
Ocean Skala Pratama hendak menemui Jinan, tetapi terhenti ketika melihat Jihan dan juga Gilberto Silva tukang kebunnya.
Jihan datang, sebaiknya aku menunda bertemu dengan Jinan terlebih dahulu. Aku tidak ingin keraguanku dan apa yang akan aku sampaikan kepada Jinan di dengar langsung oleh Jihan.
Ocean memutar tubuhnya dan berbalik berjalan kembali ke dalam rumahnya.
Sedangkan Gibran Mahenza tidak menyangka jika adiknya akan segera menikah di usianya yang masih muda dan juga sahabatnya Alief Naufal.
Apa enaknya menikah muda, kebebasan terenggut. Takutnya Jihan tidak bisa bertanggung jawab kepada suaminya kelak.
Karena itulah aku memilih menikah diusia paling cepat 28 tahun saja.
Jihan tidak memperlihatkan dirinya di hadapan kakaknya. Ia ingin mendengarkan apa selanjutnya yang akan dikatakan oleh Jinan.
Astaughfirullahaladzim, apa Pak Kaisan adalah pria yang pernah diceritakan oleh kak Jinan yang waktu itu pria bule kesasar butuh bantuan dan kak Jinan lah yang menolongnya.
Hemp… kalau gini aku harus bertemu langsung dengan pak Kaisan agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut.
Aku tidak mungkin menikah dengan pria lain, selain bang Gamal Audrey sedangkan di depan mataku terbentang pernikahan kami yang bisa menghancurkan hati kami semua.
Jihan segera meninggalkan taman bunga itu tanpa berniat untuk mendengarkan curhatan kakaknya dengan sebuket bunga tanpa disadari oleh Jinan.
Aku harus segera menghubungi nomor ponselnya Pak Kaisan sebelum terlambat,memang masih butuh waktu sebulan tapi kalau tidak segera dicegah bakal terjadi masalah besar.
Ya Allah… jika memang pak Kaisan adalah bukan jodohku di dunia, maka berikanlah petunjukmu untukku dan hapuslah cinta dan rasa sayangku hanya untuknya selama ini.
Aku tidak mungkin mencintai laki-laki yang sudah menjadi suami dari adikku. Aku tidak ingin menjadi penyebab kehancuran rumah tangganya Jihan kelak.
"Kasihan juga dengan Non Jinan, kalau aku perhatikan arti perkataannya itu seperti orang yang broken heart. Mencintai tapi tidak bisa bersatu. Hemm… kalau gini aku akan belajar bahasa Indonesia dari Mr. Ardi saja," ucapnya sendu Gilbert sang tukang kebun.
__ADS_1
Jihan segera menghubungi nomor ponselnya Kaisan. Sedangkan orang yang sedang dihubungi oleh Jihan sedang melakukan meeting dengan beberapa petinggi perusahaannya.
Semoga saja pak Kai memenuhi permintaan pertamaku ini.
Jihan menscrol layar ponselnya untuk mencari namanya Pak Kaizan calon suaminya itu. Jihan terus berjalan sambil memainkan gedjetnya tersebut. Ketika telponnya terhubung dan orang dibalik telpon mengangkat telponnya itu bibirnya melengkung ke atas.
Drrrt…
Getar ponselnya yang tergeletak di atas meja panjang berbentuk bundar itu membuat semua perhatian orang terarah ke sosok pemimpin perusahaan.
Semua orang tidak ada yang berani berkomentar sepatah katapun karena pekerjaan dan masa depan mereka yang menjadi taruhannya.
Kaisan memberikan kode kepada asisten pribadinya untuk sementara menghentikan kegiatannya meetingnya saat itu juga.
"Assalamualaikum, hallo, ada apa calon bidadari surgaku," sapanya Kaisan setelah menekan tombol hijau di layar gawainya itu.
Senja dan Jingga yang sedang mengatur dan memeriksa beberapa persiapan pernikahannya Alief Naufal Azhar dengan Asminah Meidina. Icha menyenggol lengannya Senja yang berpura-pura tidak melihat kedatangan putrinya.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa meski berlarian, sedari tadi berlari mulu.. apa jangan-jangan dia mau masuk jadi atlet lari dan ikut lomba Asian games," candanya Zania Mirzani yang bergurau di tengah-tengah kesibukan mereka.
