
Senja berdiri dari duduknya sambil melototkan matanya saking terkejutnya dan tidak percayanya mendengar perkataan dari dokter Rahayu Purwaningsih. Dokter mengatakan bahwa hasil pemeriksaan laboratoriumnya adalah negatif tidak mengidap penyakit kanker darah.
"Dokter ini tidak mungkin!? Aku yakin ada kesalahan disini," ucapnya Senja yang tidak ingin mempercayai kenyataan yang baru saja di dengarnya.
Bukannya bahagia, gembira atau merasa senang dengan fakta baru itu, tetapi karena dia tidak ingin jika karena kesalahan diagnosis tersebut membuatnya berharap, apabila kehidupannya akan kembali normal, padahal hanya angan-angan belaka saja.
"Ibu Senja apa Anda tidak bersyukur mendengar berita gembira ini?" Tanyanya Dokter Rahayu.
"Bukannya be-gi-tu Dok, tapi sekitar kurang lebih tiga bulan lalu, saya mendapatkan hasil tes kesehatan saya mengatakan saya positif mengidap penyakit leukimia yang sangat mematikan, tapi hari ini dokter mengatakan jika saya negatif sama sekali tidak mengidap penyakit leukimia, bukannya ini adalah sama seperti mempermainkan saya Dok!" Tegasnya Senja.
Dokter Rahayu mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari Senja," astaughfirullahaladzim kenapa bisa ada tes seperti itu, sedangkan saya yang memeriksa kesehatan kamu itu dulu tidak pernah mengatakan apalagi menemukan satu gejala penyakit berbahaya," ungkapnya dokter Rahayu.
Senja masih berdiri sambil mendengarkan dengan seksama, kata demi kata yang disebutkan oleh dokter Rahayu.
"Tunggu pegawai lab datang ke sini untuk menjelaskan semuanya, barulah teka teki masalah tes kamu akan terjawab apakah ada kekeliruan dan kesalahpahaman ketika melakukan tes," ucapnya dokter Rahayu yang berusaha untuk menenangkan dirinya Senja.
Dokter Rahayu berjalan perlahan ke arah Senja sambil memegangi kedua lengannya Senja.
"Kamu harus sabar dan tenang, ingat kamu ini sedang hamil, setelah dokter yang bertugas di bagian lab saya akan menjelaskan mengenai masalah kesehatan calon bayi kamu," imbuhnya Dokter Rahayu yang cukup paham dan mengerti dengan apa yang dialami dan dirasakan oleh Senja.
Senja pun duduk di atas kursi, dia nampak masih terguncang hebat mendengar kenyataan yang sungguh diluar kendalinya. Tetapi di sisi lain, dia sangat bahagia karena bisa terbebas dari penyakit yang setiap saat menghantui pikiran,jiwa dan raganya.
Air matanya menetes membasahi pipinya itu, dia sangat bahagia dan juga sedih karena telah membuat hubungannya dengan suaminya diambang kehancuran.
__ADS_1
Ya Allah apa ini jawaban atas doa-doaku selama ini? Aku sangat bahagia karena bisa bersatu kembali dengan abang Kabir.
Berselang beberapa menit kemudian, pegawai petugas lab sudah datang. Dia menjelaskan secara detail dan terperinci mengenai kesehatannya Senja.
"Maafkan kami Bu Senja ini semua keteledoran salah satu pegawaiku yang sudah menyebabkan berkas-berkasnya ibu Senja dengan salah satu pasien yang mengidap penyakit kanker leukimia ini yang kebetulan juga sedang hamil," jelasnya pria itu yang berulang kali menundukkan kepalanya saking malunya dan merasa bersalah sudah ceroboh pada saat bekerja.
"Semoga saja Tuan Besar Abbas Sanders tidak mengetahui semua ini jika tidak banyak pegawai dan dokter yang tidak terlibat langsung akan mendapatkan masalah yang cukup serius," ujarnya kepala laboratorium.
Senja melihat ke arah perempuan yang berbicara seperti itu," kalian tenang saja, insha Allah tidak ada yang mengetahui masalah ini, karena aku tidak mengatakan kepada siapapun anggota keluargaku, jadi aku minta kepada ibu dan bapak untuk diam dan tidak menyampaikan kepada siapapun masalah ini, aku minta kepada kalian untuk merahasiakannya," pintanya Senja yang akhirnya bisa bernafas lega dan bersyukur karena kesehatannya sangat baik.
