
Owek..
Oewek..
Semua mengarahkan pandangannya ke arah Icha," astauhfirullah aladzim Icha kita ini mau makan kamu malah mual-mual seperti itu!" Gerutunya Zania.
"Heran deh Cha, Senja yang hamil kamu malah yang seperti ngidam saja!" Ketusnya Naysila.
Senja, Naysila dan Zania saling bertatapan satu sama lainnya.
"Apa jangan-jangan kamu juga hamil!?" Tebaknya ketiga perempuan muda itu yang saling bertatapan satu sama lainnya sambil mengerutkan keningnya melihat sikap dan reaksinya Icha.
Fajri Bachan mencari sosok sahabatnya itu yaitu Hakim Rahman," kemana orang itu, tumben enggak nongol padahal tidak biasanya seperti ini,"
Senja segera berjalan mendekati Icha karena melihat Icha yang sudah menitikkan air matanya itu.
"Icha kamu baik-baik saja kan? Katakan padaku apa yang terjadi padamu kenapa kamu malah menangis seperti ini? Maafkan perkataannya Nay dan Za, mereka hanya bercanda kok jangan dimasukkan dihati," imbuhnya Senja yang mengelus punggungnya Icha.
Tanpa disadari Icha segera memeluk pinggangnya Senja dan semakin mengeraskan suara tangisannya itu. Bukannya berhenti menangis tapi, malah semakin membuat semua orang khawatir melihat kondisinya.
"Astaughfirullahaladzim, Icha apa yang terjadi padamu kamu dibujuk bukannya menghentikan tangisannya malah semakin menangis, kalau ada masalah kamu berbagilah pada kami, tapi jangan seperti ini juga," tampiknya Senja.
Zania pun segera menyudahi acara makannya siang menjelang sore itu.
"Ya Allah apa yang terjadi padamu Icha Khaerunnisha? Jangan seperti ini sama saja kamu buat kami cemas dan juga takut," ucapnya Zania.
Naysila juga berdiri dari duduknya dengan menyisakan sedikit makanannya di atas piringnya.
"Iya ini anak kenapa juga, bukannya berhenti menangis malah semakin tersedu-sedu seperti orang yang baru saja putus cinta, tapi apa hubungannya putus cinta dengan mual-mual yah," cercanya Naysila.
"Hemph, sepertinya kunci jawabannya dari permasalahan yang dihadapi oleh Icha ada di tangannya sang general manager kita semua," ujarnya Fajri Bachan yang masih melanjutkan acara makannya itu dengan memainkan garpu dan sendok makannya itu.
Semua orang kembali mengarahkan pandangannya ke arah Fajri yang begitu santainya berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Mak-sudnya a-pa kenapa dengan pak GM kita yang terhormat! Apa hubungannya dengan Icha?" Tanyanya Zania.
"Icha! Apa jangan-jangan kamu hamil? Karena aku yakin dia sedang hamil deh," terkanya Naysila yang mulai berbicara dengan asal nebak saja.
Bugh..
"Augh!! Sakit tahu! Kalau kalian keseringan muluk kepalaku bisa-bisa saya semakin pendek saja!" Dengusnya Naysila seraya mengelus kepalanya yang terkena getok dari Zania Mirzani.
"Kau juga kenapa main asal jiplak saja, kalau ngomong itu dikira-kira kenapa!?" Kesalnya Zania lagi.
"Aku kan asal nebak saja, kalau enggak benar kan itu bagus," belanya dari Naysila.
Icha semakin terisak dalam tangisannya,dia tidak mampu berucap sepatah katapun lagi. Dia terlalu sedih dan takut serta malu, karena sudah hamil diluar nikah seperti prasangka dan dugaan ketiga sahabatnya itu.
Icha mengeratkan pelukannya di tubuhnya Senja hingga pakaian kerjanya Senja penuh dengan ingus dan air mata.
"Icha please! Jangan seperti ini aku mohon bicaralah agar kami bisa membantumu mengatasi masalahmu, kalau kamu seperti ini kami juga enggak bisa membantumu, ingat menangis seperti ini juga tidak menyelesaikan masalah," ujarnya Senja.
"Sa-ya baik-baik saja kok," ucapnya Icha yang tidak mungkin berbicara terus terang jika Fajri sang anak buah kepercayaannya Kabir masih ada bersamanya.
