Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 108. Kehebohan di Kantin


__ADS_3

Zania berjalan ke arah salah satu kursi di dalam kantin perusahaan," kenapa wajahnya Pak Fajri Bachan seperti pernah aku lihat, memang sih wajahnya rada-rada mirip artis Bollywood Salman Khan tapi, bukan berarti dia Salman Khan kan, tapi aku merasa baru-baru pernah bertemu dengannya, ihh sebel kenapa penyakit tulalit kambuh pada saat seperti ini."


Zania beberapa kali menepuk kepalanya itu sehingga membuat Icha dan Naysila saling bertatapan satu sama lain dengan keheranan melihat apa yang dilakukan oleh Zania.


"Zan! Kamu baik-baik saja kan?" Icha memegangi lengannya sahabatnya itu.


"Iya nih kenapa tiba-tiba bertingkah seperti orang linglung saja, apa ada yang tidak beres?" Tampiknya Naysila.


Zania segera memutar telapak tangannya di hadapan Icha dan Naysila.


"Insya Allah saya baik-baik saja kok, hanya saja sepertinya ada pekerjaan di atas mejaku yang belum sempat aku selesaikan," kilahnya Zania yang terpaksa berbohong untuk menutupi kenyataan yang ada di dalam benaknya.


Ting…


Bunyi hp mereka berdering bersamaan, kedua mata mereka pun membelalak saking terkejutnya melihat begitu banyak foto makanan yang dikirim oleh Senja.


"Baru lihat fotonya saja sudah ngiler, kalau gitu kita putar balik ke arah ruangannya Senja," usulnya Icha.


"Let's go sobat mumpung dapat makan siang anugrah terindah siang hari ini," ucapnya Naysila yang paling heboh dan antusias.


Hingga tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Ahhh!!" Jeritnya Naysila yang sekujur pakaian depannya sudah terkena tumpahan kuah makanan yang ada di atas nampang.


Bugh!!


Bruk!!


Prang!!


Semua perhatian pengunjung tertuju pada Naysila yang mengibaskan pakaiannya yang cukup kotor dan panas karena terkena tumpahan kuah bakso. Nampang yang dibawa seorang pria sudah berhamburan di atas lantai keramik kantin itu.


"Auh panas!" Teriaknya Naysila yang tidak tahan karena ada sebagian kulitnya terkena tumpahan air kuah bakso.

__ADS_1


"Ya Allah anda kalau berjalan harus hati-hati apalagi bawa nampan seperti ini! Lihatlah akibatnya kacau kan jadinya!" Gerutunya Icha yang langsung mengomeli seorang pria.


Pria itu menatap tajam ke arah Icha," Hey! Seharusnya yang kamu nasehati itu bukan saya melainkan teman kamu ini yang berjalan tidak hati-hati bukannya memarahiku!" Ketusnya pria yang memakai kemeja putih dengan dasi berwarna kuning senada dengan pakaian seksinya Icha.


Pria itu mengeluh karena kakinya juga terkena mangkuk ketika mangkuk itu terjatuh dan tepat terjatuh mengenai punggung kakinya pria itu. Seorang perempuan paruh baya berjalan tergopoh-gopoh ke arah keributan tersebut.


Seorang perempuan yang berhijab memakai celemek segera mendatangi mereka, "Pak Naufal kamu tidak apa-apa kan? Padahal saya sudah ngomong tadi kalau saya yang akan membawakan makanannya," imbuhnya seorang ibu-ibu.


Pelayan bagian kantin segera berjalan ke arah mereka untuk membereskan beberapa pecahan beling yang berceceran di atas lantai.


"Tidak apa-apa kok Bu Ria ini biasa terjadi tapi asal tidak ada perempuan ceroboh berjalan pasti insiden seperti ini tidak akan terjadi!" Sarkasnya Naufal Azhar Idrus.


Siapa pria yang disapa pak Naufal ini yah, apa dia bekerja dengan jabatan yang cukup tinggi, kalau gitu tamatlah riwayatnya Icha,tadi saya yang ditabrak oleh pak Fajri Bachan yang dia adalah asisten pribadinya Pak CEO kita sedangkan pak Naufal siapa yah?


"Pak Naufal maafkan teman kami yah, ini semua hanya salah paham yang terjadi tanpa unsur kesengajaan," ucapnya Naysila yang tidak ingin melihat temannya itu semakin marah saja.