"Kamu bisa saja, Jihan itu rencananya mau jadi atlet balap tapi gagal karena tidak dapat restu dari kedua orang tuanya," timpalnya Naysila yang ikut bercanda.
"Wooo amazing banget berarti besok-besok nama dan foto kita akan terpampang di media cetak, elektronik dan pastinya di sosial media kalau seperti ini," cercanya Icha yang sudah tertawa terbahak-bahak.
"Kalian bisa saja bercandanya disaat seperti ini, ayo dilanjutkan pekerjaannya takutnya bunda Hanin datang malah kalian kena marah lagi," sungutnya Senja yang ikut tertawa cekikikan.
Jihan masuk ke dalam kamarnya sambil berbicara dengan Kaisan.
"Apa kita boleh bertemu siang ini?" Tanyanya Jihan bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka.
__ADS_1
Kaisan tersenyum penuh kegembiraan karena untuk pertama kalinya perempuan yang dicintainya itu sepenuh hatinya mengajaknya bertemu.
Inilah cinta yang buta dan aneh, Jinan dan Kaisan bertemu hanya sekali saja tetapi malah saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Bisa, kapanpun itu kau selalu bisa menemuiku, emangnya mau bertemu dimana di kantorku, di rumahku atau di rumahnya nenekmu?" Tanyanya Kaisan yang bangkit dari posisi duduknya sambil kembali memberikan kode kepada Varrel Ibrahim Cowel untuk melanjutkan meeting tersebut tanpa dirinya.
Varel yang mengerti kode dan isyarat dari atasannya itu segera mengambil alih dan suasana sempat ribut dan gaduh setelah kepergian Kaizan,tapi Varrel cukup handal untuk mengontrol dan menenangkan para pemegang saham mayoritas di perusahaan itu.
"Maaf, apa kita boleh melanjutkan rapatnya? Mengenai kepergian CEO kita jangan jadikan penghalang untuk melanjutkan pekerjaan kita," imbuhnya Varel Ibra.
"Jangan di rumahku ataupun di rumah bapak, gimana kalau kita ketemuannya di kafe dekat kantornya bapak lebih dekat dari rumahku, bapak juga tak perlu buang-buang waktu untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh," jelasnya Jihan yang menggoyang tangannya seolah Kai berdiri langsung di depannya.
Aku harus bertemu dengan pak Kaisan sebelum besok kami brtunangan. Karena kalau sudah bertunangan bertukar cincin tidak ada lagi kesempatan untuk mengubah segala keputusan yang sudah ditetapkan oleh kedua keluarga besar kami.
Kaisan tersenyum mendengar penolakan dari calon istrinya itu,"okey lima belas menit dari sekarang kita bertemu di kafe X jalan XX," ujarnya Kaisan yang segera menekan tombol merah di layar telepon genggamnya itu.
Jihan pun mengganti pakaiannya dan mengambil secara acak pakaiannya di dalam lemari pakaiannya.
Sedangkan di dalam ruangan tepat di dalam ruangan pribadinya Kai,dia sedang mengganti pakaiannya kerjanya dengan pakaian kasual yang lebih santai. Ia kebingungan untuk memilih pakaian mana yang akan dipakainya. Sikapnya Kaisan terlalu kelihatan jelas jika dia baru kali ini merasakan jatuh cinta.
"Aku bingung harus pakai yang mana? Andaikan aku tau kalau Jihan ingin mengajakku ketemuan pasti aku akan melakukan persiapan seperti beli pakaian baru mungkin."
Kaisan mengacak-acak isi dalam lemarinya itu dan berulang-ulang mengambil pakaian yang dirasanya cocok dan pantas. Tapi, sudah sekitar sepuluh menit memilih baju, tapi belum ketemu yang pas menurutnya.
"Ya Allah kenapa aku sangat nervous dan grogi memikirkan bakal apa yang terjadi kepada pertemuanku ini dengan calon istriku," cicitnya Kaisan yang sudah membuat kamar pribadinya itu menjadi berantakan.
Kamar yang ada di kantornya sering dijadikan tempat melepas lelah dan penatnya sudah kacau. Ke sana kemari berhamburan pakaian yang sudah dicobanya tapi tidak cocok menurut pengamatannya.
"Sial! Kenapa aku seperti ini entah kenapa aku seperti takut tampil bagus di depan Jihan. Aku takut jika Jihan mencela style aku kali ini," lirih Kaisan yang mengusap wajahnya dengan gusar saking frustasinya.
__ADS_1