Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 169


__ADS_3

Kenapa perasaan aku aneh dengan sikapnya bang Kabir. Dia seperti sengaja menghindariku, tapi kenapa apa salahku padanya.


Senja mengguyur sekujur tubuhnya dengan air hangat malam itu. Dia tidak habis pikir dengan sikapnya Kabir yang mendiamkannya.


Senja tertawa terpingkal-pingkal di dalam kamar mandi sambil mengguyur sekujur tubuhnya dengan air hangat malam itu.


"Pasti Abang Kabir sudah keluar, entah malam ini apa dia akan tertidur pulas atau malah akan terbayang dengan apa yang akan aku perlihatkan lagi, memang suamiku pria tahan godaan dari perempuan lain tapi jika melihatku akan gelagapan seperti ini," cicitnya Senja yang terkikik melihat raut wajahnya Kabir yang seperti orang menahan sesuatu saja.


Berselang beberapa menit kemudian, Senja berjalan ke arah ranjangnya sesekali mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dari suaminya itu. Sudut netra hitamnya menangkap siluet seseorang yang sudah duduk menghadap ke arah laptopnya dengan serius.


Hemph, aku perhatikan rambutnya bang Kabir basah,berarti tadi dia terpaksa menuntaskan h*sratnya yang berapi-api dengan mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin.


Aku yakin akan hal itu, menurutku pria mana yang akan tahan dengan godaan istri sendiri. Sejujurnya aku pengen ngakak ketika melihat wajahnya bang Kabir yang terus berusaha untuk menyembunyikan godaan yang timbul dari dalam dadanya itu.


Senja segera menarik selimutnya kemudian dia menutupi sebagian dadanya dan berusaha untuk memejamkan matanya. Tapi, bayang-bayang wajah suaminya yang tidak seperti biasanya itu membuat dirinya gelisah dan kesulitan untuk memejamkan matanya.


Senja tubuh bolak balik ke arah kanan dan kiri, tapi dia tidak sanggup untuk memejamkan matanya dengan pikiran yang terus berseliweran di dalam dadanya. Semakin berusaha ia pejamkan semakin kesulitan untuk tertidur lelap.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam dia belum tidur juga. Hingga beberapa menit kemudian, karena kelelahan sehingga dia akhirnya memejamkan matanya menuju alam buaian mimpi indahnya.


Astaughfirullahaladzim sampai segitunya istriku menyikapi sikapku, maafkan aku Senja Starla Airen.


Abang terpaksa melakukan semua ini, semoga kamu enggak marah padaku dengan apa yang sudah aku perbuat.


Kabir sedih melihat kondisi dari Senja yang kesulitan untuk tidur, tapi dia tidak punya jalan keluar dan cara terampuh untuk menyelesaikan rencananya yang sudah berjalan hampir seratus persen itu.


Kabir sesekali mengusap wajahnya dengan gusar dan membuang nafasnya dengan cukup kasar.

__ADS_1


Kenapa aku merasa malam ini pergantian waktunya lama banget, dari malam ke pagi hari.


Kabir sesekali memijit pelipisnya saking dilemanya dengan keadaan yang terjadi. Kabir terus melihat ke arah ranjangnya dimana istrinya yang kesusahan untuk memejamkan matanya.


Apa karena baru kali ini aku seperti ini sehingga aku merasakan waktu berjalan lambat.


Kabir tersenyum smirk ketika melihat sudah tidak ada pergerakan lagi dibalik selimut. Dia pun tersenyum puas dan bisa bernafas lega.


Ya Allah kasihan banget istriku, maafkan abang yang sudah membuatmu seperti ini.


Fajar pun menyingsing, warna keemasan telah terlihat di ufuk timur, ayam berkokok saling bersahutan dengan suara yang cukup lantang di Pagi hari itu. pertanda pagi sudah menyapa seluruh bumi.


Hari ini bertepatan dengan hari minggu, semakin dekatlah hari akad nikah dan resepsi pernikahannya antara Jingga Aurora dengan Guntur Aswin.


Pagi-pagi sekali Aliya dan Bu Sri Indarwati sudah berada di dapur. Mereka berkutat dengan berbagai macam bumbu dapur, sayuran dan ikan serta daging yang akan mereka olah menjadi santapan menu sarapan mereka pagi itu.


"Sayang kenapa kamu pagi-pagi sudah berkutat dengan panci dan pisau? Bu Sri memegangi pundak perempuan berusia empat puluh tahun itu. Kamu itu seharusnya bedrest saja dan perbanyak istirahat Nak, kamu itu sedang hamil muda,kan ada bibi Minah yang bisa masak," ujarnya Bu Sri.