Ketiga orang itu bersyukur karena Senja sama sekali tidak mempermasalahkan hal yang cukup besar dan pelik yang membuat hubungannya dengan suaminya bermasalah hingga berada di ujung tanduk.
"Makasih banyak Bu Senja semoga Anda dan calon bayinya sehat selalu hingga lahirannya normal tanpa kekurangan apapun," doa setulus hatinya Pak Armin selaku kepala laboratorium.
"Amin ya rabbal alamin," jawab semuanya.
Senja duduk kembali ke tempatnya semula, dokter Rahayu Purwaningsih sebagai dokter spesialis kandungan segera menjelaskan secara rinci apa yang tertulis di atas kertas hasil pemeriksaannya Senja.
Untungnya dia sudah berkomunikasi sebelumnya dengan dokter sebelumnya yang menangani khusus bagian penyakit dalam terutama kanker. Sehingga dokter Rahayu sudah mengetahui dengan pasti apa yang terjadi sebenarnya pada Senja.
Dokter Rahayu kembali menjabat tangannya Senja dan mengucapakan selamat kepada Senja.
"Selamat Bu Senja sesuai dengan hasil pemeriksaan USG dan laboratorium Alhamdulillah kondisi bayi Anda baik-baik saja, semuanya normal sesuai dengan usia kandungannya dan berita gembiranya jika anda akan memiliki dua bayi sekaligus, yaitu bayi Anda kembar tiga," terangnya dokter Rahayu.
__ADS_1
Senja menutup mulutnya saking kagetnya mendengar berita kedua yang didengarnya hari ini. Berita yang sungguh membuatnya sangat bahagia dan mendapatkan limpahan berkah yang luar biasa.
"Masya Allah… alhamdulilah saya hamil anak kembar, aku tidak menyangka dokter jika saya akan memiliki anak kembar, pantesan perutku sangat besar di banding dengan perutnya anak tetangga yang juga hamil lebih duluan dari saya," imbuhnya Senja yang tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas segala karunia, nikmat dan keberkahan dalam hidupnya.
"Kalau gitu ini resep obatnya dan juga vitaminnya segera ditebus di apotek, kamu bisa datang kembali jika mengalami keluhan atau kamu bisa menelpon ku jika ada yang ingin dikonsultasikan," tuturnya dokter Rahayu.
"Insha Allah dokter, makasih banyak kalau begitu saya pamit pulang lebih dulu," ucapnya Senja sambil menjabat tangannya dokter dengan penuh kebahagiaan.
"Sama-sama, ingat jangan sampai dilupakan untuk diminum obat dan vitaminnya, kedua kamu juga harus minum susu supaya pertumbuhan mereka stabil," nasehatnya Bu dokter.
"Insya Allah dokter, Makasih banyak," Senja segera meninggalkan ruangan praktek tersebut dengan hati yang paling penuh sukacita.
Senja segera berjalan ke arah luar dan berjalan dengan sangat hati-hati ke arah apotik sembari mengelus perutnya yang semakin mulai nampak buncit.
"Anak-anakku kamu akan segera lahir ke dunia ini, pasti daddy kalian sama halnya dengan mami yang tidak sabar menunggu kalian bertiga lahir ke dunia ini," cicitnya Senja yang senyuman penuh kegembiraan tak pernah pudar dari wajahnya itu.
Senja melihat ada kursi kosong sehingga dia berniat untuk duduk di sana, setelah memasukkan kertas resep obatnya ia pun harus ikut antri. Seandainya dia berbicara kepada papa mertuanya ataupun Mama mertuanya pasti dia tidak perlu repot-repot untuk ikutan dalam antrian sehingga harus capek dan berdesakan.
Padahal rumah sakit itu adalah milik neneknya Bu Clara Mondelez. Sehingga ia juga tidak meski harus buang waktu untuk capek seperti sekarang ini.
"Alhamdulillah untungnya masih ada kursi kosong," cicitnya Senja.
Tapi baru sepersekian detik menghempaskan bokongnya ke atas kursi besi, sudut ekor netra hitamnya melihat pria yang sudah hampir tiga bulan tidak dilihatnya bersama dengan seorang perempuan.
__ADS_1
Senja spontan berdiri dari duduknya itu dan bibirnya bergetar hebat, dadanya bergemuruh, kedua bola matanya berembun hingga menghasilkan cairan bening yang siap keluar melalui sela kelopak matanya.
"Itu pasti bukan suamiku! Mana mungkin suamiku bersama dengan perempuan hamil!?" Lirihnya Senja sembari meremas ujung pakaiannya itu.