Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 59. Pertemuan Kembali


__ADS_3

Jingga malam itu tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan pria yang cukup arogan. Pria kesehariannya disapa Guntur itu datang ke acara pesta lamaran adik sepupu dari pihak ayahnya itu.


Guntur Aswin Nasution adalah keponakan dari nyonya Hanin. Sehingga mau tidak mau ia juga datang ke acara pertunangan adik sepupunya yang hanya terpaut beberapa hari saja dengannya.


"Pak Guntur kok bisa juga ada disini Pak," sapanya Lutfi Khaer pamannya Senja.


"Saya juga harus bertanya seperti itu padamu, kenapa kamu juga ada disini, ngomong-ngomong gadis tengik ini siapanya kamu, apa kamu mengenalnya?" Tanyanya Guntur yang langsung menunjuk ke keningnya Jingga.


"Hey! Pak Guntur yang terhormat kenapa tangannya gak bisa dikondisikan mentang-mentang saya nabrak Anda tadi sehingga saya diperlakukan seperti ini! Saya kan sudah meminta maaf berarti kita tidak punya urusan apa pun lagi!" Tegasnya Jingga.


"Maafkan keponakan saya Pak Guntur, dia masih kecil sehingga rada-rada agak kasar cara ngomongnya, semoga kejadian malam ini Bapak bisa lupakan karena semua ini murni kecelakaan tanpa ada yang berniat untuk sengaja melakukannya," jelasnya Luthfi yang terus berusaha membujuk Pak Guntur.


Pamannya Jingga yang berharap Guntur tidak marah-marah pria duda satu anak ini terkenal dengan sikapnya yang dingin, tegas dan tidak pandang bulu bagi siapapun yang bersalah padanya.


"Maaf Paman saya pamit permisi dulu masih banyak yang meski saya kerjakan, assalamualaikum," ucapnya Jingga dengan penuh amarah karena seakan-akan dituduh melakukan hal-hal yang tidak baik.


Lutfi segera meninggalkan tempat tersebut bersama Sasmita Larasati setelah berbincang-bincang beberapa saat bersama dengan bosnya pemilik perusahaan tempat ia mencari nafkah.


Beberapa hari kemudian, persiapan hampir seratus persen. Memang kelurga besar Sanders melakukan semuanya dengan serba cepat, disiplin, teratur dan terkendali dengan baik.


Sehingga semua urusan rencana pernikahan mulai dari undangan pernikahan,gedung tempat pelaksanaan acara resepsi pernikahan, tempat sakral untuk pernikahan keduanya pun semuanya beres dalam sekejap mata saja.


Aliah berdiri di depan cermin besar yang tergantung di pojok kamarnya itu. Ia berulang kali menatap intens penampilannya. Hari ini ia berencana untuk menemui mantan suaminya itu.


"Ya Allah… semoga aku bisa melewati dengan baik pertemuan kedua kami ini selama berpisah," gumamnya Aliyah sambil memeriksa tata letak hijabnya itu.

__ADS_1


Jingga masih seperti biasanya setiap harinya berangkat ke kampus. Dia masih keheranan dengan nomor hp kekasihnya Abdil Pramudya yang ada di USA New York Amerika Serikat. Pria yang sudah berjanji padanya akan segera kembali ke tanah air setelah melaksanakan pendidikannya di luar negri.


"Ya Allah entah apa yang terjadi dengan Abang Abdil sudah hampir sebulan ini tidak memberikan kabar apapun padaku, aku sangat mengkhawatirkannya ya Allah.." gumamnya Jingga sebelum keluar dari mobilnya.


Hari ini Jingga diserahi tugas untuk mengecek beberapa nama-nama orang yang akan di undang oleh mamanya Aliya. Yaitu undangan yang sudah tersisa beberapa saja yang belum disebar.


Aliya segera mengendarai mobilnya menuju ke jalan raya tepatnya di jalan XX kafe yang sering dulu menerima datangi ketika masih pacaran.


"Bismillahirrahmanirrahim," lirihnya Aliah ketika memutar handel pintu kafe tersebut.


Alia segera mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dari mantan suaminya itu yang bernama Leo Carlando Zain Pratama. Aliah baru hari ini bisa diberikan Ilham dan petunjuk dari Allah SWT atas permasalahan persyaratan yang diajukan oleh Senja Starla Airen putri bungsunya itu sebagai salah satu persyaratan untuk menikah.


Aliah melihat pria dewasa yang masih cukup tampan diusianya yang sudah kepala empat tersebut sedang menikmati secangkir kopi yang masih hangat dengan memperlihatkan asapnya masih mengepul di udara.


