
Jihan berjalan ke arah pintu masuk wahana London eye. Tapi, langkahnya terhenti ketika tepat di depan pintu masuk.
"Maaf tiketnya dimana?" Tanyanya seorang pria bertubuh tinggi tegap yang bertugas memeriksa dan mengambil tiket pengunjung yang ingin masuk ke wahana itu.
Jihan merutuki dirinya sendiri saking tidak fokusnya sampai-sampai hal penting seperti itu tidak bisa diingatnya, hingga dia kali ini teledor. Padahal kebiasaan Jihan tidak seperti ini dalam kesehariannya.
Jihan menepuk jidatnya saking gegana, galau, sedih, kecewa dan sakit hati sehingga semuanya terlupakan olehnya. Jihan tersenyum malu, karena tas handbag serta ponselnya dilupakannya.
Jihan terkekeh mendengar perkataan dari pria itu,"Maaf aku lupa," ucapnya Jihan dengan malu-malu.
"I'ts okey," balasnya pria.
Jihan segera berbalik badan ke arah belakang dan hendak mengambil tas dan ponselnya di dalam mobilnya. Tetapi, langkanya terhenti yang baru saja berbalik badan itu.
"Ini tiketnya Nona ini Pak," ucapnya seorang pria.
Jihan melihat ke arah sumber suara itu dan cukup terkejut melihat siapa orangnya hingga mulutnya menganga dengan alis berkerut.
"Itu untukku?" Tanyanya Jihan seraya menunjuk ke arah dadanya sendiri.
Pria itu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya itu.
"Tapi," ucapnya Jihan terpotong.
"Enggak ada tapi-tapian atau kamu mau ketinggalan permainannya," tuturnya pria yang belum dikenal namanya langsung menarik tangannya Jihan setelah menyetor tiketnya yang dibutuhkan.
Jihan hanya menautkan kedua alisnya sambil mengikuti langkah kakinya pria itu tanpa banyak protes ataupun sepatah katapun tak terucap di bibirnya.
"Namaku Faiaz Albar Wilson namaku," ucap Pria itu yang memperkenalkan namanya tanpa ditanya terlebih dahulu oleh Jihan.
Faiaz terus berjalan melewati beberapa kerumunan orang-orang dengan terus menarik tangannya Jihan yang sangat patuh itu.
"Maaf, apa aku bertanya kepada Anda namanya siapa? Enggak kan! Jihan melepaskan pegangan tangannya Faias dari genggaman tangannya. " Masalah mengenai tiketnya aku akan ganti. Aku hanya lupa membawa dompet dan hpku." Ketusnya Jihan.
__ADS_1
"Aku hanya sekedar informasi saja mungkin butuh dan bisa saja kamu pengen mengetahui namaku," tukasnya Faiaz yang sudah mencari latar belakang keluarga Jihan dan identitas pribadi Jihan.
Kamu adalah cucunya Kakek Septa Danu Triadji temannya opaku. Kalau enggak salah salah satu dari kalian akan dijodohkan denganku kelak seperti yang dikatakan baru-baru ini oleh kakek dan opaku.
Besok kamu akan menikah, tapi kalau kamu akan menikah terus siapa pria yang membuatmu menangis di hotel tadi yah?
Zayden sepertinya melupakan hal yang sangat penting. Aku harus mengirimkan chat kepada Zayn untuk bertanya siapa pria yang membuatmu menangis.
"Kamu butuh atau tidak, tidak masalah bagiku yang paling penting kamu harus mengetahui siapa namaku. Supaya esok atau lusa aku tidak perlu bertanya lagi padamu," tuturnya Faiaz lagi.
"Memangnya siapa juga yang mau bertemu dengan kau! Aku tidak butuh bertemu denganmu. Bisa saja diriku terkena sial jika bertemu dirimu untuk ketiga kalinya," Jihan menjeda perkataannya itu sambil melihat ke sekelilingnya.
Jihan kemudian menaikkan dua jarinya tepat ke depan matanya Faiaz," cukup dua kali saja kita bertemu! Jangan ditambah lagi untuk ke depannya stop cukup hari ini!" Tegasnya Jihan yang segera meninggalkan tempat tersebut dimana mereka berdebat.
Faiaz hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan judesnya Jihan dan tidak berkata apa-apa lagi. Jihan melenggang pergi dari tempat itu tanpa peduli dengan tanggapan dari Faiaz.
"Jihan Yuanni Ulli Triadji, aku yakin kita akan bertemu kembali dan saat itu kamu tidak akan mengelak dari pertemuan kita!" Teriaknya Faiaz yang sengaja mengeraskan suara teriakannya tapi menggunakan bahasa Indonesia.
