
Cukup aku dengan Allah SWT yang mengetahui apa yang terjadi. Aku tidak ingin menjadi beban hidupnya bang Kabir.
Ya Allah bagaimana caranya aku mengatakan kepada mereka jika aku sedang... cukup aku lah yang mengetahui kenapa aku bersikap seperti ini.
Maafkan aku Pak Kabir, rasa cintaku padamu harus aku kubur dalam-dalam dan mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua.
Maafkan aku ya Allah, ini jalan yang aku pilih disisa waktuku di dunia ini. Aku sudah mulai mencintainya, tapi aku tidak ingin melihat dia sedih jika kelak aku pergi untuk selamanya.
Senja berusaha untuk tersenyum dan menutupi kesedihannya itu. Dia tidak ingin siapapun mengetahui apa yang dialaminya.
"Dek apa kamu masih menganggap saya adalah kakakmu? Kalau memang bagimu aku bukan lagi kakakmu, tidak apa-apa kamu simpan saja apa yang terjadi padamu, karena kakak yakin apa yang kamu pilih ini pasti sudah kamu pertimbangkan dengan baik," ucapnya Jingga.
Senja baru saja ingin membuka mulutnya dan menimpali pembicaraan kakaknya itu, tapi pintu kamar perawatan adiknya terbuka lebar.
"Assalamualaikum," ucap semuanya serentak.
Senja, Jingga dan Guntur segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
"Waalaikum salam," Jawab mereka juga.
Bu Hanin Mazaya, Bu Sinta Khan, Nyonya Claudia, Bu Sarah dan nyonya Winda adiknya Pak Abbas, Pak Bastian Nasution, Pak Abbas Khairil Sanders, berjalan beriringan ke arah Senja yang memperbaiki posisi duduknya itu. Jingga pun berdiri menyambut kedatangan mereka semua.
"Papi, mami juga datang," beo Guntur Aswin yang melihat kedua orang tuanya ternyata juga hadir.
Jingga satu persatu mencium punggung tangan ke enam orang tua itu dengan senyuman ramahnya.
Pak Abbas mengusap puncak hijabnya Jingga,"Apa ini kakak kembarnya anak menantuku?" Tanyanya Pak Abbas Khairil.
__ADS_1
"Betul sekali, ini adalah calon mantunya kakakku, Mbak Sarah apa kamu sudah mengetahui jika putramu itu menyukai kakak ipar sepupunya sendiri?" Bu Hanin mulai membuka rahasianya Guntur di hadapan kedua orang tua dan neneknya Bu Sarah.
Semua orang mengarahkan pandangannya ke arah Hanin bundanya Kabir Kasyafani Sanders.
"Putraku Guntur apa benar yang dikatakan Aunty kamu nak kalau kamu menyukai gadis sholeha ini?" Tanyanya Pak Bastian papinya Guntur kakak kandungnya Bu Hanin.
Guntur terpojok dengan pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dari seluruh anggota keluarganya yang hadir. Dia tersenyum malu-malu mendengar perkataan itu.
"Hemph, putraku tidak berbicara itu tandanya benar adanya, kalau begitu saya dan istriku akan segera memiliki juga anak menantu perempuan cantik bukan hanya kamu Hanin dan Abbas," candanya Bu Sarah maminya Guntur yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu di depan mertua dan anggota keluarganya yang lain.
"Kalau begitu segeralah melamar secara resmi Jingga untuk cucuku, jangan biarkan Mama kalah dengan Claudia yang cucu mantunya sudah hamil, benar kan Nak Senja?" Tanyanya Bu Sinta Khan neneknya Guntur dan juga Kabir.
"Insha Allah Oma,saya akan segera melamarnya secara resmi dan sesuai tradisi di keluarga kita, tapi setelah pak Leo Carlando dan Bu Aliah Aziza balik dari umroh," jawabnya Guntur yang segera menengahi pembicaraan mereka semua.
"Syukur alhamdulilah, sepertinya cucuku satu ini tidak mau kalah dengan adik sepupunya yah," kelakarnya Bu Sarah lagi yang masih kelihatan awet muda diusianya yang sudah kepala enam itu
Bu Hanin segera berjalan ke arah Senja yang hanya terdiam mendengarkan perkataan mereka semua secara seksama. Semua orang duduk di salah satu sofa yang ada, ibu Sinta dan Hanin menaruh beberapa parcel buah khusus yang dibawa untuk Senja. Mereka menyimpan dan menaruhnya sebagian Di atas meja nakas sebagian kedalam lemari es.
"Bagaimana dengan calon penerusnya Kabir Kasyafani, apa dia tidak nakal di dalam sana Nak?" Tanyanya Hanin.
