Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 112. Nasehat Aliya dan Leo


__ADS_3

Jingga yang berencana untuk membuka hadiah terakhir dari almarhum kekasihnya sekaligus mantan tunangannya tidak terlaksana karena suara ketukan di pintunya.


Alfatihah untuk kamu mas Abdil Pramudya semoga kamu tenang di alam sana dan kamu tidak perlu khawatir saya bahagia disini dan selalu mencintaimu sepanjang waktuku di dunia ini.


Jingga memeluk foto yang ada dia dan Abdil di dalamnya. Dia tak henti-hentinya mengecup foto itu seolah tak ingin berhenti.


"Non Jingga tuan Leo dan nyonya Aliyah sudah bersiap berangkat ke bandara!" Teriaknya Bu Sumi dari balik pintu.


"Iya tunggu Bi, saya akan segera turun ke bawah," balasnya Jingga Aurora Ainah yang tidak kalah besar dan melengking suaranya dari dalam kamarnya yang memang tidak terpasang kedap suara seperti kamarnya Jingga.


Bibi Sumi segera berjalan ke kamarnya Senja dan ingin menyampaikan pesan dari kedua orang tuanya itu.


Bi Sumi baru saja hendak ingin mengetuk pintu kamar bercat cokelat itu tapi, segera terbuka dari dalam sehingga tangannya hanya menggantung di udara.


"Ehh Non Senja, Tuan Muda Kabir," cicitnya Bi Sumi.


"Ada apa Bi?" Tanyanya Senja.


"Kalian ditunggu dibawah, katanya bapak sama ibu sudah bersiap berangkat ke bandara," ujarnya Bu Sumi.


"Ohh iya kami ini sudah bersiap untuk turun, kalau kak Jingga gimana bi?" Tanyanya balik Senja.


"Alhamdulillah Non Jingga sudah bersiap Non," balasnya Bi Sumi.


Percakapan pun berakhir karena kedua pasangan suami istri itu segera turun ke lantai bawah. Untuk menyusul kakaknya Jingga.


Kabir segera meraih tangannya Leo dan Alia secara bergantian untuk dicium punggung tangan kedua mertuanya itu.


"Alhamdulillah Nak Kabir kapan datangnya dari Sidney Australia?" Tanyanya Leo Carlando Zain.


"Alhamdulillah sebelum shalat subuh sampainya di rumah," jawab Kabir yang segera mendudukkan tubuhnya ke atas sofa tepat disamping mamanya itu.


"Karena Mama dan papa akan berangkat umroh ke Mekah Arab Saudi jadi Mama minta padamu untuk sesering mungkin datanglah menginap di sini Nak, kasihan Jingga jika harus seorang diri di rumah walaupun masih ada beberapa asisten pembantu rumah tangga yang menemaninya," imbuhnya Aliyah.


"Insya Allah Ma, asalkan Senja setuju dengan permintaan dari Mama saya sama sekali tidak mempermasalahkannya sedikitpun, bagiku rumah disini dengan yang disana itu sama saja," tukasnya Kabir.


"Alhamdulillah kalau seperti itu, saya bisa pergi dengan tenang bersama dengan papamu Nak, betapa leganya hatiku mendengar perkataan kalian berdua semoga saja hubungan kalian semakin erat dan tidak terpisahkan walau apapun yang menghadang, tetaplah mencintai Putriku Senja Starla Airen," pintanya Aliah.

__ADS_1


Leo merangkul pinggangnya istrinya itu," saya dan mama kalian bisa tenang untuk menjalankan umroh yang sejak lama kami cita-citakan dan dan dambakan, semoga kalian hidup bahagia hingga Kakek nenek dan hidup sakinah mawadah warahmah, itu adalah harapan papa dan mama yang paling terbesar, dan kamu Jingga lupakanlah masa lalu dan bukanlah pintu hatimu untuk pria yang serius tulus mencintaimu apa adanya jangan selalu mau hidup dalam kegagalan masa lalumu," nasehat Leo.


