
"Bibi Aminah saja yang belanja karena, aku pikir kita enggak punya banyak waktu lagi untuk berbelanja, lihat jamnya sudah hampir jam sebelas siang," ucapnya Jingga sambil melihat ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu.
"Atur saja bagaimana baiknya kak, saya nurut saja apa yang menurut kakak baik," ucapnya Senja sebelum masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh kakaknya sendiri.
Rencana awalnya Bu Hanin Mazaya akan menjemput Senja di rumah sakit, tapi tidak jadi karena ia harus segera terbang ke Luar negeri setelah mendapat telpon dari assisten kepercayaannya yang ada di luar negeri.
Baru beberapa menit mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang saja membelah jalan ibu kota Jakarta. Tiba-tiba telponnya berdering, Senja segera merogoh tas handbagnya itu yang tergeletak di atas dasboard mobilnya.
Senja yang menatap ke arah luar belum menyadari dengan suara dan deringan telponnya itu.
Apa yang terjadi padamu dek, kenapa kamu kembali kebanyakan terdiam saja tanpa berniat untuk berbicara terbuka padaku.
Aku pasti tidak salah lihat tadi, aku yakin itu Icha. Aku tidak sabar menunggu hari esok,tapi jika aku bertanya langsung padanya lewat telpon pasti tidak akan baik hasilnya.
Gimana kalau aku hubungin saja nomor ponselnya, terus aku memintanya untuk datang ke rumah entar sore saja.
Senja pun merogoh tasnya dan kebetulan ia merasakan hpnya bergetar. Ia secepatnya mengambil hpnya dan mengecek siapa orang yang menghubungi nomor ponselnya itu.
"Astaughfirullahaladzim bunda Hanin," cicitnya Senja yang melihat layar ponselnya jika Mama mertuanya itu menghubungi nomornya sudah lebih dua sepuluh kali.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya Jingga yang masih fokus menyetir mobilnya itu.
Senja mengarahkan layar ponselnya ke hadapan kakaknya itu," bunda Haning," jawabnya Senja.
"Kamu angkat saja siapa tahu sangat penting," imbuhnya Senja.
Senja pun segera mengangkat telponnya Bu Hanin karena dia juga khawatir entah apa penyebabnya mertuanya itu menghubunginya karena terakhir kabar yang dia dapatkan adalah Bu Hanin ke Tokyo Jepang.
"Assalamualaikum bunda," sapanya Senja.
"Waalaikum salam Nak, kamu gimana sekarang apa sudah balik ke rumah?" Tanyanya Bu Hanin.
"Alhamdulillah sudah di jalan bun, ini baru mau balik. Kenapa emang bunda?" Tanyanya balik Senja.
"Tidak apa-apa kok sayang, hanya saja pengen denger kabar kamu dan calon cucunya bunda, apa kamu sudah periksa kehamilan kamu sebelum balik ke rumah?" Tanyanya lagi Bu Hanin.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah Bun, katanya calon bayiku baik-baik saja dan dalam keadaan sehat, kalau bunda gimana kabarnya, apa sudah sampai di Jepang?" Tanya balik Senja Starla.
"Alhamdulillah bunda baru nyampe di bandara internasional Tokyo nih,tapi ingat dengan menantu dan calon cucunya bunda jadi segera menelpon kamu," tuturnya Bu Hanin.
Padahal alasan yang paling tepat adalah, Kabir Kasyafani baru-baru saja menelponnya untuk meminta bantuan agar bertanya mengenai kondisi terakhirnya Senja dan anaknya mereka.
Aku sudah yakin ada yang terjadi pada mereka, tapi bunda tidak ingin mencampuri urusan kalian.
Jika esok hari ada yang terjadi masalah yang tidak bisa kalian kendalikan sendiri, barulah bunda turun tangan. Karena menurut bunda ini hanya masalah kecil dan salah paham saja.
Bunda yakin suatu saat nanti kalian akan menemukan solusi yang terbaik dan paling tepat dari permasalahan ujian cinta kalian.
Senja menautkan kedua alisnya karena tiba-tiba Mama mertuanya terdiam tanpa suara dan kata lagi.
"Halo! Bunda masih dengar gak suaraku?" Senja sedikit mengeraskan suaranya itu.
Bu Hanin tersentak kaget karena sedang memikirkan masalah apa sebenarnya yang membuat Kabir memutuskan untuk tinggal di New York Amerika Serikat selama kurang lebih tujuh bulan lamanya di sana.
"Eh telponnya masih tersambung kok mungkin tadi hanya pengaruh sinyal saja," kilahnya Bu Hanin.
"Mungkin juga Bunda,"balas Senja.
"Kalau gitu hati-hati Bunda, assalamualaikum," ujarnya Senja sebelum memutuskan sambungan telepon.
"Waalaikum salam," jawab Bu Hanin Mazaya sambil menaruh ujung gedjetnya di ujung dagunya itu.
