Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 6. Janji Yang Diingkari


__ADS_3

"Aku hanya berharap semoga saja aku tidak mengecewakan keduanya dan jika suatu saat nanti Aliya mengetahui apa yang aku perbuat bisa menerimanya dengan ikhlas dan tidak sepenuhnya menyalahkanku, karena jujur aku mencintai mereka berdua tapi, aku tidak sanggup untuk melepaskan salah satu dari mereka dan aku akan berusaha untuk berlaku adil walaupun itu hal yang sulit aku lakukan." kenyataannya hanya Aliyah yang mampu selalu membuatku bahagia," Leo menatap istrinya yang sedang membersihkan peralatan makannya itu.


Alia tanpa sengaja melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu dan berasa ada yang aneh," ya Allah… jauhkanlah aku dari prasangka buruk yang selalu menghantuiku ini, aku tidak ingin memiliki pikiran jelek,tapi hati kecilku sudah beberapa hari ini tidak tenang,"


Satu bulan kemudian, sejak kepulangan Ibrahim dari luar daerah dalam rangka dinas kerja yang ditugaskan oleh perusahaannya yang hanya alibi saja untuk menutupi kenyataan yang ada. hubungan Adinda tetangga barunya itu dengan Senja dan Jingga semakin akrab saja.


Bahkan Aliya juga ikut senang punya tetangga yang baik pada kedua anaknya. Adinda sering kali meminta kepada Aliya untuk dibuatkan makanan atau jenis kue, bahan makanan tersebut dibeli oleh Adinda dan bahkan Aliya terkadang dapat uang dari apa yang dikerjakan.


Walaupun Aliya sering kali menolak pemberian Adinda, sedangkan Adinda selalu memaksakan kehendaknya agar Aliya tidak menolak semua pemberiannya.


Sore menjelang magrib,Leo baru bisa pulang setelah melamar pekerjaan. Ia melajukan mesin motornya itu dengan laju kecepatan yang sedang, tanpa sengaja sudut ekor matanya melihat ada penjual makanan.


"Itukan makanan yang disukai oleh Dewi, apa aku belikan saja?" Gumamnya Leo.


Leo segera menepikan motornya di pinggiran jalan raya. Dimana jalan itu terdapat banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan jualannya di sore hari. Ibrahim merogoh saku celananya untuk mencari hpnya. Ia kemudian menghubungi nomor hp istrinya Aliyah Azizah Humairah.


Tut… Tut…


Suara dering telepon yang belum tersambung ke nomor hpnya Leo, tetapi Aliya yang sedang mengambil jemuran di samping rumahnya itu tidak mendengar hpnya berdering.


Senja dan Jingga yang sedang mengerjakan pekerjaan sekolahnya itu segera bangkit dari duduknya setelah mendengar hp mamanya berdering.

__ADS_1


"Adek, sepertinya itu suara nada dering hpnya Mama, aku angkat dulu yah mungkin saja itu panggilan telepon yang penting," ucapnya Jingga.


Senja yang lagi serius mengerjakan tugas sekolahnya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari kakaknya itu. Ia berjalan terburu-buru sesekali berlari kecil ke arah kamar mamanya yang letaknya tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Papa," beonya Jingga dengan senyuman manis tersungging di bibirnya itu.


"Assalamualaikum, Mama dimana Nak?" Tanyanya Leo dari balik seberang telepon.


"Waalaikum salam Papa, Mama ada di samping lagi ambil jemuran pakaian, kenapa Pa, apa Papa mau bicara dengan Mama?" Tanyanya balik anak kecil yang berusia delapan tahun itu.


"Tidak usah Nak, kasihan Mama yang sudah capek kerja kita gangguin kamu katakan saja sama Mama, kalau tidak perlu memasak malam ini papa yang akan beli makanan di luar," cegahnya Leo.


"Oke kalau itu pesannya Papa siap akan aku sampaikan kepada Mama," timpalnya Jingga.


