Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 155


__ADS_3

Abbas mantan suaminya melihat sikap mantan istrinya yang tidak seperti biasanya. Karena Bu Hanin tiba-tiba terdiam ketika melihat anak dan menantunya menuruni tangga berbarengan dengan.


Apa yang dipikirkan oleh Hanin Mazaya, sehingga seperti itu, apa ada masalah diperdagangkannya?


Pak Abbas hendak berbicara dengan Hanin, tapi semua orang sudah bersiap untuk pergi dari sana. Bu Hanin segera menjemput anak menantunya itu dengan senyuman lebarnya. Satu-satunya menantu dalam kelurganya itu.


"Karena ratunya Kabir sudah datang, sebaiknya kita berangkat saja takutnya terkena macet lagi," imbuhnya Bu Sophia maminya Guntur.


Bu Hanin merangkul pinggangnya Senja dengan penuh kelembutan," Masya Allah sungguh cantik dan mempesonanya bumil kita ini, pantesan putraku tergila-gila dan klepek-klepek pada istrinya itu, ternyata karena memang wajar CEO termuda di tanah air bersikap seperti itu karena istrinya sungguh cantik luar dalam," pujinya Bu Hanin.


"Bunda terlalu memuji padahal aku biasa-biasa saja kok,tapi aku sangat bersyukur dan berterima kasih atas pujiannya bunda, mama mertuaku yang paling terbaik sedunia," balasnya Senja yang tidak mau ketinggalan membalas pujian dari ibu mertuanya itu.


"Kamu memuji kecantikan menantumu, aku juga tidak kalah memuji kecantikan calon istri dari anak sulungku yaitu Jingga Aurora Ainah Zain Pratama, dia sungguh cantik seperti namanya dan kebaikan hatinya, Bu Aliyah memiliki dua orang putri yang luar biasa cantiknya," Bu Sophia memeluk tubuhnya Jingga.


Pak Albert tidak mau kalah dengan istrinya memuji Jingga dan kembarannya," bagi kami kalian berdua sama-sama cantik dan baik hati bagaikan pinang dibelah dua, tidak ada pilihan bagi kami untuk condong ke Senja saja ataukah ke kamu Nak Jingga, aku akui putraku dan keponakanku sungguh lihai dan pintar mencari pasangan hidupnya," tuturnya pak Albert tidak hanya sekedar memuji saja karena memang faktanya seperti itu.


"Apakah kalian sudah cukup dan puas memuji kecantikan mereka,apa kalian melupakan jika ada cucuku lagi yang akan menikah hari ini dan dia juga mendapatkan calon istri yang tidak kalah cantiknya dengan mereka, bagaimana kalau kita berangkat ke gedung tempat mereka akan menikah, pasti putraku Khalid Prayoga sudah menunggu kalian semua," usulnya Nyonya Clara.


Mereka pun mengakhiri percakapan santai mereka pagi itu, semua orang sudah duduk di dalam mobil masing-masing. Kabir tersenyum bahagia karena mendengar segala pujian untuk istrinya pilihannya sendiri sekaligus cinta pertamanya.


"Sayang kamu kalau capek kamu tidak perlu sungkan untuk berterus terang padaku, aku tidak ingin calon anak kita ini tengganggu dengan aktifitas kamu," imbuhnya Kabir seraya mengelus perutnya Senja yang semakin membuncit saja.


Keduanya memakai mobil pribadi mereka masing-masing, tapi kali ini Kabir meminta kepada supir pribadinya untuk menjalankan mobilnya. Dia ingin malam ini bebas berduaan dengan istrinya dijok kursi belakang.

__ADS_1


Kabir pun sudah memodifikasi jok mobilnya dengan memasang sekat agar apa yang mereka lakukan bersama-sama aman dari pandangan langsung supirnya.


Senja yang duduk disebelah kiri suaminya itu tersenyum tipis," insya Alloh aku tidak akan capek karena berada disisinya abang yang akan selalu siap sedia menjagaku, apalagi pernah dulu ada orang yang ngomong padaku, jika kamu lelah bersandarlah dipundak ku, karena itu lah aku berasa akan selalu nyaman bergerak dan beraktifitas selama orang itu disampingku aku tidak perlu merisaukan apapun lagi," jelasnya Senja panjang kali lebar.


