Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 97. Pertolongan Yang Tepat


__ADS_3

Pintu itu terbuka lebar masuklah Jingga sambil memapah tubuhnya Guntur yang sudah tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Kenapa tubuhku panas sekali," keluhnya Guntur.


"Sabar yah pak Gun, saya akan membantu bapak untuk menghilangkan rasa aneh ini dari tubuhnya bapak," imbuhnya Jingga.


Tapi, kakinya Jingga yang terburu-buru itu tersandung pintu sehingga tubuh keduanya oleng dan ambruk. Apalagi Jingga sudah cukup kelelahan naik dari lantai lima hingga ke lantai lima belas dengan memakai tangga darurat dan melawan serta menghadapi dua orang penjahat semakin menambah rasa lelah dan capeknya.


"Aghh!!" Jeritnya Jingga hingga memenuhi ruangan hotel bintang lima tersebut.


Tubuhnya Jingga terjatuh di bawah tubuhnya Guntur sedangkan psoisi terjatuhnya cukup ambigu dan membuat siapapun yang melihatnya akan salah paham padanya.


Keduanya bukannya bangkit dari posisi baringnya malahan saling bertatapan satu sama lain. Seolah mereka saling menyelami kedalam bola matanya yang begitu indah dan cukup besar dibandingkan dengan ukuran bola mata orang pribumi asli.


Bulu matanya yang lentik dan panjang hitam legam itu semakin membuat pria manapun yang melihatnya akan ketagihan dan jatuh kedalam pesona keindahan telaga yang tidak berujung.


Ya Allah kenapa aku suka banget melihat wajahnya, bentuk alis mata yang tegas bak orang Eropa Barat. Hidung mancungnya dan bibir tipisnya yang semakin membuat wajahnya semakin sedap dipandang mata.


Sial ternyata wajahnya sangat cantik apabila diperhatikan dalam jarak sedekat ini. Aku entah kenapa sangat nyaman dan damai melihat wajahnya yang sungguh cantik.


Nafas keduanya sama-sama ngos-ngosan dan tersengal-sengal. Mereka tidak ada yang ingin berinisiatif lebih duluan mengakhiri kegiatan mereka sebelum Jingga tersadar dengan kesalahannya sendiri.


Kedua telapak tangannya Guntur tidak bisa dia kondisikan sehingga menempel dan menekan dengan tepat sebuah benda yang cukup kenyal dan ukurannya lebih kecil dari kepalan tangannya Guntur.


Hingga suara Guntur mampu membuat keduanya segera mengakhiri apa yang sedang sementara terjadi.


"Aahh pak Guntur Aswin Nasution tangannya pak!" Pekiknya Jingga.


Guntur reflek melepaskan tangannya dari atas benda yang cukup empuk sehingga membuat Guntur untuk enggan mengakhiri apa yang dilakukannya dan kebetulan menjadi zona ternyamannya saat ini.


"Maaf, saya enggak sengaja, sumpah!!" Guntur segera mengangkat tangannya ke atas setelah memegangi semangka baru yang sama sekali belum dipetik.

__ADS_1


"Maaf… maaf percuma pak minta maaf kejadiannya sudah terjadi juga," ketusnya Jingga.


Guntur segera bangkit dari posisi baringnya tepat di atas tubuhnya Jingga dengan memperlihatkan wajah keduanya yang memerah saking malunya dengan kejadian yang barusan terjadi. Suasana jadi canggung setelah kejadian itu.


"Kalau bapak merasa baikan saya permisi dulu, bapak sudah aman dan insha Allah Tania kekasihnya bapak tidak akan mengganggu kenyamanan bapak Guntur lagi, saya permisi assalamualaikum," ucapnya Jingga segera berjalan ke arah pintu.


Guntur menatap ke arah kepergian Jingga yang tersenyum penuh arti melihat kepergian Jingga. Tapi teriakannya Guntur yang tiba-tiba membuat langkah kakinya Jingga reflek terhenti.


"Argh sakit!!" Keluhnya Guntur yang memang sebenarnya kondisi tubuhnya tidak dalam keadaan yang normal.


Tetapi, Guntur ingin memanfaatkan kejadian ini agar terus bersama dengan Jingga jodoh yang diamanahkan kepadanya. Jingga spontan menghentikan langkahnya itu dan berputar arah segera berlari ke arah Guntur.


"Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi pada bapak? Apa ada yang sakit?" Tanyanya Jingga dengan penuh selidik.


"Apa kamu bisa membantuku ke kamar mandi aku ingin berendam di dalam bathtub untuk segera meredam rasa panas ditubuhku," pintanya Guntur.