Jingga tersenyum tipis menanggapi pujian papanya itu," siap! Papa harus hati-hati yah, kami akan menunggu sampai Papa bawa makanannya, saya tidak akan makan selain makanan yang dibeli oleh Papa," ucapnya Jingga sebelum menutup sambungan teleponnya itu.


Leo segera berjalan ke arah antrian yang sudah cukup panjang dan berniat untuk memesan beberapa makanan yang paling disukai kedua anak dan istrinya itu. Tapi, baru saja hendak mengucapkan pesanannya, giliran hpnya berdering. Dia segera mengangkat teleponnya itu tanpa menunggu lama.


"Mas pesan…" ucapannya terpotong karena deringan telepon.


Mas yang disapa itu ingin membalas perkataan dari Ibra tidak jadi, karena Ibra berjalan menjauh dari tempat tongkrongan warungnya.

__ADS_1


"Mas nya yang mau pesan sudah pergi, kalau pengen beli pasti balik ke sini lagi," cicitnya penjual makanan itu.


Leo memeriksa layar hpnya dan cukup terkejut melihat siapa yang meneleponnya itu, "Apa yang terjadi kenapa ia menelponku?" Lirihnya Leo sebelum mengangkat telponnya.


Berselang beberapa menit kemudian, sudah hampir dua jam Ibrahim belum datang juga sejak ia menelpon anaknya tadi sore. Dua orang anak kecil itu berjalan mondar mandir ke sana kemari menunggu kepulangan Papanya, pria yang menjanjikan padanya untuk makan makanan yang dibelinya di luar. Mulutnya tidak berhenti komat kamit.


Apa yang dilakukan oleh kedua anaknya itu membuatnya tersenyum geleng-geleng kepala, walaupun dalam hatinya dia juga resah dan tidak sabar menunggu kedatangan suaminya.


"Mama! katanya papa akan beliin kita makanan untuk makan malam, ini sudah jam delapan malam, tapi Papa sama sekali tidak balik juga,kami sudah kelaparan!" Omelnya Jingga anak paling bungsunya Aliya.


Aliya merangkul pundak anaknya itu," sayang putrinya Mama, mungkin papa lagi banyak kerjaan sehingga papa pulang terlambat, kalian harus sabar, mama juga lapar sayang tapi mama berusaha untuk menahannya, ingat Nak orang sabar Insya Allah akan bahagia hidupnya di dunia maupun di akhirat, kalian mau masuk surga kan?" tanyanya Aliya.


Jingga dan Senja tanpa berfikir panjang segera menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mamanya.


"Tentu saja kami mau masuk surga bareng Mama dan papa, insha Allah kami akan sabar menunggu papa pulang," ujarnya Jingga anak sulungnya yang sangat antusias mendengar perkataan dari mulut mamanya itu.


"Alhamdulillah Mama sangat bangga dan bahagia jika kedua princesnya mama bisa bersabar," ucapnya bahagia.


Ketiganya berpelukan satu sama lainnya, Aliya merasa sedih melihat kedua anak kembarnya itu yang harus dikecewakan oleh suaminya sendiri. Dan ini bukan yang pertama kalinya Leo Carlando mengingkari janjinya kepada kedua buah hatinya itu.


Ya Allah apa sebenarnya yang terjadi padamu Mas Leo, kenapa harus seperti ini lagi. Mungkin saat ini mereka masih bisa mengerti dengan keadaan dengan bujukan dan rayuan ku, tapi esok gimana kalau hal serupa kembali terjadi lagi.

__ADS_1


Saya berharap semoga saja mas Leo sibuk memang dengan pekerjaannya, karena jujur hatiku tidak tenang ya Allah dengan hal ini. saya sungguh kasihan melihat kedua putriku yang sedih, padahal mereka tidak berharap makan yang mahal dan enak, yang paling terpenting adalah kebersamaan kami itu yang paling utama dan diharapkan oleh mereka.


Tapi, sudahlah mungkin juga mas Leo punya alasan khusus kenapa bisa seperti ini. Ya Allah lindungilah selalu pernikahan kami dan keluargaku.


__ADS_2