
Masalah pil kbnya sebaiknya nanti saja aku pertanyakan pada Senja, tidak enak jika gara-gara masalah itu membuat Senja marah dan memperkeruh masalah.
Nanti balik dari tanah suci barulah aku bicarakan semuanya agar tidak ada dusta diantara kami semua.
Baru sepersekian detik saja Aliya menutup pintu kamar anak keduanya itu. Pintu itu kembali terbuka lebar, tapi orang yang membukanya berbeda dengan orang sebelumnya.
Saya akan memberikan kejutan untuk Senja, pasti dia kaget dengan kedatanganku ini.
Aliah segera bergegas ke kamarnya karena akan bersiap untuk berangkat ke bandara internasional Soekarno Hatta. Hari ini adalah hari keberangkatannya ke Mekah tanah suci untuk melaksanakan umrah bersama dengan suaminya dan akan ke Korea Selatan Seoul untuk melaksanakan bulan madu mereka yang sudah tertunda beberapa tahun silam.
"Mas Leo apa semua barang-barangnya sudah dipacking dengan baik?" Tanyanya Alia sambil berjalan ke arah lemari pakaiannya.
Leo menatap ke arah istrinya itu," Alhamdulillah semuanya sudah beres, kenapa emangnya sayang?" Tanyanya balik Leo.
"Hanya ingin memastikan saja apa sudah semua barang bawaan kita sudah di dalam koper, kalau tidak kan bisa saya bantu mas Leo," imbuhnya Aliyah.
"Tidak perlu repot-repot sayang, insya Allah mas sudah merapikan, membereskan dan mengeceknya juga berulang kali jadi mas yakin semuanya sudah beres," jelasnya Leo Carlando.
"Alhamdulillah, tapi ngomong-ngomong sambal terasi dan sambal goreng kentang ampelanya sudah ada juga mas, jangan sampai bibi Sumi melupakan hal yang paling penting," tukasnya Aliya.
Leo terlebih dahulu tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari istrinya itu," ya Allah sayangku tidak mungkin mas lupa dengan makanan yang paling kamu sukai, ini di dalam paper bag khusus ini benda yang kamu cari sudah aman kok," sahutnya Leo.
Aliah Aziza Humaira menghela nafasnya dengan cukup keras," Alhamdulillah memang suamiku selalu saja mengerti dengan keadaanku dan bisa mengatasi apapun kesulitan yang aku hadapi,"
Aliyah berjalan ke arah suaminya berada sambil memeluk tubuh Leo dari arah belakang.
"Apa yang terjadi padamu istriku, sepertinya ada yang tidak beres karena kamu tidak pernah seperti ini yang merisaukan hal-hal kecil saja," tukasnya Leo sambil memutar tubuhnya agar mereka saling berhadapan satu sama lainnya.
Aliya tersipu mendengar perkataan dari suaminya itu," mas memang selalu mengerti dan paham dengan apa yang aku rasakan dan alami, hanya saja saya tidak tahu apakah mas perlu mengetahui apa yang terjadi atau tidak perlu untuk sementara waktu saja," ucapnya sendu Aliya.
"Katakan saja pada mas apa yang terjadi sebenarnya, kamu sangat sungkan dan segan seolah saya ini orang lain saja dimatamu bukan suamimu," tampiknya Leo.
Aliya tersenyum dan membalas memeluk tubuhnya Leo," ini hanya masalah kecil kok, jadi tidak perlu Mas risaukan dan khawatir dengan masalah yang saya pikirkan ini insha Allah akan segera selesai dengan sendirinya," ucapnya Aliya yang berusaha meyakinkan suaminya itu.
__ADS_1
"Kalau menurut kamu itu yang terbaik, yah sudah ayok kita shalat duha terlebih dahulu sebelum sarapan," ajaknya Leo sambil mengecup keningnya Aliya.
Sedangkan di tempat lain masih di dalam area rumah besar dan megahnya Aliyah. Seorang perempuan yang masih bergelung dalam selimutnya dengan mata terpejam. Senja mengira jika dia sedang bermimpi bertemu dengan suaminya.
"Pak Kabir kenapa hidungmu mancung banget, kenapa tubuhmu terbentuk seperti ini, apa kamu rajin berolahraga raga yah?"
Senja menoel hidungnya Kabir dan jari jemarinya menelusup dari wajah,ke leher hingga turun ke dada sispack nya Kabir. Apa yang dilakukan oleh Senja membuat tubuhnya Kabir spontan mengirimkan sinyal-sinyal jika ia menginginkan lebih dari sekadar sentuhan yang penuh kelembutan di atas permukaan kulitnya.
Dua minggu lebih harus bersabar berpisah dengan istrinya itu sehingga setiap malam yang menahan kedinginan seorang diri di negara Eropa. Hingga tangannya Senja yang tidak bisa dikondisikan menyentuh belalai gajah yang tertidur lesu sekarang langsung menunjukkan keperkasaannya.