"Kalau kamu baik-baik saja tolong berhenti menangis, jujur saja kami pusing dan bingung melihat kamu yang seperti ini," ujarnya Zania.
Hingga pintu ruangan kantornya Senja terbuka lebar dan masuklah seorang pria yang seumuran dengan Fajri Bachan. Pria itu menatap intens ke arah Senja.
"Nyonya muda saya diperintahkan oleh Tuan Besar Abbas untuk menjemput nyonya, ini perintah dari tuan muda Kabir suaminya nyonya sendiri," ucap pria itu lagi sambil membungkukkan badan sedikit ke arahnya Senja.
Senja memeriksa jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu, kemudian melihat kembali ke arah pria itu.
"Setengah jam lagi baru saya pulang, Ardyan kamu tunggu aku di luar, karena saya masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu sebelum pulang," tukasnya Senja Starla Airen yang menatap ke arah Ardyan Putra.
"Baik Nyonya Muda," balasnya Ardyan asisten pribadinya Pak Abbas Khaer papa mertuanya Senja.
Ardyan sudah meraih gagang pintu untuk keluar tapi, langkahnya terhenti ketika mendengar perkataan dari seseorang.
__ADS_1
"Ardyan Putra!" Teriaknya Naysila yang mengenali pria itu.
Ardyan segera menghentikan langkahnya dan mengarahkan tatapannya kepada Naysila.
"Kamu kok bisa ada di sini?" Tanyanya Ardyan.
Naysila berjalan ke arah Ardian sambil terkekeh melihat sikapnya Ardyan itu.
"Bukannya bertanya gimana kabarnya saya ehh malah memberikan pertanyaan yang cukup aneh," ucapnya Naysila lagi yang tersenyum lebar melihat tetangganya itu.
Icha kembali bernafas lega karena ia kembali terselamatkan dari segala macam pertanyaan dari orang-orang.
Alhamdulillah mungkin hari ini aku masih tertolong, tapi lain kali gimana dan aku harus menjawab apa juga.
Fajri diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Icha," kasihan juga gadis itu, padahal esok adalah hari pertunangannya Hakim Rahman, tapi nasib Icha gimana, aagh pusing kalau mikirin masalah mereka, saya juga pusing gara-gara ayah terus menyuruh saya untuk menikah bulan ini sedangkan Zania belum siap katanya masih magang,"
Naysila menepuk pundaknya Ardyan," astaga kamu sudah sombong yah mentang-mentang kerja dengan sultan sehingga kamu seperti tidak mengenaliku lagi," cercanya Naysila.
Ardyan memegangi tangannya Naysila," hehe bukan seperti itu, hanya saja saya memang sangat sibuk makanya sudah sebulan lebih tidak mengunjungi rumahmu, tapi ngomong-ngomong paman baik-baik saja kan?" Tanyanya Ardyan.
"Alhamdulillah papa baik-baik saja kok hanya saja teman caturnya berkurang seorang, yaitu kamu," Jawab Naysila yang melupakan keberadaan temannya yang ada di dalam ruangan itu.
"Hem, sepertinya bakal ada sejarah tetanggaku idolaku nih," teriaknya Zania Mirzani yang segera berjalan ke arah luar.
"Kami pamit dulu mau lanjutkan kerjaan, soalnya sudah waktunya bekerja entar pak Fajri mengomel dengan kinerjanya kami," cicitnya Icha yang berusaha sekuat tenaga menahan rasa mual-mualnya tiba datang jika mencium wangi aroma masakan berbumbu.
"Saya pamit pulang lebih duluan yah, enggak enak papa mertuaku sudah kirim orang untuk jemput soalnya, Fajri tolong mobilku diantar ke rumahnya papa," ucapnya Senja sambil membereskan beberapa barang bawaannya yang cukup penting ke dalam tasnya itu.
"Siap Nyonya Muda," balasnya Fajri.
"Ada lagi tolong suruh ob untuk bersihkan ini semua, kalau sisa makanannya ada yang mau ambil berikan saja padanya, tidak baik buang-buang makanan mubasir kecuali makanannya sudah kita sentuh atau basi ya bagian tempat sampah itu," tuturnya Senja panjang kali lebar.
Ardyan tersenyum tipis ke arahnya Naysila," insha Allah nanti malam saya akan ke rumahmu kangen juga bermain dengan Paman, saya permisi dulu assalamualaikum," ucapnya Ardyan Putra.
__ADS_1