Dia pintar berbicara bahasa Indonesia, siapa sebenarnya Pria itu dan dari mana dia tau namaku? Padahal pertemuan kami baru dua kali itupun hanya sekejap mata saja.
Ahh! Sudahlah bukan saatnya untuk memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Sebaiknya segera ke wahana sebelum dimainkan.
Jihan segera berjalan cepat ke arah tempat wahana London Eyes. Dia duduk dan mulai memperbaiki duduknya itu. Dia kembali teringat masa-masa setahun lalu, ketika Gamal Audrey mengajaknya menaiki wahana tersebut bersamanya.
Air matanya tiba-tiba jatuh tak terasa saking sedihnya sampai-sampai tidak mengetahui siapa orang yang sudah duduk di hadapannya.
Bang Gamal, aku tidak menyangka jika hubungan kita haruslah berakhir. Aku tidak menduga jika kamu selingkuh padaku bahkan sudah menikah dengan wanita lain yang lebih tua usiaku dariku.
Jihan menengadahkan kepalanya ke arah atas agar air matanya bisa berhenti menetes. Karena saking berusaha ditahannya itu, semakin deras pula laju air matanya yang semakin beranak sungai.
Suara Isak tangisannya terdengar begitu jelas hingga dia cukup malu, karena baru tersadar jika ada orang lain bersamanya di dalam bilik London eye itu.
Orang itu menyodorkan selembar sapu tangan berwarna biru langit itu ke hadapannya Jihan, tanpa menolehkan kepalanya ke arah orang itu,ia mengambil tanpa menunggu lama.
__ADS_1
Jihan mengusap wajahnya dengan kasar dan tidak lagi peduli dengan riasan make-upnya atau letak hijab nya lagi.
"Percuma saja laki-laki brengsek dan bajingan seperti dia kamu tangisi! Air matamu terlalu berharga untuknya," pria itu berujar.
Jihan mendongakkan wajahnya ke arah orang yang berbicara yang dari suaranya sangat jelas, jika orang itu adalah seorang pria.
"Kamu lagi!!" Kesalnya Jihan.
"Kan tadi aku bilang padamu kalau kita bakal bertemu kembali. Sekarang aku buktikan padamu perkataanku itu," tegas Faiaz.
Tepat sekali dia adalah Faiaz yang sedari keluar dari hotel milik sahabat kakeknya dimana kekasih pujaan hatinya memesan hotel untuk menginap beberapa hari karena menikmati liburan bulan madunya itu.
"Aku sungguh terkadang heran dengan orang-orang yang membuang waktu hanya mengusik ketenangan orang lain saja!" Ketus Jihan.
"Aku tidak pernah buang-buang waktuku, karena sejujurnya waktuku itu sangat berharga termasuk saat ini waktuku sangat berharga untuk menemani calon bidadari surgaku," tuturnya Faiaz.
Jihan melototkan matanya dan mulutnya menganga mendengar perkataan dari Faiaz.
"Ya Allah ya Rob salah apa aku! Kenapa aku bertemu dengan laki-laki aneh macam dia!" Jeritnya Jihan yang ingin berdiri dari duduknya dan mencoba untuk berganti bilik, tapi upayanya terhenti ketika mesin wahana itu sudah berjalan.
Hingga tubuhnya oleng dan bergoyang karena kakinya tidak berpijak dengan baik di atas lantai.
"Aargh!" Jerit Jihan yang tubuhnya sudah terjatuh ke atas tubuh seseorang yang berusaha menolongnya.
Tubuhnya Jihan terjatuh tepat di atas tubuh dada bidangnya Faiaz dan kedua tangannya bertumpu di dada bidangnya Faiaz.
Faiaz menatap tajam ke arah dalam bola matanya Jihan yang sebening embun pagi secerah sinar mentari. Apa yang dilakukan oleh Faiaz tidak jauh berbeda dengan kondisi Jihan. Dia menatap ke dalam netra hitamnya Faiaz yang bermata hazel itu.
Sedangkan di tempat lain, Senja sudah mondar mandir kesana kemari menunggu kepulangan kedua putri kembarnya yang belum muncul juga.
"Ya Allah kemana perginya Jihan, kenapa belum pulang juga padahal berangkatnya dari tadi siang," keluh Senja yang berdiri kesana kemari di depan ambang pintu.
Zania Mirzani, Icha, Hana, Jingga, Naysila serta kedua kakek neneknya Jihan menunggu kedatangan kedua anak kembar itu dengan geleng-geleng kepala melihat Senja yang seperti setrikaan kesana kemari.
__ADS_1