Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 7. Sosis dan Bakso Bakar Penawarnya


__ADS_3

Aliya Azizah Humairah pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Senja dan Jingga yang tidak sabaran menanti kedatangan papanya.


"Mama kok Papa belum balik juga katanya sudah dijalan mau pulang ke rumah,tapi kok lama banget sampainya," rengeknya Senja anak bungsunya itu.


Jingga memeluk tubuh mamanya dengan erat, "Hiks… hiks… papa jahat katanya mau beliin makanan kesukaannya Jingga, tapi sampai sekarang belum muncul juga, papa jahat," rengeknya Jingga.


"Papa sudah berubah tidak seperti dulu lagi yang selalu menepati janjinya, aku benci papa! Papa tukang ingkar janji gara-gara papa saya sama kakak, Mama juga kelaparan, kalau papa pulang saya tidak mau bicara dengan papa!" Kesalnya gadis kecil berusia delapan tahun kurang sedikit itu.


Aliya kelimpungan menghadapi kedua putrinya yang marah karena lagi-lagi suaminya ingkar janji dan ini yang kesekian kalinya terjadi seperti ini.


Aliya membungkukkan sedikit tubuhnya itu, "Sayang, putrinya Mama dengarkan Mama baik-baik mungkin papa punya kesibukan yang tidak bisa ditunda makanya belum pulang sampai sekarang, kita harus nungguin papa di dalam rumah sambil Mama buatkan kalian makanan, semoga makanan tersebut bisa menunda laparnya tuan putrinya Mama," bujuknya Aliya.


Aliya mengelus puncak rambut panjang hitam legam milik Senja dan Jingga yang dikepang dua itu dengan tatapan matanya yang teduh dan sentuhan yang sangat lembut berusaha untuk menenangkan anaknya. Aliya juga resah dan risau menunggu kepulangan suaminya itu yang hingga detik ini tidak memberikan kabar kepulangannya lagi.


"Kalau gitu,gimana kita buat cemilan ringan dulu untuk mengganjal perut sembari nungguin papa sampai datang, gimana menurut kalian?" Tanyanya Aliya yang berusaha mencoba untuk mengalihkan perhatian kedua putri kembarnya itu.


Kedua anaknya langsung menatap intens ke arah mamanya," serius! Mama akan buatkan kami cemilan?" Tanyanya antusias Jingga yang sejak dulu kalau masalah makanan pasti akan mudah terpengaruh.


Aliya menganggukkan kepalanya seraya memeluk kedua tubuh putrinya itu," Mama masakin kalian sosis dan bakso goreng dicocol dengan sambal kacang dan kecap, apa kalian mau?" Aliya berharap apa yang direncanakannya disukai oleh kedua putrinya itu.

__ADS_1


"Kami mau banget Mama!" Teriak keduanya secara bersamaan.


Sedangkan sosok seorang Papa yang sejak tadi ditunggu itu sedang sibuk di tempat lain yang membuatnya tidak bisa menghubungi nomor hp istrinya hingga pagi menjelang.


Kedua putrinya buru-buru menghapus air matanya menetes membasahi pipinya sedari tadi, "Hore, Mama Aliya akan buatkan kami makanan yang pasti sangat lezat," jeritnya Jingga bersamaan dengan adiknya Senja.


Aliya melihat ke arah pagar rumahnya dan berharap orang yang menyebabkan kedua putrinya itu bersedih segera datang untuk mengobati rasa kecewa anak-anaknya. Tapi, yang diharapkan itu tidak serta-merta muncul sesuai dengan harapannya.


"Kenapa Mas Leo melakukan semua ini kepada kami bertiga,kalau memang sibuk kenapa meski susah banget memberikan kabar walau hanya pesan singkat saja, akhir-akhir Mas Ibrahim semakin sering melalaikan dan melupakan janjinya kepada anaknya, astaghfirullahaladzim aku tidak boleh suudzon terhadap Mas Leo, aku pernah denger katanya prasangka Allah SWT itu tergantung dari prasangka hamba-nya, jadi aku harus bisa membuang pikiran jelek dari hati dan pikiranku," Aliya bergandengan tangan dengan kedua anaknya bersama menuju ke dalam rumahnya.


"Kalian mau makan sosis dan bakso goreng atau bakar Nak?" Tanyanya Aliya sambil memeluk kedua tubuh anaknya.