"Nay! Saya sama sekali tidak bersalah dia saja yang berjalan enggak pakai mata, kenapa meski melempar kesalahannya padaku!" Ketusnya Icha yang sama sekali tidak mau mengalah padahal keduanya sama-sama salah dalam masalah ini.


Sesekali Naufal dan Icha sama mengeluh sakit, permukaan kakinya Naufal sudah memar sedangkan kulitnya Icha sudah seperti melepuh.


"Iya ayo balik, pasti Senja sudah menunggu kita semua, ayo cepat Janganlah buang-buang waktu lebih lama lagi," Naysila dan Zania menarik tangannya Icha.


"Ingat saya akan meminta perhitungan pada kamu,ingat itu baik-baik!" Ancamnya Icha.


Naufal hanya tersenyum smirk," gadis yang aneh,"


"Maafkan kami pak Naufal, insha Allah kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi menimpa Anda Pak menejer," sesalnya Bu Ria di hadapan manejer pemasaran itu.


Naufal hanya tersenyum sambil meninggalkan ruangan kantin dengan sedikit berjalan terpincang-pincang. Semua orang bubar dan kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda.


"Nyonya Senja, apa mereka keempat sahabatnya Nyonya Senja istrinya Tuan Muda Kabir,"


Senja segera mengirimkan chat ke grub satu gengnya itu. Kebetulan makanan yang dibawa oleh kurir cukup banyak sehingga bisa mereka nikmati berempat.

__ADS_1


Senja berjalan ke arah salah satu sofa yang kebetulan ada di dalam ruangan kerjanya itu.


Teman-teman pasti akan bahagia dan menyukai makanan ini semua yang sudah tersaji di atas meja. Aku foto saja dan kirim ke grub whatshap saja.


Icha sebenarnya menutupi rasa kagumnya dengan pria yang disapa pak Naufal Azhar Idrus itu. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan pria yang menatapnya dan langsung menusuk ke dalam hatinya dan jantungnya yang berdetak kencang.


Entah kenapa hatiku bukannya marah tapi, malah aku sangat bahagia melihat senyuman tipisnya. Apa jangan-jangan aku jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Ahh! Tidak pasti aku salah!" Teriak Icha disaat berjalan ke arah ruangan kerjanya Senja.


Zania dan Naysila saling berpandangan sambil menautkan kedua alisnya itu.


"Mungkin masih kepikiran Pria ganteng yang barusan berdebat dengannya," timpalnya Zania.


"Hemm, bisa jadi teman kita satu ini sudah jatuh cinta pada pria yang cukup ganteng


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kabir balik dari Sidney Australia. Kabir saking merindukan istrinya, belum subuh dia balik ke Jakarta menggunakan jet pribadi mamanya Bu Hanin Mazaya.


Aku sangat merindukan istriku, suaranya yang manja dan mendayu-dayu jika berada di bawahku itu yang paling membuat aku kehilangan kontrol dan kesabaran untuk secepatnya balik ke tanah air.


Sedangkan Senja masih dalam posisi tidur dalam buaian mimpinya. Ia belum bangun untuk shalat subuh. Karena tubuhnya cukup lelah setelah seharian penuh bekerja di perusahaan tempat ia magang.


Aliya memutar kenop pintu kamar putri bungsunya itu air matanya menetes membasahi pipinya itu


Ya Allah Senja kenapa kamu sampai-sampai memutuskan untuk mengkonsumsi obat pencegah kehamilan.


Apa kamu tidak ada niatan untuk punya anak? Seperti pengantin baru lainnya?


Tapi seperti yang dikatakan oleh Jingga mungkin ada benarnya juga jika Senja sengaja menundanya karena masih sangat muda dan belum tercapai cita-citanya.


Aku tidak boleh berfikiran negatif tentang anakku sendiri. Aku yakin ada sesuatu yang membuat Senja memilih untuk memakai kb.


Tapi aku sudah amankan semua pil kbnya dan juga sudah aku bakar. Aku yakin pasti akan sulit untuk membelinya karena aku tidak akan ijinkan ia memiliki waktu luang untuk membeli pil tersebut.

__ADS_1


Aliya segera menutup kembali pintu kamar putrinya itu dan berharap agar Senja segera hamil dan tersadar dengan kekeliruan yang telah diperbuatnya.


__ADS_2