Jingga menghempaskan bokongnya ke atas sofa, "Ya Allah Mama papa seperti orang yang akan pergi bertahun-tahun saja harus berwasiat dan berpesan kepada anak-anaknya seolah tak akan balik lagi ke sini," tampiknya Jingga.


"Iya benar sekali apa yang dikatakan oleh kak Jingga, Mama dan papa fokus beribadah saja dan bulan madunya ke Korea Selatan Seoul, itu saja kok yang perlu Mama pikirkan dan pusingkan, masalah saya dengan pak Kabir insha Allah akan baik-baik saja,iya kan pak Kabi?" Senja mengalungkan tangannya ke lengannya Kabir.


Leo dan Aliya saling bertatapan satu sama lainnya sambil mengernyitkan dahinya itu mendengar perkataan dari putri nungging itu yang menyapa dan memanggil suaminya dengan panggilan pak Kabir.


"Sayang kok panggilannya masih pakai kata bapak segala, apa lupa kalau kalian ini di rumah bukan lingkungan kampus, jadi kenapa meski pakai embel-embel bapak segala," ucapannya Leo.


Senja salah tingkah karena keceplosan dalam berbicara," eh a-nu a-ku maksudnya sa-ya itu Abang Kabir mungkin karena saya terbiasa menyapa suamiku di kelas jika Abang mengajar dengan sebutan pak Kabir," kilahnya Senja yang kebingungan karena kenapa bisa ia mengucapkan kata-kata seperti itu.


"Ma, sepertinya sudah hampir jam sebelas siang,ayo kita segera berangkat ke bandara," ucap Jingga yang menengahi pembicaraan mereka yang takutnya rahasia besarnya Senja terbongkar.


Leo segera menatap ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu.


"Astaughfirullahaladzim sudah hampir terlambat kalau kita masih duduk di sini istriku," jelasnya Leo yang segera mengambil barang-barangnya yang belom masuk ke mobilnya Kabir.


"Nak Kabir kami pakai mobil kamu saja yah, karena mobilnya cukup besar agar bisa menampung dan memuat kita semua sekeluarga, enggak apa-apa kan Nak mantu?" Tanyanya Leo yang sangat ingin berharap satu mobil bersama anak dan menantunya itu dalam kesempatan kali ini.


Semuanya segera berjalan ke arah pintu depan rumahnya, tapi baru saja Jingga ingin membuka pintu berdaun dua rumahnya itu, muncullah sebuket bunga mawar merah yang sangat indah.


Seorang pria yang berdiri dan berlindung dibalik buket bunga yang dibawahnya itu segera menyambut tangannya pak Leo dan istrinya Aliya untuk segera diciumnya layaknya seorang anak kepada kedua orang tuanya.


Aliah dan Leo saling bertatapan satu sama lainnya dan kembali kebingungan dengan pria muda yang memperlakukannya sangat istimewa itu.


"Assalamualaikum, maaf jika kedatanganku ini menganggu keberangkatan paman dan Tante, saya datang ke sini tanpa mengurangi rasa hormatku, saya Guntur Aswin Nasution berniat untuk melamar putri Anda," ucapnya Guntur yang langsung to the poin tanpa sekedar berbasa-basi sebelumnya.


Jingga menatap tajam pria yang berniat meminangnya itu, dia tidak percaya jika pria yang dua kali ditolongnya dan sama sekali tidak ada rasa cinta sedikitpun pada pria itu malah melamarnya.


"Pak Guntur sepertinya Anda bangun kesiangan sehingga belum sadar baik dari mimpinya," sarkasnya Jingga.


Ya Allah Bang Guntur berani juga datang melamar Jingga, tapi ngomong-ngomong bukannya Bang Gun akan menikah dengan kekasih matrenya, atau apakah dia sudah benar-benar putus dengan Tania perempuan gila uang itu! Tapi kalau seperti ini bukannya Jingga hanya dijadikan pelampiasan semata saja dari Bang Guntur, karena aku yakin Guntur itu sangat mencintai mantan kekasihnya itu.


"Iya nak Guntur kami merasa tersanjung dan sekaligus terkejut dengan kedatanganmu yang tiba-tiba ini, hanya saja kami akan segera berangkat ke Arab Saudi tanah suci untuk melaksanakan umroh jadi sepertinya ini sangat mendesak dan terburu-buru," tampiknya Aliya.