Bu Sri melihat punggung perempuan yang menjadi menantu kesayangannya itu dengan senyuman sumringahnya. Dengan tatapan teduhnya Aliyah membalas perkataan dari mama mertuanya. Aliah memperbaiki letak tata afron dari tubuhnya itu sebelum menjawab pertanyaan dari Bu Sri.


"Aku baik-baik saja kok Bu, aku hari ini sangat bersemangat untuk masak Bu, Aliyah melanjutkan memotong-motong daging sapinya yang masih fresh itu, Aliah tersenyum mendengar perkataan dari Bu Sri, " saya khusus masak untuk mas Leo kembali pagi ini, apalagi mas Leo katanya sudah dalam perjalanan dan juga Senja pengen makan rendang katanya Bu," jelasnya Alia yang tidak menghentikan kegiatannya.


Tangannya dengan lincah dan telaten mengolah beberapa bumbu dapur yang sudah dibersihkan dengan baik oleh bibi Minah.


"Kamu memang selalu bisa membuat ibu tersenyum gembira, putraku sungguh beruntung mendapat istri sepertimu, tapi ngomong-ngomong apa ibu bisa gabung dengan kalian?" Pintanya Bi Minah yang mencicipi cumi-cumi yang sedang di goreng kremes oleh bi Minah.


Aliyah kembali tersenyum simpul mendengar segala pujian Bu Sri khusus untuknya.

__ADS_1


Kamu memang perempuan yang luar biasa nak, suamimu sudah menyakiti hati,jiwa dan perasaanmu tapi kamu masih mencintainya dan memaafkan segala kesalahannya dengan memberikan dia kesempatan kedua untuk memperbaiki dan menebus kesalahannya dimasa lalu.


Alia melihat mama mertuanya tiba-tiba terdiam tanpa suara, hanya sorot matanya yang terus memperlihatkan jika dia sedang memikirkan sesuatu hal.


Mama pasti sedang memikirkan sesuatu, karena tumben dia bersikap seperti ini. Ya Allah aku bersyukur karena memiliki suami dan keluarga yang begitu peduli dan perhatian padaku.


Aku patut bersyukur, karena kedua putri kembarku dan keluarga dari suamiku sama sekali tidak mempermasalahkan kehamilanku diusiaku yang sudah terbilang tidak muda lagi.


Insha Allah selama hidupku, aku akan memberikan yang tebaik untuk kalian semua. Aku berjanji akan menjaga calon adik kalian semua dengan baik dan kabulkanlah permintaan dan doa dari mama mertua dan suamiku ya menginginkan anak laki-laki ya Allah ya Robbi ya Rohman ya Rohim.


Berselang beberapa menit kemudian, aroma bumbu masakan semakin menyeruak wanginya hingga memenuhi setiap sudut penjuru ruangan rumahnya Aliya. Termasuk ke dalam kamarnya Jingga dan Senja.


Keduanya segera bergegas menuruni tangga karena hidungnya sudah dimanjakan dengan wangi sedap dari makanan yang dimasak oleh Aliah Azizah.


Senja berulang kali mengerjapkan kelopak matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya itu.


Humm… sepertinya pagi ini bakal makan makanan yang lezat. Aku yakin mama yang masak.


Senja mengedarkan pandangannya ketika dia telah meraba-raba seprei yang sudah kosong tepat di sampingnya.


Suamiku kemana? Ini kan hari minggu masa sih tetap kerja dihari libur.


Tapi,dia cukup terkejut melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit WIB.


Astauhfirullah aladzim pantesan bang Kabir sudah tidak ada, mungkin dia nge-gym di ruang fitness. Aku akan segera mandi terus menyusul suamiku.


Senja sesekali bersenandung kecil ketika dia berada di dalam kamar mandi. Dia bergegas menyelesaikan ritual mandinya pagi itu, karena ia tidak ingin terlambat untuk berolah raga pagi ini. Apalagi kesempatan untuk menikmati bentuk tubuh indah dan rupawan yang dipenuhi dengan kotak-kotak seperti roti sobek milik suaminya sendiri.

__ADS_1


Bentuk tubuhnya Kabir memang bagus, berotot dan kekar, karena Kabir memang selalu menjaga kebugaran tubuhnya, walaupun setiap harinya dia banyak memiliki jadwal dan rutinitas yang sungguh sangat padat dan banyak.


__ADS_2