
Lutfi antusias mendengar perkataan dari keponakannya untuk segera mengantar keponakannya ke sekolahnya.
Lutfi sudah sejak Adicandra baru masuk sekolah dasar, ia sudah tertarik dengan salah satu gurunya yang mengajar di sekolahnya Candra. Tapi Lutfi belum berani untuk mengutarakan isi hatinya itu di depan pujaan hatinya.
Tapi, karena Lutfi mendengar perkataan dari Candra yang mengatakan jika ada seorang pria yang mengantar jemput guru idolanya itu yang bernama Sasmita.
"Kalau begitu let's go kita berangkat ke sekolah dasar tunas bangsa," ucapnya Luthfi pria duda keren diusianya yang ke 28 itu.
"Lutfi tunggu!" Teriaknya Leo ketika melihat putra tunggalnya itu berjalan bergandengan tangan dengan adik satu-satunya.
"Ada apa Abang?" Tanya Lutfi.
"Tolong jemput Candra setelah balik sekolah, kamu bisa bawa ke kampus untuk sementara waktu, takutnya saya tidak sempat menjemputnya karena saya ingin mencari keberadaan istriku Aliya dan kedua anakku," ujarnya Leo.
Bu Sita dan Lutfi dibuat terkejut dengan perkataan dari Leo Carlando Zain Pratama.
"Leo nak kamu tadi ngomong apa?" Tanyanya Bu Sita dengan penuh selidik.
"Iya Abang,apa benar Mbak Aliyah sudah balik dari persembunyiannya? Kalau gitu segera cari mereka dan bawa ke rumah sebelum terlambat," pungkasnya Lutfi yang gembira mendengar perkataan dari kakaknya itu yang mengatakan kakak iparnya sudah balik.
"Tidak semudah dan sesederhana itu Lut, Mbakmu itu marah sama Abang mengenai Adinda, sepertinya sampai sekarang belum memaafkan Abang dengan kejadian beberapa tahun silam," tukasnya Leo sambil menghembuskan nafasnya dengan cukup keras.
Bu Sita ikut duduk di samping putra sulungnya itu seraya memegangi punggung tangannya Leo, "Nak kamu harus meminta maaf kepada Aliah istrimu dan menjelaskan semuanya apa sebenarnya yang terjadi, jangan menunda-nundanya lebih lama lagi. Ingat baik-baik kamu tidak boleh egois dan keras kepala dengan sikap penolakannya itu, insya Allah akan selalu memberikan jalan keluar dan solusi dari permasalahannya yang kalian alami," ucapnya Bu Sita.
"Benar sekali apa yang dikatakan Ibu, Abang harus berusaha untuk terus membujuk Mbak Aliya agar menerima maafnya Abang, jelaskan padanya yang sebenarnya dan sejujurnya, semoga dengan mendengarkan penjelasannya Abang, Mbak Aliah hatinya bisa tergerak untuk menerima maafnya Abang," timpalnya Lutfi.
"Kalau Mama Aliya dan ayah bersatu berarti saya punya mama dong ayah seperti teman-teman yang lain," ucapnya Candra dengan antusias dan kegirangan mendengar percakapan ketiga orang dewasa itu.
"Kita sama-sama berdoa, berharap agar mamanya Candra bisa kembali lagi berkumpul dengan keluarga kita, kakak Jingga dan Senja juga insha Allah akan berkumpul dengan Candra," imbuhnya Leo yang berharap penuh harapan besar.
Bu Sita hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan dari anak dan cucunya itu di dalam lubuk hatinya yang paling terdalam, ia sangat bahagia karena akan bertemu dengan anak menantunya yang sejak putra sulungnya menikahi Aliya, sekalipun Bu Sita Marsita belum pernah sekalipun bertemu dengan menantunya itu.
Ya Allah kabulkan harapan,doa dan impian kami ini. Kasihan dengan anakku Leo sudah cukup menderita mencari kesana kemari keberadaan istrinya itu.
__ADS_1
Tapi hari ini saya melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya itu, saya tidak sanggup melihat kesedihan dari anakku.
Ketiga pria beda usia itu meninggalkan ruangan meja makan. Mereka bergerak ke aktifitas masing-masing. Sebelum meninggalkan tempat tersebut mereka berpamitan dengan ibunya Bu Sita.
Aku tidak akan mengijinkan diriku ini melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
aku akan berusaha untuk membuat Aliya dan kedua anak kembarku kembali padaku.
Mereka pasti sudah besar dan tentunya cantik seperti mamanya. aku sangat merindukan kehadiran kalian Nak.
Leo bertekad dan berjanji pada dirinya sendiri untuk melakukan apapun segala hal yang paling penting istrinya dan kedua putrinya bisa hidup bersamanya.
Sedangkan di tempat lain…
Hari ini Senja kesal dan jengkel dengan motornya, saking buru-burunya berangkat ke kampus. Dia lupa mengisi bensin motornya itu di Pertamina. Senja terpaksa turun dari motornya, untuk memeriksa kondisi motornya tersebut.
"Gini nih kalau enggak dengerin perkataannya Mama, tadi disuruh pakai mobil malah pilih motor," kesalnya Senja gadis berhijab untuk pertama kalinya meluapkan emosi dan kekesalannya dengan menendang si blue motor kesayangannya itu.
