
Bibirnya Adinda mulai pucat dan bergetar,air matanya semakin jatuh tak terbendung lagi. Setelah mendengar hinaan demi hinaan yang dilayangkan oleh Leo Carlando Zain pria yang begitu disayangi, dicintainya hingga rela melakukan apapun demi tercapai apa yang diinginkannya.
Leo menatap mencemooh Adinda, "Andai saja saya bisa memutar waktu, saya ingin sekali dalam hidupku itu tidak mengenal kamu, bahkan aku akan melakukan apapun agar aku tidak bertemu dengan perempuan lucknut,jahat dan yang hatinya terbuat dari batu! sungguh aku begitu sial tujuh turunan karena mengenal wanita picik seperti kamu!" cibirnya Leo tanpa mempedulikan perasaannya yang mampu menohok dan menusuk hatinya Adinda.
Adinda tidak melawan ataupun membela diri setelah diperlakukan kasar dengan banyaknya hinaan yang diterima oleh Adinda. Karena semua itu atas dasar kesalahannya sendiri yang sudah tega menjebak pria beristri agar dia hamil.
Padahal tragedi malam itu, tidak diketahuinya dengan pasti apa benar pria mabuk berat yang berada di dalam kamar yang gelap gulita tanpa pencahayaan lampu yang sudah ia matikan sejak tadi itu. Sehingga ia tidak melihat dengan jelas siapa pria yang menggaulinya. Sedangkan setahunya Leo terbaring di atas ranjangnya dengan tenang.
Hanya satu saksi kunci sekaligus pelaku dari otak kehancuran rumah tangganya Leo Carlando dengan Aliyah Azizah Humaira adalah pria yang begitu pengecut dan penakut tidak berani bertanggung jawab atas kesalahan besar yang dilakukannya. Ia hidup dalam kebohongan dan bersembunyi pada topeng yang bernama persahabatan.
Pria itu lebih memilih hidup dalam bayang-bayang penyesalan dan ketakutan dari pada bersikap heroik dan muncul untuk mengatakan bahwa dia adalah calon ayah dari anak yang didalam rahimnya Adinda. Malah mengkambing hitamkan sahabat terbaiknya sendiri.
"Mas Leo maafkan aku, hiks… hikks.. a-ku me-mang su-dah sa-lah be-sar," cicitnya Adinda yang sudah berbicara terbata-bata.
Adinda memegangi kepalanya yang mulai pusing, perutnya juga tiba-tiba sakit. Leo tidak peduli sedikitpun dengan apa yang terjadi kepada Adinda. Hatinya seolah lega setelah mengeluarkan unek-unek dan beban pikiran yang selama ini disimpannya rapat-rapat untuk menghindari agar Adinda tidak sakit.
Leo berjalan meninggalkan Adinda yang berdiri mematung di tempatnya itu. Leo tidak menggubris sedikitpun kesedihan yang dirasakan oleh Adinda istri keduanya yang dinikahinya secara siri.
__ADS_1
Leo menghentikan langkahnya ketika berdampingan dengan Adinda yang berdiri terdiam hanya air matanya yang terus menerus menetes membuktikan kesedihan dan kehancurannya.
"Adinda Arianti Razak mulai detik ini kamu bukan istriku lagi, aku talak tiga kamu hubungan kita cukup sampai disini saja!" Tegasnya Leo dengan sadar tanpa tertekan sedikitpun.
Menurut Leo ini salah satu jalan yang terbaik agar masalah tidak semakin rumit dan runyam. Leo segera meninggalkan rumahnya setelah memutuskan pernikahannya dengan Adinda.
Bagaikan disambar petir disiang bolong, Adinda tidak menyangka dan menduga jika dirinya akan diceraikan dalam keadaan hamil tua. Ia tidak pernah membayangkan jika dirinya akan menjadi janda di usianya yang masih muda itu.
