Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 198


__ADS_3

Semua sudah terlebih dahulu dipersiapkan oleh Kabir, sebelum kedatangan rombongan Jingga dan Senja sampai di rumah sakit bersama dengan Aliyah.


"Mama aku mohon bertahanlah, kamu akan segera ditolong," ucapnya Jingga yang semakin sedih ketika melihat kondisi mamanya yang semakin parah.


Bu Minah yang duduk di jok kursi depan pun tak segan-segan meneteskan air matanya melihat Aliya yang semakin lemah.


"Pak Haryo, aku mohon cepatlah kemudikan mobilnya, aku tidak ingin terlambat sampai di rumah sakit," titahnya Jingga.


Aliaya berusaha sekuat tenaga memegangi tangan putri sulungnya itu," Jingga, ma-ma mohon selamatkan adikmu, ja-ngan pernah kecewakan Mama Nak, jadi Mama mohon kamu harus memilih menyelamatkan adikmu saja dari pada mama," lirihnya Aliah yang sudah terbata-bata dalam berbicara.


Jingga mengusap air matanya yang tidak berhenti menetes," Mama dan adikku pasti selamat, kalian berdua akan selamat dan tidak akan ada yang terjadi pada Mama, jadi aku mohon jangan sekali-kali berbicara buruk seperti ini," ucapnya Jingga yang tidak memperlihatkan air matanya langsung di depan mamanya.


"Iya Nyonya Aliaya pasti selamat dan juga tuan muda kecil, kami yakin itu Alloh SWT pasti menolong Nyoya dan calon bayinya Nyonya, apalagi Nyonya orang yang baik berhati dermawan," timpalnya bi Mina.


Sesekali Aliya kesulitan untuk bernafas dan nafasnya terkadang tersengal-sengal. Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan lobi rumah sakit dan disusul oleh mobil yang dikendarai oleh Senja dan Bu Ijah.


Jingga tersenyum tipis melihat suaminya dan adik iparnya itu,dia tidak terlalu khawatir karena melihat orang-orang terdekatnya menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Cepat naikkan pasien ke atas bangkar,dia harus segera ditangani!" Pintanya salah satu perawat laki-laki.


Aliyah terus menggenggam tangannya Jingga, Senja pun meneteskan air matanya ketika melihat Mamanya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Ya Allah selamatkan lah calon adik kami dan mamaku. Jangan biarkan terjadi sesuatu pada mereka berdua.


Bu Sri Indarwati, Pak Lutfi Hasan Ishaq, istrinya Bu Sita Marsita serta kedua anaknya yang masih kecil-kecil yang pertama berusia delapan tahun bernama Shara Anjani dan yang kedua bernama Sasmita Larasati yang berusia enam tahun.


"Dokter lakukan apapun yang terbaik untuk mereka berdua, berapapun biayanya saya akan membayarnya, kalau perlu datangkan dokter paling terbaik yang kalian miliki," perintahnya Kabir.


"Kami akan melakukan tindakan yang paling terbaik untuk mereka, tapi kami mohon doa kalian juga," imbuhnya dokter spesialis kandungan yang menangani kondisi kesehatannya Aliah.


"Cucuku, apa yang terjadi pada Mama kalian dan papa kalian ada dimana? Nenek tidak melihatnya," ucap Bu Sri yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling area rumah sakit tapi, tetap tidak menembak Leo Carlando anak sulung.


"Papa sementara di jalan Nek, baru saja kami selesai bertelponan," balasnya Kabir.


"Bang Guntur, aku sangat takut, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Mama dan adikku,hiks… hiks aku tidak sanggup bang," ratapnya Jingga dalam pelukannya Guntur.

__ADS_1


"Teruslah berdoa kepada Allah SWT, insha Allah Mama Alia dan adikmu akan selamat," bujuknya Guntur yang tidak tega melihat istrinya sedih seperti sekarang ini.


Semua orang duduk di salah satu kursi panjang khusus untuk penunggu keluarga pasien. Semua nampak takut, khawatir, panik dan mencemaskan keadaannya Aliah.


Derap langkah kakinya menuju ke depan pintu operasi begitu terdengar jelas. Mereka serentak mengalihkan perhatiannya ke arah suara langkah seseorang yang berlari kencang.


"Senja apa yang terjadi pada mamamu nak, kenapa bisa seperti ini?" tanyanya Leo yang baru saja sampai di RS.


Senja baru saja hendak menjawab pertanyaan dari papanya itu, pintu ruang operasi terbuka lebar dan keluarlah seorang dokter.


"Alhamdulillah bayinya nyonya Aliah Aziza Humaira selamat, tapi maafkan kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan sesuai dengan kemampuan kami para tim dokter. Tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak lain," terangnya dokter bernama Maryam Nurhaliza yang masih kelihatan muda diusianya itu.


"A-pa maksudnya Dokter?"


"Nyonya Aliyah telah meninggal dunia,"


"Tidak! itu tidak mungkin dokter!"

__ADS_1


bruk...


Suara seseorang jatuh pingsan tak sadarkan diri terdengar setelah kabar duka itu disampaikan oleh dokter yang menangani Aliyah dan bayinya.


__ADS_2