Senja memeriksa tangki bensinnya, ternyata isinya benar-benar kosong. Ia melupakan mengisi bahan bakar bensin motornya kemarin karena terlalu kelelahan sehabis dari kampus.
Senja celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitarnya,tapi dia tidak menemukan dan melihat jika ada pom bensin yang terdekat atau sekedar penjual bensin botolan.
Senja segera mengecek gogle mapsnya dan ternyata lokasi dari area tempat dia berdiri walaupun ramai dilalui pengguna jalan raya,tetapi tidak memungkinkan adanya penjual bensin terdekat.
Senja melihat layar hpnya dan cukup terkejut karena hampir sekilo dari tempatnya berada dekat SPBU terdekat.
"Astaghfirullah aladzim,mana mungkin aku mampu berjalan kaki sambil mendorong si biru dari sini ke SPBU yang benar saja," ketusnya Senja yang melototkan matanya saking tidak percayanya dengan apa yang tertulis di layar ponselnya tersebut.
Tapi,mau tidak mau, gimana lagi Senja harus mendorong sepeda motornya itu menuju SPBU.
"Coba ada tempat aman yang bisa aku titipkan motorku ini, pastinya aku akan titipkan saja tapi takutnya ada orang yang berniat jahat lagi, orang itu tidak mudah dipercaya,"
Senja mendorong mobilnya dengan sekuat tenaga, ia sesekali menyeka keringat yang mengucur membasahi sekujur tubuhnya itu dan wajahnya yang berkilauan terkena paparan sinar matahari pagi menjelang siang hari itu.
__ADS_1
Hingga suara klakson mobil seseorang mampu menghentikan kegiatannya tersebut. Dia segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara sambil mengernyitkan alisnya karena tidak mengetahui siapa pemilik mobil tersebut.
Supir mobil tersebut segera menghentikan laju kendaraan roda empatnya tepat di depannya Senja. Dia pun keluar dari dalam mobilnya yang memperlihatkan senyuman lebarnya dengan lesung pipinya yang semakin membuatnya kelihatan ganteng.
Senja tidak mengedipkan matanya saking terkejutnya melihat siapa sosok pria yang membuka kacamata hitamnya itu yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya bak orang Eropa saja.
"Kak Kabir Kasyafani," beonya Senja yang sangat mengenal siapa pemuda yang hanya terpaut lima tahun darinya itu.
Pemuda yang menjadi asisten dan dosen di kampusnya ya kebetulan mengisi salah satu mata kuliah di kelasnya dan jurusannya itu. Pria yang bekerja juga di salah satu perusahaan yang terkemuka di Jakarta.
Pemuda yang menjadi idola kampus terutama kaum hawa yang setiap hari mengelukkan namanya Kabir. Pria yang tidak sembarang berbicara dengan orang lain. Malahan Kabir terbilang pilih-pilih orang yang ingin dekat dengannya dan lebih tertutup bahkan terkesan jadi pria cool, pendiam dan sedikit cuek dengan kehidupan sekitarnya.
Kabir berjalan ke arah Senja yang masih menganga lebar membentuk huruf O besar melihat pria yang diam-diam diidolakannya itu.
Ya Allah apa aku tidak bermimpi asdos killer, irit bicara, cakep berjalan mendekatiku, kalau anak-anak mengetahui apa yang terjadi padaku saat ini pasti mereka akan heboh dan paling penting tidak percaya.
"Apa yang terjadi dengan motormu?" Tanyanya Kabir Kasyafani.
"Ehh a-nu Pak itu kehabisan bensin," jawabnya Senja yang malu-malu ditanya seperti itu.
"Makanya kalau mau pakai kendaraan itu harus dicek berulang kali kelengkapan dan kondisi kendaraannya, jangan asal dipakai saja," omelnya Kabir.
Senja terkejut mendengar perkataan dari mulutnya Kabir, dia menyangka jika Kabir akan menawarkan bantuannya setelah melihat dan mengetahui apa yang terjadi. Tapi, semuanya diluar ekspektasi dan dugaannya Senja. Ia mematung melihat apa yang dilakukan oleh Kabir dengan melototkan matanya saking tidak percayanya dengan apa yang terjadi di sana.
Setelah berbicara seperti itu, Kabir segera berlalu dari hadapannya Senja dan langsung mengemudikan kembali tunggangannya tanpa membantu sedikitpun Senja yang sangat butuh bantuan.
"Ya elah saya tidak butuh ceramah Anda Pak Dosen yang terhormat! saya hanya butuh bantuannya Anda!" gerutu Senja yang sedikit mengeraskan suaranya agar Kabir mendengar perkataannya tersebut.
Kabir yang hendak membuka pintu mobilnya itu hanya tersenyum menanggapi perkataannya Senja gadis yang membuatnya tertarik dan betah mengajar sebagai dosen pembantu padahal dia punya tanggung jawab yang cukup besar dengan usaha kedua orang tuanya.
"Gadis yang cukup menarik,"
Khusus untuk pembaca teraktif dan terrajin insya Allah akhir cerita akan dapat give away kecil-kecilan dari saya.
__ADS_1
Caranya hanya baca setiap babnya,like tentunya, komentar harus sesuai dengan isi babnya.
Insya Allah minggu terakhir akan ada lagi yang dapat give away kecil-kecilan dari fania, bagi khusus pembaca setia caranya: like, Komentar, baca Pamanmu adalah jodohku, Satu Atap Dua Hati dan Belum Berakhir.