Senja tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari mama mertuanya itu," Alhamdulillah calon cucunya bunda baik-baik saja kok, hanya saja sepertinya sudah tidak sabar bertemu dengan Oma cantiknya," candanya Senja yang tidak mau kalah dengan mereka.
"Alhamdulillah, bunda bahagia mendengarnya kalau kamu dan calon cucunya bunda baik-baik saja," ujarnya Bu Hanin seraya mengelus perutnya Senja yang masih datar itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Tapi tadi nenek melihat Kabir pergi dengan terburu-buru, emangnya suamimu kenapa dan mau kemana Nak?" Tanyanya Bu Sarah yang penasaran dengan apa yang terjadi pada cucu ketiganya itu.
"Eh a-nu itu katanya ada keperluan mendesak di perusahaannya Oma, makanya Pak Kabir pergi dengan tergesa-gesa," balasnya Senja.
__ADS_1
"Kok masih panggil bapak sih! Ini kebiasaan mereka di kampus sehingga sapaan bapak dosen masih sangat melekat pada sapaan mereka masing-masing," tuturnya Bu Claudya.
Semua orang tertawa mendengar perkataan dari Senja itu. Jingga menatap intens ke arah adiknya.
Saya yakin ada masalah pelik yang kamu sembunyikan dari kami dek, apa jangan-jangan berkaitan dengan masalah pil kb itu yah?
Guntur yang tidak mendengar secara langsung tapi paham aps yang sedang terjadi dengan rumah tangga adik sepupunya itu.
Senja mendongakkan kepalanya ke arah Bu Sarah yang menanyainya itu,"
"Aku dapat informasi katanya, cabang perusahaan Kabir di Amerika Serikat USA New York mengalami masalah sehingga dia akan segera terbang ke sana sore hari ini," jelasnya Guntur sesuai dengan informasi yang dia peroleh dari asisten pribadinya Kabir.
Ya Allah aku sudah buat suamiku marah dan murka padaku. Maafkanlah hambaMu ini ya Allah.
Aku terpaksa membuat bang Kabir bersikap seperti ini padaku, sehingga ketika aku telah tiada aku bisa pergi dengan tenang.
Bu Sarah bangkit dari posisi duduknya itu," astaughfirullahaladzim Kabir, apa dia lupa kalau istrinya hamil muda!? Kenapa meski lebih mementingkan kepentingan perusahaan dari pada calon anaknya dan juga istrinya!" Kesalnya Bu Sarah.
Senja berusaha untuk tersenyum walau hatinya sakit mendengar kepergian suaminya tanpa berpamitan padanya terlebih dahulu.
"Oma,saya tidak apa-apa kok lagian Bang Kabir sudah meminta ijin padaku terlebih dahulu, Abang sebenernya enggan untuk pergi, tapi menurut saya itu sangat urgent dan penting banget tidak bisa ditunda-tunda lagi jadi saya menyarankan agar Abang Kabir pergi," sanggahnya Senja yang terpaksa berbohong karena tidak ingin masalah kisruh rumah tangganya diketahui oleh orang lain.
"Oma perusahaan Kabir sedang dilanda masalah yang cukup rumit, tapi kalian tidak perlu terlalu khawatir karena aku yakin Kabir bisa menanganinya dengan baik, walaupun nantinya bakal butuh waktu berbulan-bulan untuk Kabir menetap di New York city," ungkapnya Guntur yang mengarahkan pandangannya ke arah Senja yang sangat lihai dan pintar menyembunyikan kesedihannya dan kegelisahannya itu.
Bu Hanin memeluk tubuh anak menantunya itu," kamu tenang saja walau putraku enggak ada di sini tapi,kamu tidak perlu khawatir bunda, Nenek, Oma, Tante dan Aunty kamu selalu siap membantu kamu sewaktu-waktu jika kamu ngidam Nak," ucap Bu Hanin yang berusaha untuk menenangkan hatinya Senja.
"Alhamdulillah makasih banyak Bund, saya sangat senang mendengarnya," tukasnya Senja Starla Airen.
__ADS_1
"Alhamdulillah adikku sangat beruntung memiliki kelurga suami yang sangat baik dan peduli padanya, makasih banyak atas semua dan dukungannya terhadap Senja," tuturnya Jingga.
Bu Sinta segera memeluk calon menantunya itu," insha Allah kamu juga akan mendapat kesempatan limpahan kasih sayang dari kami mulai hari ini karena kamu adalah perempuan yang sangat dicintai oleh putraku, dan jujur saja saya bahagia karena putraku sudah terbebas dari perempuan luknut dan matre itu!" Ungkapnya Bu Shinta yang gembira karena Guntur sudah putus dengan mantan tunangannya yang bernama Tania.