Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 201


__ADS_3

Senja memegangi tangannya Kabir,"Bang Kabir, papa akan baik-baik saja kan?" Tanyanya Senja ketika baru saja duduk di dalam mobil untuk bersiap pulang.


Kabir mengecup punggung tangannya Senja sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu agar perasaannya Senja lebih tenang.


Kabir menarik tubuhnya Senja ke dalam pelukannya,"insha Allah papa Leo akan baik-baik saja, kamu jangan berputus asa dan terus berdoa untuk keselamatan papa," ucapnya Kabir.


Kabir menutupi kenyataan yang sesungguhnya, jika kondisi papa mertuanya dalam kondisi yang hanya sepuluh persen saja bisa dikatakan akan selamat dari masa kritisnya.


Mobil yang mereka tumpangi semakin melaju meninggalkan parkiran rumah sakit menuju rumah duka. Mobil ambulance sudah melaju lebih duluan, sedangkan mobil lainnya mengikuti di belakang mereka.

__ADS_1


Senja semakin tergugu dalam tangisannya itu, dia terus menangis dan tak henti-hentinya berdoa dalam hatinya untuk keselamatan papa dan adiknya yang baru lahir itu. Senja menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya Kabir Kasyafani Sanders.


Senja merasa sedikit tenang dan nyaman ketika dia mendengar detak jantung suaminya itu. Dia tidak bisa membayangkan jika musibah ini terjadi padanya, tanpa suami mendampinginya.


Apa yang dikatakan oleh Abang Kabir memang benar adanya,kalau aku meraung dan ingin menerima kenyataan kematian mama berarti aku seperti orang yang tidak percaya akan adanya Allah SWT dan tidak mempercayai akan adanya kada dan kadar.


Ya Allah maafkanlah hambaMu ini, aku sudah terlalu banyak dosa ya Allah.. hatiku terlalu sedih sehingga melupakanMu.


Apa yang dirasakan oleh Senja, tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami Jingga di mobil lainnya yang dikemudikan oleh Guntur Aswin Nasution.

__ADS_1


"Sayang kamu itu sedang hamil, jadi please jangan seperti ini, aku sangat paham kamu sangat sedih, tapi aku mohon tenanglah dan lebih baik kamu tenang dari pada terus menangis tersedu-sedu seperti ini," nasehatnya Guntur.


Jingga mengusap wajahnya dengan gusar sambil menengadahkan kepalanya ke arah suaminya yang masih fokus mengendarai mobilnya itu.


"Mungkin Abang akan mudah mengatakan hal itu, tapi coba abang yang berada diposisiku! Aku ingin melihat apa Abang tidak akan menangis sedih dan merasa terpukul dan terguncang hebat ketika melihat papa atau Mama Abang yang meninggal dunia!?" Ucapnya Jingga yang sedikit meninggikan suaranya sambil memukul-mukul dadanya itu.


"Astauhfirullah aladzim Jingga, aku juga pasti akan sangat sedih dan kehilangan yang mendalam, tapi jika tidak mengikhlaskan kepergian Mama Aliah bukannya itu sama saja kita mengingkari akan takdirnya Allah SWT yang sudah menggariskan bahwa pada hari ini Mama Alia akan meninggal dunia dalam keadaan seperti ini," cercanya Guntur yang sesekali menghela nafasnya dengan gusar.


Jingga segera melepaskan pegangan tangannya Guntur dan sedikit bergeser duduknya hingga tubuhnya mengenai pintu mobil bagian kirinya.

__ADS_1


Jingga mengalihkan pandangannya ke arah jalan yang dilaluinya di sepanjang jalan berderet perkantoran dan juga perusahaan yang menjulang tinggi fi depan matanya.


"Sayang,apa kamu sadar apa yang kamu lakukan ini sama saja dengan menyiksa mama, kepergiannya tidak lancar dan mulus, bahkan karena anak-anaknya yang tidak mengikhlaskan kepergiannya akan menjadi siksaan bagi tubuhnya Mama di alam kuburnya," nasehat Guntur yang tidak berhenti untuk mengingatkan Jingga Aurora.


__ADS_2