Obat aprodiks yang diberikan oleh Tania dengan dosis yang cukup tinggi mulai bereaksi kembali.


"Bapak kalau tidak tahan setelah merendam diri bapak di dalam air dingin, cara terbaik adalah melukai tubuh bapak untuk meredamnya karena bapak masih single dan tidak mungkin dengan saya kan pelampiasannya," terangnya Jingga.


Makin kesini makin terlihat cantik saja, apalagi setelah aku mengetahui jika almarhum Abdil Pramudya mengamanahkan padaku untuk menikahi Jingga Starla Airen Zain Pratama.


Keduanya segera berjalan ke arah kamar mandi, Jingga kembali membantu Guntur untuk naik ke dalam bathtub. Setelah Jingga mengisi penuh air dingin Jingga mengecek airnya apa sudah cukup dingin atau belum.


Tangannya Jingga dia ambil kembali setelah dirasanya sudah cukup dingin untuk membantu meredakan rasa yang dirasakan oleh Guntur.


"Masuklah pak Gun, insya Allah tubuh bapak akan kembali normal, aku akan segera mencari bantuan atau menghubungi kelurga bapak dan juga dokter karena takutnya masalah serius ini tidak bisa pecah tanpa penanganan dokter secepatnya," jelasnya Jingga.


Guntur memakai pakaian lengkap untuk berendam sedangkan Jingga segera berjalan ke arah luar untuk meminta bantuan.


Aku harus menghubungi mama dan papa agar mereka tidak ada yang khawatir. Aku yakin mereka pasti sudah mencemaskan keadaanku ini.

__ADS_1


Jingga mempercepat langkahnya menuju ke lift dan tidak lupa mengunci rapat pintu itu agar tidak ada lagi orang yang berniat jahat kepada Guntur.


Jingga menghubungi nomor ponselnya mamanya Aliya dan mengatakan jika dia pulang lebih awal, karena kondisi kesehatannya tidak baik.


"Assalamualaikum ma, aku pulang duluan yah, soalnya aku enggak enak badan sepertinya," ucap Jingga setelah telponnya tersambung.


"Waalaikum salam, pantesan aku tidak melihat kamu lagi nak, tapi kamu nggak apa-apa pulang sendiri ke rumah, kalau butuh ditemani. Mama akan segera meminta kepada pamanmu Luthfi untuk mengantar kamu pulang terlebih dahulu, nggak enak kalau mama pulang lebih awal soalnya," tuturnya Aliyah.


Kamu gadis yang baik hati rela menolongku untuk kedua kalinya tanpa imbalan sedikitpun.


Pantesan kedua orang tua dan segenap anggota keluarganya almarhum Abdil sangat menyukaimu dan sangat tidak rela kehilanganmu.


Untungnya ada Jingga yang menolongku, jika tidak aku tidak akan mengetahui apa yang terjadi padaku.


Tapi aku pastikan Tania akan menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya padaku.


Guntur memukul dengan kuat permukaan air sehingga gemericik air mengenai wajahnya yang sedikit pucat.


Sial!! Kalau seperti ini aku harus bermain singel untuk pertama kalinya dalam hidupku.


Kata orang enaknya dan rasanya beda kalau dengan seseorang yang kita cintai dan bandingkan dengan berolahraga tangan.


Kalau seperti ini pasti akan tersiksa, aku harus segera melamar Jingga untuk aku nikahi segera.


Tidak mau hidup seperti ini, Kabir saja sudah nikmati indahnya punya pasangan suami-istri sedangkan aku yang lebih tua dari dia tapi masih membujang.


"Iya ma maafkan Jingga yah, kalau ada yang nyariin bilang saja aku balik duluan, titip permintaan maafku pada Senja, kalau gitu udah dulu aku mau balik soalnya, aku mau jalan assalamualaikum," ujarnya Jingga yang segera mematikan sambungan teleponnya.


Dia tidak ingin ketahuan jika sedang menghadapi masalah dan juga ia ingin menghubungi nomor hpnya Dokter kenalannya sebelum terlambat.


"Iya benar sekali dokter, tolong cepat lah datang kasihan temanku Dok," mohonnya Jingga.

__ADS_1


Setelah menelpon nomor ponselnya seorang Dokter, dia menunggu Adrian untuk membawa barangnya seperti pakaian ganti, handbag, sepatu high heelsnya dan juga tentunya bala bantuan.


Sedangkan di dalam pesta resepsi pernikahan Akbar dan termegah dan termewah bulan ini tidak terganggu dengan aksi heroik penyelamatan yang dilakukan oleh Jingga.


__ADS_2