Senja kamu sendiri yang langsung berinisiatif untuk menyentuhnya, maka jangan sekali-kali salahkan Abang, jika saya tidak pernah akan membuang waktu dan kesempatan besar ini.
Kabir segera meee luuu maat bibir mungilnya Senja dengan penuh gaa iii raah dan naaff suuu. Ia sudah lama mengendalikan dirinya untuk bermain solo karir. Kabir juga tipe pria setia yang sama sekali tidak pernah berniat untuk jajan ataupun main celap celup seperti CEO kaya pada umumnya.
Satu persatu pakaian mereka terlempar ke sembarang arah, Senja sama sekali tidak terusik dengan perbuatannya Kabir pagi itu.
Ugh!!
Hemph..
Kabir sesekali memperhatikan ke arah bola matanya Senja yang masih terpejam, takutnya Senja terbangun dari tidurnya itu.
Auhh!!
Ketika salah satu tangannya Kabir menyentuh benda yang beberapa bulan terakhir ini menjadi kegemaran dan daerah favoritnya. Satu bibirnya memainkan pasangannya yang sebelah kanan. Lidahnya Kabir bermain-main di area itu dengan lihainya.
Hingga Senja akhirnya terbangun karena merasakan keanehan pada tubuhnya sendiri. Ia terbelalak melihat pria yang sedang berada di atas tubuhnya dan tersadar melihat kondisi tubuhnya yang tanpa sehelai benang dan kain merek apapun yang menutupi seluruh bodynya itu.
"Ahh!! Pak Kabir… Auh aahh… Hem suamiku!" Racaunya Senja yang tak mampu menahan serangan demi serangan yang diberikan oleh suaminya itu.
Senja menekan kuat tengkuk lehernya Kabir dengan bola matanya yang naik turun pertanda dia sangat bahagia dan senang dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Ah suamiku, sayangku dosenku yang paling ganteng a-nu a-ku ti-dak ta-han lagi," lirihnya Senja yang mengigit bibir mungilnya itu diakhir ucapannya.
__ADS_1
"Sebut namanya Abang Senja Starla Airen Zain Pratama," cicitnya Kabir yang wajahnya timbul tenggelam di area paling bawah miliknya Senja.
"Ah hemp, Kabir Kasyafani Sanders aku mencintaimu, aku sangat tidak tahan lagi!" Teriaknya Senja.
Teriakannya Senja membuat Kabir segera menghentikan kegiatannya yang sedang mengekspansi goa yang paling subur yang dipadati dengan tumbuhan ilalang.
"Sayang sekali lagi Abang ingin mendengar apa yang kamu katakan?" Pintanya Kabir.
Senja tersipu malu sehingg kedua pipinya bersemu merah, dia tidak menyangka jika ternyata ucapannya itu mampu meluncur begitu saja dari bibirnya yang sama sekali tidak disadarinya.
Ya Allah apa benar saya sudah mencintai Pak Kabir yah? Apa jangan-jangan ini semua respon atas sikapnya yang begitu lembut memperlakukan Aku?
Segala macam pertanyaan dan pikiran muncul dibenaknya Senja. Ia kebingungan dengan perasaannya sendiri. Tetapi, satu hal yang sangat diketahuinya adalah ia tersenyum gembira ketika melihat Kabir ada di atasnya.
Kabir yang melihat Senja langsung terdiam merasa sedih,ia menganggap jika Senja hanyalah kebetulan mengatakan hal semacam itu yang sejak lama sedari awal mereka menikah sampai jalan enam bulan usia pernikahan keduanya hari ini.
"tidak perlu jawab pertanyaan aku jika kamu kesulitan untuk menjawabnya," ucapnya sendu Kabir yang segera bangkit dari posisinya semula.
Kabir meraih pakaiannya yang teronggok di atas lantai keramik, hatinya sangat hancur, sedih, kecewa, sakit hati karena Senja belum mencintainya sebagai suaminya itu.
Senja segera bangkit dari rebahannya itu dan berjalan terburu-buru ke arah Kabir dengan kepalanya yang sedikit pusing itu, hingga kakinya tersandung dengan bedcover yang terjatuh ke atas lantai, karena tidak berhati-hati berjalan.
"Aahhh tolong!!" jeritnya Senja yang terjatuh ke atas lantai.
Kabir yang hendak berjalan ke arah kamar mandi segera menolehkan kepalanya ke arah Senja yang sudah tersungkur ke atas lantai dalam keadaan tanpa memakai busana apapun itu.
"Senja!!" jeritnya Kabir.
yang segera berlari cepat ke arah istrinya yang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja m Senja tak sadarkan diri. Kabir sudah memangku istrinya itu dan menyelimuti seluruh tubuhnya Senja dengan selimut berwarna biru muda itu.
Kabir segera menepuk-nepuk pipinya Senja," Senja bangunlah jangan seperti ini,"
"Senja
__ADS_1