Adinda berupaya meraih genggaman tangannya Leo tapi segera ditepis dengan kasar oleh Leo, "Mas Leo aku mohon jangan seperti ini, aku tidak mungkin bisa hidup tanpa mas Leo, tolong jangan ceraikan aku mas, aku mohon tarik semua perkataan Mas, bagaimana mungkin aku hidup tanpa mas Leo sedangkan saya masih mengandung anak darah dagingnya mas," rengeknya Adinda yang terus membujuk suaminya untuk tidak mentalaknya.
Leo tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulutnya Adinda mantan istrinya itu," aku tidak yakin jika anak yang ada di dalam rahimmu adalah milikku, jangan sampai itu benih dari pria lain, tapi jika dia lahir ke dunia ini saya akan segera melakukan tes DNA untuk mengetahui semua kebenarannya, Ingat itu baik-baik!" Tegasnya Leo.
"Aaauhh mas Leo," Adinda semakin meringis kesakitan menahan sakit perutnya yang tiba-tiba muncul itu.
Tubuhnya Adinda terhuyung ke belakang beberapa langkah hingga punggungnya membentur tembok dindin tidak rumahnya Leo.
"Aah sakit, mas Leo tolong!!" Jeritnya Adinda yang sudah terduduk berselonjor kakinya di atas lantai keramik teras rumahnya Aliah.
__ADS_1
Leo yang sudah hendak ingin membuka pintu mobilnya itu mendengar suara teriakannya Adinda segera menghentikan kegiatannya itu. Ia menolehkan kepalanya ke arah dalam pekarangan halaman rumahnya itu.
Betapa terkejutnya melihat apa yang terjadi pada Adinda perempuan yang baru saja diceraikannya tersebut. Leo segera berlari kencang ke arah Adinda yang mengerang kesakitan.
Leo berlari sangat kencang, walaupun dia tidak mencintai Adinda tapi,ia tidak mungkin begitu saja membiarkan Adinda kesakitan dan pingsan. Hatinya tidak terbuat dari batu yang begitu tega melihat seseorang perempuan yang menderita kesakitan.
Leo berusaha menggendong tubuhnya Adinda yang sudah banyak berceceran darah segar," Adinda aku mohon bertahanlah, maaafkan mas yang sudah membentak, memaki dan menghinamu, aku sangat marah padamu karena Aliah istriku pergi membawa kedua anak kembarku Senja dan Jingga," ratap Leo yang sungguh miris dan kasihan melihat kondisi dari Adinda.
Adinda berusaha untuk melihat jelas siapa orang yang menolongnya itu tangannya terulur untuk menyentuh pipinya Leo pria yang begitu tulus dicintainya itu," mas Leo maafkan aku, to-long sam-pai-kan ke-pa-da Mbak Aliya aku mi-nta ma-af," lirihnya Adinda sebelum menutup matanya dan tidak sadarkan diri lagi.
"Stop! Jangan banyak bicara mas akan membawamu ke rumah sakit, mas yakin kamu akan baik-baik saja," ucapnya Leo berusaha untuk menenangkan Adinda dan juga dirinya sendiri.
Leo nampak khawatir, panik, takut dengan keadaannya bagaimana pun baginya dan menurutnya anak calon bayinya Adinda adalah darah dagingnya sendiri. Padahal sebenarnya itu milik dari pria lain yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri yang terlalu penakut,cemen, brengsek, tolol tidak mau jujur atas perbuatan bejaknya terhadap Adinda yang menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain.
Leo tidak menyadari jika Adinda sudah pingsan karena kehilangan banyak darah. Ia mengira Adinda hanya tertidur saja. Leo menidurkan tubuhnya Adinda ke atas jok kursi mobil bagian belakang.
"Mas ada di sini jadi please bertahanlah," cicit Leo sembari mengecup keningnya Adinda yang raut wajahnya sudah pucat pasi karena iba Leo terpaksa melakukan hal itu berniat agar Adinda bisa kuat menghadapi rasa sakit ditubuhnya itu.
__ADS_1
Walaupun dalam hatinya masih sangat sakit, sedih, kecewa yang penuh penyesalan dengan apa yang sudah dilakukannya bersama Adinda tanpa mengetahui kehadiran Aliya Azizah Humairah dengan dalam mall terbesar di area bilangan Jakarta Selatan.