
"Sudah-sudah berbincang-bincangnya sekarang saatnya makan, Alia istriku kamu harusnya banyak makan makanan yang mengandung vitamin dan gizi yang cukup seimbang, seperti halnya dengan Senja yang kehamilannya sudah semakin besar butuh nutrisi makanan yang cukup agar perkembangan janinnya juga bagus," ucapnya Leo.
Jingga hanya menjadi pendengar setia saja dan membayangkan dirinya berada di posisi kedua wanita hamil itu seraya terus melanjutkan menyantap makanannya pagi itu.
Apakah mas Guntur Aswin juga akan seantusias dan sebahagia Papa mendapatkan kelak calon bayi kami? Aku sejujurnya tidak yakin akan hal itu, tapi katanya dia menikahiku karena sayang dan mencintaiku jadi otomatis apa yang ada pada diriku akan membuat dia menyukainya.
Ah sudahlah itu urusan belakangan,fokus kedepannya bagaimana jika kelak kami telah menikah dan menjadi masalah terpenting adalah bagaimana malam pertama kami, sedangkan hatiku ini jujur saja masih mencintai almarhum Abdil Pramudya.
Ya Allah semoga kelak aku bisa jatuh cinta pada mas Guntur lebih dari Abdil Pramudya dan tidak boleh lebih banyak rasa cintaku padaMu ya Allah ya Robbi.
Mereka bersantap pagi itu dan sesekali berbincang santai. Leo memberitakan bagaimana rasanya perasaan dan hatinya, ketika mengetahui Aliya hamil calon anak ketiganya, mengingat dia sudah bakal punya cucu tiga orang.
Terkadang tawa renyah dan gembira terdengar dari arah dalam meja makan. Tetapi, pikirannya Senja sebagian masih tertuju dan fokus pada suaminya itu.
Hingga suara bel berbunyi di dalam ruangan itu,ni Minah segera berjalan tergopoh-gopoh ke arah pintu depan untuk melihat siapa yang datang berkunjung ke rumahnya.
"Mungkin itu supir pribadinya suamimu Nak," ucapnya Aliyah sembari menyeka sudut bibirnya yang baru saja selesai menyantap makanannya.
Senja pun demikian segera menghentikan kunyahan makanannya kebetulan makanan yang ada di dalam piringnya pun sudah habis.
Senja hanya tersenyum tipis menimpali perkataan dari mamanya sendiri. Sebelum bangkit dari kursinya dia minum vitamin dan obatnya khusus untuk ibu hamil.
"Non Senja, orang yang menjemput Non Senja sudah datang katanya dia menunggu Nona di depan saja padahal saya sudah mengajaknya gabung makan,tapi katanya sudah kenyang," tuturnya Bu Minah.
"Ohh terima kasih banyak Bi Mina saya akan ke depan," balasnya Senja yang bersiap untuk berangkat.
Senja meraih satu persatu tangannya kedua orang tuanya itu dan tak lupa Neneknya untuk di cium punggung tangannya.
"Pa, Ma saya pamit ke kampus dulu, assalamualaikum," pamitnya Senja.
"Waalaikum salam, hati-hati Nak, jangan capek-capek yah ingat kamu itu sedang hamil kasihan anakmu kalau kamu sampai kelelahan," nasehatnya Bu Sri.
"Waalaikum salam, semoga berhasil kerjaannya Nak," imbuhnya Leo Carlando yang tersenyum teduh melepas kepergian putri bungsunya itu.
__ADS_1
Senja kemudian segera mengambil handbag nya dan berlalu dari hadapan mereka semua. Senja berjalan dengan perasaan yang bercampur aduk, pikirannya bercabang-cabang antara kampus, kantor dan kepergian suaminya yang pagi-pagi sekali tanpa membangunkannya.
Ardian Putra segera berdiri dan tersenyum ramah ketika menyadari dan melihat kedatangan istri dari tuannya.
"Selamat pagi, Kita langsung berangkat Nyonya muda?" Tanyanya Ardian yang sekedar berbasa-basi karena melihat Senja yang murung, banyak pikiran berbeda seperti hari-hari sebelumnya.
"Pagi juga, Kita berangkat saja langsung ke kantor," jawabnya Senja tanpa senyuman ramahnya yang seringkali dilakukannya.
Ardian merasakan ada perbedaan dari sikapnya nyonya mudanya, kasihan juga dengan Senja, semoga saja tidak berdampak pada kehamilannya.
Ardian bergegas menutup pintu mobilnya setelah membukakan untuk Senja yang sudah berada di dalam mobil dan duduk di jok kursi belakang.
Senja menatap seluruh jalan yang dilaluinya itu dan tidak berniat untuk berbicara dengan Ardian yang seringkali dilakukannya jika bertemu dengan kekasih sekaligus tunangannya Naysila teman baiknya itu.
Sudah beberapa menit mobil itu melaju membelah jalan protokol ibu kota Jakarta, tapi sedikitpun tidak ada pembicaraan yang terjadi. Walaupun hanya sekedar berbasa-basi saja menanyakan kabar satu sama lainnya.
Hingga Ardian berinisiatif untuk membuka pembicaraan mereka karena kondisi mobil seperti sepoi banget malah seperti kuburan saja yang tidak kehidupan di dalamnya.
"Non Senja, hari kamis nanti datang yah ke acaraku dengan Naysilla, rencananya hari Kamis nanti kami akan melangsungkan akad nikah dan resepsinya, ini ada undangan khusus untuk Anda dan tuan muda Kabir," ujarnya Ardian sembari menyerahkan ke arah Senja tapi,tangan kanannya tetap fokus menyetir.