"Sebaiknya berfikir panjang lah sebelum memutuskan untuk menikahi putri sulungku ini," ucap Leo lagi yang ikut menambahkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Saya hanya butuh jawaban dari Jingga saja dulu Om, insha Allah sepulang Tante dan Om dari Mekah barulah kedua orang tuaku untuk datang kembali memastikan dan mencari hari baik untuk kepastian pernikahan dan akad nikahnya," imbuhnya Kabir.


semoga saja bang Guntur tidak melakukan semua ini karena sedih dan kecewanya dengan hubungannya yang kandas dengan Tania.


"Kalau gitu bagaimana Nak Jingga apa kamu bersedia untuk menikah dan menerima lamarannya Nak Guntur?" tanyanya Alia.


Jingga menatap satu persatu anggota keluarganya itu dan terakhir dengan Guntur, ia belum siap untuk menikah dan menjalin hubungan dengan pria manapun. tapi ia juga tidak mungkin harus hidup dalam kesedihan akan kenangan sedih bersama dengan almarhum Abdil Pramudya.


Pesannya dan nasehatnya papa dan Mama padaku adalah harus hidup bahagia tanpa hidup dalam belenggu kenangan sedih masa lalu.


Masa depanku masih panjang jadi aku harus bijak dalam memilih langkah apa yang harus aku tempuh di dalam hidupku ini.


Aku hanya berharap semoga saja Pak Guntur Aswin Nasution adalah Pria yang dikirimkan oleh Allah SWT menjadi pria yang terbaik dalam hidupku.


Senja menyentuh lengan kakaknya itu yang terdiam seperti orang yang terlalu banyak pikiran.


"Kakak Pak Guntur menunggu jawaban kakak,mama dan papa juga akan berangkat umroh sebaiknya kakak secepatnya menjawab ya atau tidak lamaran kakak sepupunya Abang Kabir," ucapnya Senja.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Guntur, Jingga seolah melihat Abdil Pramudya tersenyum lebar kearahnya dibalik punggungnya Guntur.


Mas Abdil Pramudya, apakah kamu merestui hubungan kami ini? Kalau ya tolong tersenyum lagi padaku.


Bayangan yang dilihatnya Jingga tersenyum simpul padanya sehingga Jingga mau tidak mau harus segera menjawab pertanyaan sekaligus permintaannya Guntur.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya bersedia menikah dengan bapak setelah Papa dan Mama melaksanakan umroh di tanah suci Mekah dan Madinah," ucapnya Jingga yang sempat terdiam sejenak ketika melihat bayangan seseorang yang seperti bayangan tubuhnya Abdil tepat berdiri di sampingnya Guntur.


"Jingga dan Senja kenapa kalian selalu memanggil Nak Kabir dan Guntur bapak, mereka itu bukan setua papa kamu loh, jadi kalau boleh Mama meminta kepada kalian untuk mengganti nama sapaan kalian berdua yang lebih akrab," candanya Aliyah.


"Alhamdulillah makasih banyak Jingga kamu sudah menerima pinanganku ini, sesuai dengan keinginan kamu saja acaranya," imbuhnya Guntur.


"Syukur alhamdulilah semoga saja apa kalian rencanakan segera terlaksana satu bulan kedepannya, kalau begitu kita let's go ke airport Soekarno Hatta," ujarnya Leo yang tersenyum bahagia.


"Kalau gitu kita semua satu mobil saja yah, Kabir dan Senja depan, Guntur dan Jingga duduk di bagian jok paling belakang dan Mama sama papa duduk di tengah, Nak Guntur tidak masalah kan dengan pembagian Om?" Tanya Leo yang baru kali ini seperti ini sikapnya.


"Ya Allah suamiku tumben ngatur posisi duduk seseorang padahal biasanya enggak seperti ini," tampiknya Aliah.


Semua orang tersenyum bahagia mendengar perkataan dari Aliah dan suaminya Leo Carlando Zain Pratama.

__ADS_1


__ADS_2