
Guntur tidak menyangka jika dibalik pakaian yang sedikit longgar sering dipakai oleh Jingga istrinya tersimpan rapat dan terlindungi bentuk tubuh yang molek, dengan size dadanya dan bok*ngnya yang membuat Guntur kesulitan untuk menelan air liurnya sendiri.
Ternyata istriku sangat pintar menutupi seluruh bodynya yang aduhai cantiknya bahkan dia menghadiahkan semuanya khusus untuk suaminya seorang.
Aku tidak salah melabuhkan hatiku padanya, walau aku sudah tahu jelas siapa pria yang saat ini masih dicintainya, tapi aku bersyukur karena aku menjadi pria pertama dalam hidupnya.
Ketika aku berbisik di telinganya dan meminta hakku, aku perhatikan perubahan raut wajahnya, dari kaget berubah menjadi bersemu merah.
Tanpa ragu dan tanpa banyak mikir dia langsung mengiyakan permintaan aku dimalam pertama, aku berhasil unboxing tanpa banyak drama.
Ketika aku menggenjot tubuhnya aku melihat dia sesekali menggigit kecil ujung bibir bawahnya itu, tapi aku hendak ingin berhenti, tapi ia mengatakan lanjut saja mas.
Guntur tidak bisa memejamkan matanya setelah kegiatan panas kedua pasangan suami istri pengantin baru itu. Sedangkan Jingga sudah terlelap dalam tidurnya, saking lelahnya melayani kebutuhan suaminya.
Guntur bolak balik tapi kedua pasang matanya belum bisa terpejam juga. Apalagi ketika melihat Jingga yang belum memakai pakaian apapun.
Dia ingin kembali menerjang istrinya, tapi mengingat Senja yang kecapean sehingga Guntur mengurungkan niatnya. Ia bangkit dari posisi duduknya dan segera berjalan ke arah kamar mandi. Ia ingin mengguyur sekujur tubuhnya dengan air hangat agar mereda keinginannya.
Sial!! Apa seperti ini rasanya memiliki seorang istri? Pantesan banyak banget teman yang buru-buru nikah karena takut berzinah dan nikmatnya begitu menenangkan jiwa dan raga.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, Guntur pun sudah terlelap dalam tidurnya. Mengikuti jejak istrinya itu.
Ayam jantan berkokok lantang pertanda fajar telah menyingsing di ufuk timur. Sang cakrawala telah memperlihatkan tajinya. Embun di daunan pun terlihat seperti malu-malu terkena paparan sinar mentari pagi.
Jingga sudah terjaga dari tidurnya, tangannya Guntur yang melingkar diperutnya perlahan diturunkannya. Dia melihat suaminya masih tertidur pulas.
Jingga gegas berdiri dari posisi duduknya karena melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima lewat. Dia tidak ingin ketinggalan shalat subuh pagi itu.
Ada sedikit aneh yang dirasakan oleh Jingga ketika turun dari ranjang, terutama dibagian sensitifnya. Dia meringis ketika ada rasa perih di daerah bagian paling sensitifnya.
Katanya orang berhubungan int*m itu sangatlah menyakitkan, tapi bagiku sakitnya tidak sebanding dengan rasa enaknya, cukup lumayan melelahkan juga.
Walaupun aku belum mencintaimu mas Guntur, tapi sebagai istrimu aku tetap harus menjalankan kewajibanku dan tanggung jawabku sebagai seorang istri.
Berselang beberapa menit kemudian, Jingga menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, kebetulan hari ini masih libur. Untungnya asisten pribadinya membawakan beberapa potong pakaian hari-harinya khusus untuk Guntur.
Semoga saja mas Guntur menyukai pakaian yang aku pilihkan, aku ke bawah dulu. Enggak enak kalau semua menu sarapan untuk mas Guntur dimasak oleh Bu Minah.
Jingga berjalan meninggalkan Guntur yang sebenarnya sudah tidak tertidur lagi, hanya berpura-pura saja. Dia sudah bangun tidur setelah merasakan istrinya bangkit dari baringnya.
__ADS_1
Makasih banyak Jingga istriku,kamu sudah menjaganya dengan baik dan sepenuhnya memberikan hanya untukku seorang.
Aku semakin mencintaimu istriku, semoga saja kamu juga segera mencintaiku dan namaku mampu menggantikan posisinya Abdil Pramudya, tapi dihatimu hanya ada namaku seorang Guntur Aswin Nasution saja hingga akhir hidupmu dan diujung nafasmu.
Jingga mau kemana? Apa dia akan ke mana pagi-pagi begini?
Guntur segera menyibak selimutnya dan berlari cepat ke arah kamar mandi. Dia baru tersadar ketika melihat apa yang dipakainya, hanya celana underwear saja.
"Astaughfirullahaladzim, kenapa aku sampai lupa jika aku hanya memakai celana pendek saja! Untungnya Jingga ndak ada di dalam sini," cicitnya Guntur yang segera ngacir ke dalam kamar mandi.
Sedangkan di dalam ruangan dapur, Jingga dan mamanya Aliya serta bibi Minah sedang berkutat di depan kompor. Ada yang meracik bumbu dan ada pula yang sedang mengaduk-aduk makanan yang mendidih dan asapnya mengepul hingga ke udara.
"Sayang apa suamimu sudah bangun tidur?" Tanyanya Aliya yang mengarahkan pandangannya ke arah putri sulungnya tepatnya ke arah sang pengantin baru.
Aliya mengaduk makanan yang dimasaknya ketika melihat kedatangan anak pertamanya.
"Mas Guntur masih tidur ma, kenapa emangnya?" Tanyanya balik Jingga.
"Cuma mau tau saja,apa dia mau sarapan bareng dengan kita semua atau mau diantarkan makanannya ke dalam kamar," imbuhnya Aliya.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot kok ma,lagian dia kan sehat bugar kenapa meski segala diantarkan makanan ke dalam kamar,manja banget ma suamiku kalau seperti itu," tampiknya Jingga yang mengiringi candaan membalas perkataan dari mamanya tersebut.
"Sepertinya itu terbalik ma, seharusnya kak Jingga yang harus beristirahat di kamar,kan baru selesai unboxing malam pertama mereka, bukannya malah mas Guntur yang perlu butuh perhatian khusus," sanggahnya Senja yang tersenyum lebar mendengar perkataan dari kakaknya.