Kabir tersenyum sumringah mendengar perkataan dari istrinya itu," Masya Allah kamu sungguh istri sholehahku, aku semakin jatuh cinta padamu setiap saat bahkan berkali-kali dengan perempuan yang sama,"


Sesekali supir pribadinya diam-diam memperhatikan apa yang kedua pasangan suami istri itu.


Maklumlah pengantin baru, mungkin seperti ini sikapnya. Andaikan aku masih muda pasti akan bersikap seperti itu pada istriku tersayang.


Sedangkan di mobil lain, orang-orang pada sibuk membicarakan masalah rencana pernikahan antara Guntur Aswin dengan Jingga Aurora.


"Tapi, ngomong-ngomong bagaimana kondisinya Vela Tante, apa dia sudah baikan?" Tanyanya Jingga yang ingin mengetahui kondisi kesehatannya Vela calon adik iparnya itu.


Bu Sophia dan Pak Albert sangat malu dengan sikapnya Vania Larisa anak bungsunya itu dengan sikapnya yang sudah menjalin hubungan dengan pria lain, sedangkan dirinya sudah bersuami, walaupun Vania Larissa tidak dicintai oleh suaminya. Tetapi, menurutnya mereka itu tidak pantas dilakukan dan menjadi alasan untuk selingkuh dan hamil anak pria lain.


"Alhamdulillah Vania Larissa sudah membaik, hanya saja butuh bedrest untuk memulihkan kondisi kesehatannya setelah mengalami keguguran dan rasa trauma kecil saja, jadi kamu tidak perlu khawatir dengan kondisinya Vania," jelasnya Bu Sophia.


Aku hanya berharap Jingga tidak terpengaruh dengan permasalahan dan kekacauan yang disebabkan oleh Vania anak nakal itu.


"Putriku itu terlalu ceroboh sehingga dia terjatuh padahal dia sedang hamil, semoga kau yang calon pengantin bisa mengerti dan dimasa depan jangan bersikap seperti Vania yang ceroboh dan teledor," nasehatnya pak Albert.


"Insya Allah, Saya turut berdukacita atas keguguran yang dialami oleh Vania Tante, Tante yang sabar yah," ucapnya Jingga yang sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi pada Vania yang sesungguhnya.

__ADS_1


Sophia menatap ke arah suaminya itu, ya Allah apa Jingga tidak mengetahui apa yang terjadi pada putriku yang nakal itu, atau Jingga tipe perempuan yang tidak ingin ikut campur dalam masalah seseorang ataupun tipikal yang tidak gampang kepo juga, ini nih calon istrinya Guntur yang aku sukai, semoga saja dia selamanya seperti ini pada kami.


"Kamu tidak seharusnya memanggil namaku dengan sebutan Tante seharusnya kamu memanggil saya dengan sebutan Mama seperti yang dilakukan oleh Vania dan juga Guntur," titahnya Sophia.


Jingga hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari calon mertuanya itu. Dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan mereka karena, Senja paham apa yang terjadi pada keluarga calon suaminya itu, hanya saja sekedar berbasa-basi saja.


"Sayang nanti make up aku belepotan, kita tunda saja dulu yah," rengeknya Senja.


Sedangkan Kabir sama sekali tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Senja, suara rengekan Senja malah seperti alunan melodi yang mendayu-dayu di telinganya Kabir. Sehingga Kabir semakin tergoda untuk melakukannya dan tidak mengindahkan larangannya Senja.


Sedang di tempat lain, Kabir dan Senja saling menautkan bibir keduanya stelah Kabir menutup sekat antara jok kursi mobil dengan jok bagian belakang.


Senja sedikit memiringkan kepalanya untuk membuatnya nyaman dalam posisi terbaiknya. Bibir Kabir tersungging ke atas pertanda dia sangat bahagia, karena apa yang dilakukan oleh Senja membuatnya kegirangan soalnya mendapatkan balasan dari istrinya itu.


Senja meladeni permainan suaminya itu,bahkan Kabir tangannya sudah menggerayangi kemana-mana hingga sampai di gundukan daging yang masih sangat kenyal dan padat itu.


Apalagi kondisi tubuhnya Senja yang lagi hamil besar semakin membuat aset pentingnya semakin membuat Kabir tangannya tak terkendali.


"hemph..."


lenguhan kecil meluncur dari bibirnya mungilnya Senja yang semakin membuat Kabir meningkatkan intensitas ciumannya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat perhelatan acara akad nikah antara Hana Aerin Pradipta dengan Adnan Hamesh Nasution.

__ADS_1


__ADS_2