"Nyonya besar kita langsung ke apartemen atau mau langsung ke perusahaan?" Tanyanya Pak Koda Naroka sang asisten pribadi yang merangkap supir pribadinya selama dia berada di Tokyo.
Hanin menatap lurus ke depan sebelum menjawab pertanyaan dari sang asisten," kita langsung ke perusahaan saja," Jawab Bu Hanin yang juga berbicara dalam bahasa Jepang.
Mobil segera melaju dengan kecepatan yang cukup sedang sedangkan Bu Hanin tidak habis pikir kenapa mantan kekasihnya sejak masih muda dulu berniat untuk menanamkan saham dan modalnya di anak cabang perusahaan-perusahaannya yang ada di Korea Selatan dan juga Jepang.
"Mas David kenapa meski mengincar perusahaan aku yang ada di Jepang, apa sebenarnya motifnya, padahal yang di Jakarta sudah berhasil mendapatkan saham kedua terbesar di perusahaanku entahlah apa sebenarnya tujuan utamanya datang disaat seperti ini,"
"Maaf Nyonya tadi ngomong apa?" Tanyanya Koda Naroka yang melihat Bu Hanin melalui kaca spion mobil yang dikendarainya itu.
__ADS_1
Bu Hanin menggelengkan kepalanya," saya tidak apa-apa kok kamu jalankan saja mobilnya supaya lebih cepat sampai di perusahaan," perintah Bu Hanin tanpa ekspresi apapun.
Sedangkan di belahan negara lain seorang pria yang baru saja mengadakan rapat penting duduk termenung dengan tangannya bertopang di dagunya itu.
Senja Starla Airen abang sangat merindukanmu,baru sehari saja aku tidak mendengar suaramu aku seperti orang gila yang kehilangan akal sehat dan tujuan dalam hidup.
Senja kenapa kamu menghukum abang seperti ini,apa salahku padamu Senja, abang sangat membenci keadaan seperti ini.
Abang hanya berharap semoga saja tujuh bulan ini abang bisa lalui tanpa kehadiran dirimu menemani hari-harinya Abang.
Satu bulan kemudian…
Hari ini Senja kembali beraktifitas seperti biasanya,masa kehamilannya sungguh membuatnya semakin eksaitik dan bersemangat. Jika ada yang melihatnya pasti tidak akan menduga jika perempuan lincah, energik dan penuh dedikasi yang tinggi terhadap tanggung jawab dan kewajibannya sebagai anak magang.
Sudah pukul 12.30 waktu yang ditunjukkan oleh jarum jam yang ada di dinding. Tapi, Senja masih saja berkutat dengan laptop dan begitu banyak laporan keuangan yang bertumpu di atas mejanya.
Seorang pria yang sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan oleh Senja merasa tidak enak hati.
Ya Allah kalau tuan muda mengetahui jika Nyonya Senja bekerja seperti ini pasti bisa-bisa aku yang kena marah dan imbasnya.
Tapi, aku juga nggak berdaya karena Nyonya Senja tidak mau istirahat. Padahal tanpa repot-repot dan bersusah payah dia akan mendapatkan nilai yang bagus.
Hakim Rahman salah tingkah karena sudah menegur Senja untuk menghentikan pekerjaannya kebetulan sudah waktunya jam istirahat, tapi Senja bersikeras untuk melanjutkan pekerjaannya beberapa menit lagi.
"Nyonya Senja, ini sudah jam satu siang loh, apa sebaiknya nyonya istirahat dulu,ingat Nyonya itu sedang hamil cucu penerus keluarga Sanders, kalau nyonya seperti ini terus bisa-bisa gajiku dipotong!" Keluhnya Hakim pria yang selalu membantu pekerjaan Senja anak buah khusus dari Kabir.
Pintu tiba-tiba terbuka lebar dan terlihat lah tiga orang perempuan cantik dua tidak pakai hijab dan salah satunya memakai hijab berwarna biru muda.
"Apa yang bapak katakan barusan? Apa kami tidak salah dengar?" Tanyanya Zania Mirzani.
"Iya Pak Hakim Rahman sepertinya Anda tadi menyebut nama Nyonya Senja!" Tanyanya Naysila yang ingin memastikan apakah dia salah dengar saja atau tidak.
Sedangkan Icha tidak berani memandang wajah pria yang begitu ganteng pesonanya dimatanya Icha.
Senja salah tingkah, kelabakan, panik dan tidak menyangka jika pembicaraannya akan terdengar jelas hingga ke telinga ketiga sahabat baiknya.
__ADS_1
Ya Allah kenapa mereka bisa datang ke ruanganku, kalau seperti ini akan semakin sulit untuk merahasiakan status kami berdua.
Senja menyentuhkan wajahnya ke atas tumpukan berkas penting yang sudah pasrah dengan keadaannya.