Aliya kemudian berlutut di hadapan kedua anaknya itu," kalau kakak Jingga gimana,apa juga mau pesan basko bakar sama bakso goreng pakai toping mayonaise atau saus kacang tanah saja?"


"Kalau aku juga mau dua-duanya tapi, kali ini aku pengen pakai sambal ekstra pedas Mama, katanya Senja enak kalau pakai saus sambal kacang," imbuhnya Jingga yang raut wajahnya langsung melupakan kekesalan dan kesedihannya.


Aliya bersyukur karena apa yang dikatakan olehnya bisa diterima oleh kedua putri kecilnya itu sehingga keduanya bisa sementara waktu melupakan kesedihan, kekesalannya terhadap papanya. Dia hanya berharap jika suaminya pulang, kedua bocah kecilnya bisa melupakan kejadian malam ini.


"Semoga mas Leo baik-baik saja, aku mungkin sebaiknya menelponnya jika anak-anak sudah aman, kasihan mereka yang sejak sore tadi menunggu kepulangan Mas Leo, ya Allah… aku sudah berusaha untuk bersikap tenang dan tidak berpikiran lain-lain tapi, selalu saja terbesit dalam benakku Mas Leo seperti punya pekerjaan dan kesibukan di luar sana yang tidak aku ketahui apa itu," Aliya mengunci rapat pintu rumahnya itu.

__ADS_1


Berselang beberapa jam kemudian, gorengannya yang spesial dimasak olehnya sudah matang dan siap disajikan dengan berbagai topping yang sudah khusus dibuat oleh Aliya. Ketiganya pun sudah duduk saling berhadapan setelah Aliya menata makanannya.


Seperti biasanya sebelum makan kedua anak kembarnya akan memimpin menghafalkan doa makan. Mereka pun mulai makan dengan hikmah dengan nasi putih yang masih mengepul asapnya sudah hampir ludes di dalam tempatnya.


Jingga belum menghabiskan makanannya sudah mulai berbicara, "Mama, tadi di sekolah ada teman yang datang terlambat terus ditanyain sama Ibu guru eh malah nangis histeris," ucapnya Jingga yang teringat dengan salah satu teman sekolahnya.


Aliya melihat ke arah anak sulungnya, "kenapa dengan temannya,kok hanya ditanya alasannya terlambat harus nangis? Emangnya Bu guru tanyanya pake marah-marah atau dia dipukuli gitu, terus ada apa dengan temannya, kenapa bisa terlambat ke sekolah?" Aliya menata makanan tersebut ke atas piring yang sudah dipersiapkan oleh Ayuna.


Jingga menghentikan suapannya kemudi berusaha mengingat kejadian tersebut," katanya ayahnya sudah tidak bisa antar jemput, sehingga dia harus menunggu angkutan umum bersama dengan adiknya kalau mau ke sekolah jadi butuh waktu banyak, lagian katanya mereka berdua membantu ibunya terlebih dahulu keliling kompleks untuk jualan kue buatan mamanya sebelum bersiap ke sekolah," jelasnya Jingga panjang lebar.


Aliya kemudian melepas celemek berwarna coklat itu ke tempatnya semula lalu duduk di depan kedua anaknya. Ia cukup prihatin dengan nasib malang dua bocah teman kelas putrinya itu.


Aliya menautkan kedua alisnya mendengar perkataan dari putri sulungnya, "Kenapa bisa seperti itu, memangnya papanya ada dimana sih tega biarin anaknya sampai keliling jualan?" Aliya ikut menyantap bakso bakar dan bakso goreng buatannya sendiri kebetulan perutnya juga keroncongan dengan nasi putih pulem.


Jingga secepatnya menghabiskan sisa makanan yang kebetulan masih ada di dalam mulutnya itu. Aliyai cukup penasaran dengan apa kelanjutan kisah cerita dari sahabat putri sulungnya.


"Pelan-pelan saja makannya Nak, jelasinnya juga tidak perlu terburu-buru seperti ini," cegah Aliya.


Jingga hanya terkekeh mendengar teguran dari mamanya itu, "Papanya menikah lagi dengan perempuan lain Ma, terus mereka tidak diurus lagi oleh ayahnya Ma, diberikan uang jajan pun katanya sudah tidak pernah lagi, kasihan yah Ma temannya Jingga itu gara-gara ayahnya menikah lagi sehingga hidupnya sengsara," ungkapnya Jingga dengan sendu.

__ADS_1


__ADS_2