
"Bisa diam tidak! Sedari tadi ngoceh mulu seperti ember bocor saja! Gimana caranya aku bisa bekerja dan menyelesaikan semua ini tepat waktu kalau kamu hanya menggangguku saja," gerutunya Senja Starla.
Hakim Rahman segera terdiam sesaat dan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
"Tapi Nyonya Muda kalau tuan Kabir mengetahui ini pasti saya yang akan dapat masalah dan paling parahnya bonus dan gajiku bisa kena sunnat lagi," ucapnya Hakim dengan pasrah.
Pintu itu terbuka lebar dan masuklah tiga perempuan cantik," Sen! Apa maksud dari perkataan Pak Hakim Rahman jika dia menyebut namamu dengan sebutan Nyonya Muda?" Tanyanya Zania Mirzani.
Hakim dan Senja saling bertatapan satu sama lain dan mulai salah tingkah, panik, cemas akan ketahuan kebohongannya dan juga sekaligus takut jika sahabatnya salah paham.
Ketiganya berjalan ke arah kedua orang itu yang nampak terdiam dan grogi dengan kedatangan mereka.
__ADS_1
"Sen, kenapa kamu diam saja? Padahal kami penasaran loh kenapa Pak Hakim Rahman selalu menyebut namamu dengan sebutan dan sapaan nyonya muda," tanyanya Naysila dengan penuh selidik.
Senja dan Hakim tidak mampu berucap karena akhirnya sudah ketahuan sedangkan mereka selalu mengelak selama ini jika tidak sengaja terdengar oleh orang lain.
"Mak-sudnya a-pa, sa-ya ti-dak mengerti," gagapnya Senja yang tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ya Allah Senja kenapa sampai gagap seperti ini sih! Tumbenan kamu bersikap seperti ini padahal biasanya kamu paling jujur dari kami loh," tukasnya Zania.
"A-ku bukan seperti itu maksudnya sa-ya baik-baik saja kok, hanya saja saya terlalu capek kok," kilahnya Senja Starla Airen.
Hingga kembali pintu ruangan kerjanya Senja terbuka lebar dan masuklah seorang pria dengan kedua tangannya menggenggam paper bag yang berisi makanan.
__ADS_1
"Nyonya Muda Senja makanannya sudah siap, saya sudah terlambat tapi jangan katakan pada pak Kabir nanti gajiku dipotong lagi," ucapnya pria itu yang berbicara tanpa melihat situasi dan kondisi di dalam ruangan itu.
Semua kembali mengarahkan pandangannya ke arah Senja, sedangkan pria yang sering disapa Fajri Bachan itu tercengang melihat begitu banyak orang di dalam ruangan tersebut dan melihat gadis pujaan hatinya sekaligus penolongnya.
Fajri membuang nafasnya dengan cukup kasar, "Kenapa kalian menatapku seperti itu!? Emangnya ada yang aneh dengan wajahku!" Ketusnya Fajri Bachan yang kembali ke mode disiplin dan galaknya itu.
"Ehh Pak kami sama sekali tidak bermaksud seperti itu, hanya saja kami disini bertanya kenapa kalian berdua menyapa sahabat saya ini sebagai nyonya muda Senja? Maksudnya apa dan kenapa?" Tanyanya Zania Mirzani yang sedikit meninggikan volume suaranya itu beberapa oktaf.
Hakim dan Fajri mengarahkan pandangannya ke arah Senja yang hanya mampu terdiam sejenak sambil berfikir bagaimana cara menyampaikan kebenarannya di hadapan ketiga temannya agar tidak ada yang salah paham padanya.
Senja menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup pelan pula.
__ADS_1
"Baiklah mungkin sebaiknya kita makan dulu, masalah menjelaskannya urusan belakangan, mungkin sambil makan sambil berbicara boleh kan pak Fajri," pintanya Senja yang terkekeh melihat raut wajah dan tampang ketiga sahabatnya yang sudah nampak tegang.