Pria itu pun tersenyum ramah ketika melihat kedatangan mantan istrinya yang baginya mereka masih suami istri karena belum ada kata talak ataupun cerai diantara mereka berdua.


Leo yang hendak berdiri untuk menarik kursi untuk didudukinya langsung dicegah oleh Alia sendiri.


"Tidak perlu Mas, saya masih bisa sendiri kok, jadi mas tidak perlu repot-repot lagi," cegahnya Aliah yang tidak ingin merepotkan suaminya itu.


Mereka kemudian duduk kembali dan saling bertatapan satu sama lainnya. Apa yang mereka lakukan membuat Aliya grogi,nerves, tidak percaya diri karena sejak kedatangannya menjadi sumber dan objek yang terus dilihat oleh Leo dan beberapa orang yang berada di sekitar kafe.


"Bagaimana kabarmu Alia?" Tanyanya Leo yang membuka percakapan diantara mereka berdua setelah beberapa saat mereka hanya saling bertatapan, bungkam seribu bahasa tanpa ada yang berniat untuk mengakhiri kebisuan itu.


"Alhamdulillah saya baik-baik saja kok Mas seperti yang mas lihat," jawabnya Aliah.

__ADS_1


"Kamu mau pesan apa? Mas akan pesankan kamu minuman dan makanan kecil," ujarnya Leo yang terus tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari Aliah.


"Tidak perlu repot-repot kok Mas lagian saya sudah makan di rumah bersama anak-anak." Tolaknya Aliah dengan sopan.


Setelah perbincangan santai itu, suasana Jambi nampak sepi dan canggung lagi. Mereka tidak ada yang berani memulai ataupun kembali membuka percakapan diantara mereka.


Hanya suara beberapa pengunjung yang berlalu lalang mampu memecahkan keheningan dan kesunyian di sekitar meja yang mereka pilih.


"Mas saya meminta maaf sudah mengajak mas untuk bertemu, tapi sebelumnya saya meminta yang mengajak duluan mas untuk bertemu dengan alasan rencana pernikahan salah satu putri kembarnya Mas yaitu Senja," imbuhnya Aliah.


"Maksudnya ada apa dengan Putriku Senja! Menikah, maksudnya Senja akan menikah?" Tanyanya Leo yang cukup terkejut padahal dia sudah mengetahui sebelumnya juga rencana pernikahan keduanya itu.


"Alhamdulillah Senja putri kita baik-baik saja kok Mas, hanya saja mengajukan sebuah persyaratan kepadaku dan khusunya kepada mas, bahkan saking terkejutnya saya tidak menyangka jika putri bontotku itu menginginkan kepada mas untuk menjadi wali nikahnyah langsung bukan wali nikah dari KUA setempat," ujarnya Alia yang sangat hati-hati dalam berbicara.


Aliya hanya tersenyum simpul melihat reaksinya Leo, pria yang sejujurnya masih dicintainya itu hingga detik ini. Tetapi rasa kecewa, sedih, sakit hatinya daripada cintanya pada Leo sehingga ia sangat sulit untuk berdamai dengan keadaan dan menerima keadaannya tersebut dengan lapang dada.


Rasa sedih, kecewanya, sakit hatinya dan juga kehancuran rumah tangganya dulu masih diingatnya dengan baik hingga menyisakan luka mendalam yang sulit diobati.


"Insha Allah demi putri-putriku apapun yang mereka inginkan tentunya akan saya penuhi keinginannya mereka kalau hanya menjadi wali nikahnyah Senja dengan pria yang baik hati dan serius melamarnya itu," tuturnya Leo lagi.


"Alhamdulillah kalau seperti itu Mas siap menjadi pendamping sekaligus orang yang akan menikahkan anaknya dengan pemuda yang penuh tanggung jawab bersedia mempersuntingnya itu," timpalnya Aliah lagi.


Alia tidak menyangka jika pertemuan dengan mantan suaminya itu, ia bersyukur karena pertemuannya kali ini tidak banyak drama yang terjadi.


"Alhamdulillah kami tunggu kedatangannya Mas hari jumat jam sembilan pagi di masjid An-Nur sekitar komplek perumahan elit yang tidak jauh dari sini lokasinya, semoga mas bisa hadir," ujarnya Aliah bersyukur karena kesempatan dipertemukan kembali dengan ayahnya Senja dan Jingga berjalan cukup baik, aman, lancar terkendali.

__ADS_1


"Insha Allah saya pasti datang bersama dengan Mama Masita, Adicandra dan juga adikku Lutfi Khaer," jelasnya Leo.


"Alhamdulillah kalau neneknya putriku juga hadir di tengah-tengah acara, makasih banyak sebelumnya karena bersedia untuk menghadiri acara sakrnya putriku," tuturnya Aliah.


__ADS_2