Senja mengambil sebuah surat undangan yang bertuliskan nama Ardian Putra Wijaya dengan Naysila Alfian Mallarangeng.
"Insha Allah saya dengan Bang Kabir akan datang," balasnya singkat dari Senja.
Ardian pun menimpali percakapan mereka," saya tidak menyangka jika saya menikah lebih duluan dari Tuan Muda Guntur dan kakak Nona Jingga Aurora Ainah, padahal rencananya kami akan menikah enam bulan lagi,tapi keluarga besar ayahnya Nay dari Makassar menginginkan bulan depan tanggal empat, katanya mereka bulan September itu bulan baik untuk menikah," ucapnya Ardian yang tersenyum sumringah mengingat lamaran singkatnya itu.
Senja hanya ber oh ria saja tanpa menimpali perkataan lebih dari itu. Hingga Senja tidak memperhatikan kondisi jalan yang dilaluinya saking asyiknya membaca selebaran undangan berwarna gold itu yang ada di dalam genggaman tangannya.
Ardian hanya bersyukur karena sampai sejauh ini tidak ada banyak pertanyaan dengan arah jalan yang mereka datangi.
Senja segera menyimpan surat undangan itu ke dalam tasnya dan kembali memperhatikan layar ponselnya karena sibuk chatingan whatshap dengan ketiga sahabatnya.
Apalagi ketiga sahabatnya akan sama-sama bulan September akan menikah dan mengakhirinya masa lajangnya.
__ADS_1
Terutama Icha Khaerunisa dan Hakim Rahman yang akhirnya mendapatkan restu. Dian Puspita yang akan menikah dengan Hakim sehari sebelum pernikahannya kabur dari rumahnya sebelum akad nikahnya.
Betapa terkejutnya sekaligus bahagianya Hakim karena mendapatkan jalan yang terbuka lebar untuk menikahi dan bertanggung jawab kepada calon bayinya yang didalam kandungannya Icha yang berusia lebih muda dari kandungannya Senja.
Senja sudah hamil enam bulan lebih sedangkan uchay baru jalan usia kelima. Senja menyembunyikan kebahagiaannya dari hadapan Ardian. Hanya sesekali terlihat senyuman tipis menanggapi candaan garing dari Zania Mirzani yang katanya grogi dan nervous menghadapi pernikahannya sepuluh hari lagi dari saat ini.
Hingga sejam lamanya perjalanan mereka, barulah Senja merasakan ada keanehan dengan jalan yang dilaluinya itu. Dia merasakan kenapa perjalanannya cukup lama padahal jarak kantor dari rumahnya itu hanya sekitar setengah jam lebih saja.
Perusahaan Sanders Company tidak sejauh perjalanan yang barusan merek tempuh. Hingga pandangannya ia arahkan ke sekeliling jalan.
"Pak Ardian Putra Irwansyah Anda mau bawa kemana saya? Setahu saya ini bukan jalan ke arah perusahaan suamiku, ini jalan menuju puncak, bahkan kita sudah berada di Bandung rupanya," ketusnya Senja.
Ardian hanya terkekeh menanggapi perkataannya Senja, dia kemudian berbelok ke arah kiri tepat di depan jalan menikung.
"Anda cukup nikmati perjalanannya karena sesampainya di sana Anda butuh tenaga ekstra Nyonya," imbuhnya Ardian dengan ambigu.
Senja menganga lebar mendengar perkataan dari Ardian Putra," aneh! Kamu seperti Hakim, Fajri Bachan, Mike Andres, dan dua cecungutnya suamiku lupa namanya yang dua orang itu terlalu banyak asisten pribadinya soalnya," gerutunya Senja.
Hingga tak terdengar lagi suara keduanya dan deru mesin mobil pun berhenti tepat di depan sebuah vila yang sangat mewah. Matanya begitu terkejut dan Senja tak mampu dia tutupi dengan kekaguman dan rasa takjubnya melihat bentuk bangunan villanya.
Tapi,rasa takjub dan bahagianya langsung berubah ketika melihat suaminya berduaan dengan seorang perempuan yang berpakaian cukup ketat dan seksi.
Api amarahnya berkobar dan meletup-letup di dalam dada hingga naik ke ubun-ubunnya. Dia tidak sanggup lagi menahannya dengan kekuatan penuh dia memberanikan diri untuk melabrak suaminya dengan seorang wanita yang disangkanya seorang pelakor.
Ardian yang melihat hal tersebut hanya melongok tak percaya karena kedatangannya bersamaan dengan adegan yang seharusnya tidak terjadi.
Senja keluar dari dalam mobilnya dan berjalan tergesa-gesa ke arah suaminya dan pelakor itu berada.
"Kabir Kasyafani Sanders!!" Teriaknya Senja yang kemudian menarik tangannya perempuan itu dengan kekuatan besar.
Tarikannya yang cukup kuat membuat wanita berpakaian seksi itu tertarik hingga tubuhnya tersungkur ke atas rumput.
"Ahhh!" Pekik perempuan itu yang tubuhnya sudah mendarat bebas di atas permukaan rerumputan untungnya pakai celana pendek jika tidak underwear nya akan terekspos.
__ADS_1
"Dasar pelakor loh, ****** mana loh berani deketin suamiku!!" Senja yang berjalan ke arah perempuan itu berusaha untuk menjambak rambutnya tapi upayanya dihentikan.
"Stop!! apa yang kamu lakukan Senja Starla Airen Zain!!?" teriak Kabir yang melototkan matanya saking terkejutnya dengan kejadian yang sangat cepat terjadi di depan matanya.