
Kegiatan kedua pasangan suami istri terhenti, ketika nada dering ponselnya Kabir dan Senja saling bersahutan dan seolah-olah berlomba untuk segera diangkat.
Kabir segera menghentikan kegiatannya itu, apa yang dilakukan oleh Kabir diikuti oleh Senja. Keduanya sama-sama mengangkat telpon masing-masing
"Alhamdulillah mobil tidak terlalu bergoyang, mungkin tuan muda dan nyonya muda sudah selesai, akhirnya aku bisa bernafas lega, aku tidak bisa menertawai ataupun protes dengan apa yang mereka lakukan maklumlah pengantin baru, aku juga dengan istriku dulu lebih parah dari Tuan Muda Kabir,kami malah tak kenal tempat ruang tamu oke, dapur dan kamar mandi pun kami manfaatkan, memang masa muda itu sungguh mengasyikkan,"
Pak Andi tersenyum simpul menanggapi perkataannya sendiri yang mengingat masa mudanya ketika menjadi pengantin baru.
"Assalamualaikum," ucapnya Senja ketika sambungan teleponnya tersambung seraya bercermin memperbaiki makeup nya yang sudah pasti belepotan.
"Waalaikum salam, kami sudah di gedung acara nih, aku bareng dengan anak-anak," balasnya Zania Mirzani.
"Alhamdulillah kalau gitu,tapi Icha datang juga kan bareng kamu?" Tanyanya Senja yang memastikan kedatangan temannya itu karena ada kejutan khusus yang akan diberikan olehnya Senja untuk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kalau Icha ada, malahan dia sudah cicipi kudapan di pesta," candanya Zania yang terkekeh melihat sikapnya Icha yang selalu saja seperti orang kelaparan karena seminggu tidak makan.
"Alhamdulillah kalau kalian sudah datang, tunggu kami sudah dekat dari sana kok, kalian tunggu saya dengan Abang Kabir," ucapnya Senja yang segera mematikan sambungan teleponnya mengingat gedung tempat perhelatan akad nikah sekaligus resepsi sudah di depan matanya.
Zania Mirzani menatap layar ponselnya yang sudah padam lampu layar ponselnya.
"Tumben ini anak matikan telepon tanpa pamitan, hemph jangan-jangan Pak Kabir lagi main sepertinya dengan Senja," gerutu Zania yang tersenyum penuh arti.
"Tapi kamu kan suka bahkan minta lagi dan ketagihan dengan apa yang Abang perbuat," tampiknya Kabir yang sudah mengangkat telponnya Fajri Bachan.
Ya Allah apa mereka tidak bisa nahan diri untuk berbuat seperti itu, kalau seperti ini kasihan nasibnya Pak Andi jadi obat nyamuk dan harus dengerin suara dee saa haann.
Fajri Bachan tertawa terbahak-bahak membayangkan apa yang terjadi pada majikannya itu.
__ADS_1
Pantesan anaknya kembar tiga, Pak Kabir sungguh luar biasa menggempur pertahanan dari Senja. Tapi, kalau aku dengan Zania nantinya bakal gimana, apa mungkin penyakit mereka akan menular kelak pada kami.
Kabir bukannya menjawab pertanyaan dari Fajri malah meladeni perkataannya istrinya, bahkan dia lupa jika sedang bertelponan dengan salah satu anak buahnya itu sekaligus temanya masa putih abu-abunya.
Kabir menaruh ponselnya ke atas jok mobil seraya menarik tubuhnya Senja hingga hidung mancung nan bangirnya saling bertabrakan.
"Aku akan menyewa hotel disana agar kita lebih leluasa dari pada di mobil, kamu akan melihat kemampuan suamimu ini," ucapnya Kabir yang sengaja berkata seperti itu untuk melihat reaksinya Senja.
Senja menarik dasinya Kabir dengan sekali tarikan hingga tidak ada sekat yang menghalang-halangi wajah keduanya,"Abang emang selalu jago terutama di atas ranjang, tapi harus lihat waktu dan kondisi jangan asal main tancap gas tiang bendera saja," Senja menatap intens kedua netra hitam kecokelatan milik prianya itu.
Kabir mengetahui jika Fajri dan ketiga pria bujang mendengarkan percakapannya dengan Senja.
kalian bakal kepanasan dengarkan apa yang kami bicarakan. aku yakin kalian bakal kepanasan untuk segera menikah.
__ADS_1