kakak paling sulung namanya Gibran Mahesa Abrar," semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah Gibran sedangkan yang ditatap hanya santai saja.
"Benar-benar memang bibit unggul semuanya, aku tidak menduga ternyata cucunya Nyonya kembar tiga. apakah karena Mamanya mereka juga kembar sehingga anak-anaknya juga ikutan kembar pula," imbuhnya Bu Margaretha.
"Alhamdulillah, makasih banyak, Nyonya Margaret bisa saja. aku pun terkadang berfikir Allah SWT telah memberikan segalanya padaku dengan anak-anak yang baik dan cucu-cucu yang cantik dan ganteng serta berguna bagi siapapun, agama dan negara tentunya," ujarnya Bu Hanin yang begitu gembira karena mendapatkan pujian untuk ketiga cucunya.
"Nak Jihan, bagaimana dengan lamaran kami ini,apa kamu setuju menikah dengan putra tunggalku yang bernama Kaizan Al-Ayyub Haitam Marcel Schmelzer?" tanyanya Pak Marchel yang ingin agar apa yang menjadi keinginan putranya itu berhasil.
__ADS_1