Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 197


__ADS_3

Jingga berjalan cepat ke arah mamanya yang melihat Aliyah sudah tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Mama! Apa yang terjadi pada mama kenapa bisa seperti ini?" Tanyanya Jingga yang sangat khawatir melihat kondisi mamanya.


"Jingga mama tidak sanggup lagi, aku mohon selamatkan calon adikmu Nak," lirihnya Aliah.


"Aku akan menyelamatkan Mama dan adikku," ucapnya Jingga yang air matanya semakin menetes membasahi pipinya melihat mamanya yang sangat membutuhkan pertolongan.


Jingga kelimpungan sehingga tidak mengetahui apa yang seharusnya dilakukannya untuk membantu mamanya.


"Bu Minah, bibi Ijah tolong cepat ke sini, Mamang Abdul tolong! Cepatlah ke sini!" Teriak Jingga yang berusaha untuk terus memanggil siapapun orang yang berada di sekitarnya untuk segera membantunya.


Semua orang yang dipanggil namanya oleh Jingga segera datang menghampiri Jingga yang tangannya sudah berlumuran darah.


Bu Minah berjalan tergopoh-gopoh,bi Ijah dan Pak Abdul pun mengikuti di belakangnya dengan berjalan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Non Jingga apa yang terjadi?" Tanyanya Bi Minah.


Jingga mengusap air matanya menggunakan ujung hijabnya itu,"Aku juga tidak tau apa yang terjadi pada Mama, tapi aku mohon cepatlah telpon suamiku dengan Senja, tolong cepatlah," perintahnya Jingga.


Bu Ijah segera merogoh ponselnya dan menghubungi nomor ponselnya Leo Carlando, Guntur Aswin, Kabir dan Senja.


"Nona Jingga sebaiknya kita segera bawa Nyonya Besar cepat ke rumah sakit, takutnya terjadi sesuatu pada bayinya," usulnya Mang Abdulloh.


"Mama bertahanlah,kami akan segera membawa Mama ke rumah sakit, jadi aku mohon bertahanlah," ucapnya Jingga yang tidak henti-hentinya menangis.


"Cepatlah, aku mohon jalankan mobilnya. Apa lagi yang Pak supir tunggu! aku mohon cepatlah!" Bentaknya Jingga yang baru kali ini berkata kasar dan sedikit meninggikan suaranya itu.


Bu Minah yang duduk di kursi jok depan sedangkan Jingga berada di bagian belakang. Mobil yang mereka tumpangi baru saja jalan beberapa detik, Senja dan bibi Diah segera keluar dari mobilnya itu.


Setelah menerima telepon dari Bu Ijah asisten pembantu rumah tangga Mama dan papanya,ia menitipkan ketiga putra putrinya itu kepada kedua baby sitternya.

__ADS_1


Senja berjalan tergesa-gesa ke arah mobil kakaknya itu,"kakak apa yang terjadi pada Mama Alia?" Tanyanya Senja yang sangat panik sambil berusaha untuk menghentikan laju mobilnya pak Haryo.


"Kamu ikuti saja kami, Mama tidak boleh terlambat dibawa ke rumah sakit," ucap Jingga.


Pak Haryo segera melajukan kembali laju kendaraannya, karena tidak ingin terkena amukan kemarahan anak majikannya.


"Apa Papa sudah dihubungi?" Teriak Senja.


Mamang Abdul segera berjalan ke arah Senja," Tuan Besar Leo sudah kami telpon, jadi Non Senja sebaiknya menyusul mereka sebelum terlambat," usulannya Pak Abdul Qadir yang tidak bisa ikut dengan mereka.


Senja segera berjalan ke arah dalam mobilnya, tanpa membalas perkataannya dari tukang kebun sekaligus security rumahnya itu.


Kabir dan Guntur segera menyusul mereka setelah mendengar kabar duka tersebut. Tetapi, karena jarak perusahaan Sanders Company dengan rumah sakit lebih dekat, dari rumahnya Aliya sehingga, Guntur lebih cepat sampai di rumah sakit yang akan dituju oleh Jingga dalam Senja.


Mobil yang dikendarai oleh Kabir diparkir dengan asal di depan rumah sakit tepat di depan pintu masuk. Dia segera berlari menuju ke arah dalam dan segera berteriak kencang memangil beberapa perawat untuk segera datang mendatanginya.

__ADS_1


"Suster tolong persiapkan cepat ruang operasi untuk mertuaku!" Jerit Kabir yang berlari seperti orang kesurupan saja.


__ADS_2